Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Panggilan Cinta

Panggilan Cinta

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Rasulullah SAW bersabda: “Artinya: Sesungguhnya Allah jika mencintai seorang hamba, Ia memanggil Jibril, “Sesungguhnya Aku mencintai si fulan, maka cintailah ia.”Lalu Jibril mencintainya dan menyeru kepada penduduk langit, “Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah ia.”Maka (penduduk langit) mencintainya, kemudian menjadi orang yang diterima di muka bumi.” [Hadits Bukhari dan Muslim)

Di antara sifat-sifat muslim yang dicintai oleh orang-orang shalih di muka bumi ini, di antaranya ia mencintai mereka karena Allah, berakhlaq kepada manusia dengan akhlak yang baik, memberi manfaat, melakukan hal-hal yang disukai manusia dan menghindari dari sikap-sikap yang tidak disukai manusia.

Ungkapan cinta tidak mesti harus memberi bunga mawar atau memberi kado spesial. Ungkapan cinta juga bisa dilakukan dengan memberikan panggilan yang menyanjungnya meski ia tak mengharap sanjungan kita.

Ukhuwah ini bagaikan simpul-simpul yang semakin kencang dan menguatkan, saling hormat dan menghargai sesama menjadi kunci keharmonisan hubungan kita. Begitu juga ketika saudara kita (ikhwah) menyapa saudara kita yang lain maka sapaan itu adalah sapaan penghormatan. Ralat bukan penghormatan tapi lebih tepatnya kasih sayang berlandaskan cinta karena Allah SWT.

Suatu ketika penulis di undang di acara nasional beberapa hari di Depok yang diadakan oleh struktur pusat. Ketika bertemu di pintu gerbang ataupun di meja registrasi senyum hangat langsung mengembang dari bibir panitia dan tamu undangan yang berpapasan. Setelah mengucap atau membalas salam dengan spontan mereka menjawab “selamat datang ustadz, ….” Padahal muka penulis masih terlihat lebih muda dari peserta lainnya atau bahkan lebih muda dari panitia, meskipun tidak berdahi hitam dan tidak berjenggot, tapi dengan spontan mereka menyapa dengan sebutan ustadz. Begitulah ukhuwah di antara kita, begitu hangat dan mengakrabkan.

Dalam kamus tarbiyah banyak sebutan kehangatan, penghormatan, kasih sayang atau bahkan kekeluargaan yang ditujukan pada saudara kita. Selain panggilan Murabbi dan Musyrif. Berdasarkan sudut pandang penulis ada beberapa macam panggilan yang lazim digunakan berdasarkan tingkatannya.

  1. Panggilan penghormatan untuk orang yang lebih muda biasa memanggil dengan awalan Akhi dan ukhti atau panggilan umum lainnya yaitu Mas dan Mba untuk orang yang baru kita kenal.
  2. Panggilan sesama (seumuran) sebagai bentuk penghargaan saudara semuslim maka panggilan yang akrab adalah Akhi dan ukhti.
  3. Panggilan Kepada orang yang lebih tua bisa dipanggil mas/mba, bapak/Ibu, atau bahkan dipanggil ustd.

Awalan dalam memanggil seseorang biasa mempengaruhi mood dari seseorang yang dipanggil. Berbeda rasanya ketika dipanggil dengan awalan di atas dibandingkan dengan menyebut namanya secara langsung.

Berdasarkan tingkatan di atas, sangat janggal kelihatannya jika kita memanggil orang yang lebih tua dengan sebutan Akhi atau ukhti saja, karena secara etika panggilan tersebut harusnya ditujukan untuk orang yang seumuran kita atau lebih tidak hormat lagi ketika menyebut nama langsung. Menurut saya ini Perkara akhlak, karena panggilan adalah sesuatu yang spontan ketika kita ingin menyapa seseorang yang lain. Memanggil Murabbi sendiri dengan sebutan Akhi atau ukhti pun menurut saya kurang pas, karena tidak ada rasa penghargaan yang lebih dari kita yang notabene ia adalah pembimbing kita dalam suasana berjamaah meskipun ia tidak ingin dihargai.

Ada beberapa orang yang dalam aktivitas pribadinya jarang menggunakan panggilan penghormatan tersebut, tetapi jika dalam suasana jamaah baik dalam forum, telepon atau SMS (chatting) maka ada yang refleks menyebutnya dengan menggunakan sapaan penghormatan.

Mungkin benar kata orang, “hormatilah orang lain terlebih dahulu jika kita ingin dihormati oleh orang lain”. Rasulullah SAW bersabda Bukan termasuk dari golongan kami orang yang tak menyayangi anak kecil kami & tak menghormati orang tua (orang dewasa) kami. (Tirmidzi 1842)

Allahu’alam bisshawab.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Heri Heryanto
#Konsultan, #Alumni FSLDK, #Melingkar, Pencari Ridho Allah SWT

Lihat Juga

Pernyataan Sikap HIMA PERSIS Terhadap Genosida Muslim Rohingya