Home / Berita / Nasional / Adhyaksa Dault: Sesama Muslim Harus Saling Bantu dan Tolong-Menolong Dalam Kebaikan

Adhyaksa Dault: Sesama Muslim Harus Saling Bantu dan Tolong-Menolong Dalam Kebaikan

Shalat Idul Adha di Masjid Agung Al-Azhar, Kompleks Universitas Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, JUmat (26/10/2012). (TRIBUNNEWS.COM/IMANUEL NICOLAS MANAFE)

dakwatuna.com – Jakarta. Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault mengemukakan minimnya persatuan menjadi faktor penghambat kebangkitan bagi umat Islam yang masih belum optimal dalam memanfaatkan potensi politik dan ekonomi umat Islam.

“Salah satu penghambat kebangkitan Islam adalah tidak adanya persatuan di dalam umat,” kata Adhyaksa Dault saat menyampaikan khutbah Idul Adha di Masjid Agung Al Azhar, Jakarta Selatan, Jumat (26/10).

Menurut dia, sesama muslim seharusnya dapat lebih banyak saling membantu dan tolong-menolong dalam kebaikan dan bukannya saling menjatuhkan satu sama lain.

Ia mengingatkan jamaah peserta ibadah shalat Id untuk mengenang dan merenungkan kembali pengorbanan dan perjuangan para Nabi dan Rasul, serta kalangan Sahabat dan Tabi’in (generasi sesudah Sahabat Nabi) dalam mengukir peradaban manusia.

Adhyaksa juga menuturkan, kota Granada dan Alhambra pada masa lampau juga merupakan bukti kejayaan Islam di Eropa dan bahkan menjadi pencerahan bagi peradaban Barat yang sedang mengalami kegelapan.

“Bisa kita temukan lelaki sejarah yang lain seperti Umar bin Abdul Aziz yang mampu mengubah kondisi ekonomi umat Islam pada saat itu,” katanya.

Menurut dia, setelah Umar memimpin umat dengan menjadi khalifah setelah dua tahun enam bulan, sampai tidak ada seorang pun yang menjadi mustahik (berhak menerima zakat).

Bahkan dari uang zakat itu, lanjutnya, Umar membayar semua utang rakyat, menanggung biaya perkawinan kaum pemuda di seluruh wilayah negara, serta membeli rumah untuk setiap warga.

“Kebaikan dan kesalehan bangsa ini tidak bisa berharap lagi kepada para pemimpin yang hanya suka menebar pesona, yang hanya berkata-kata dan yang hanya berjanji. Akan tetapi bangsa ini sedang menunggu para pemimpin yang berkarya, bekerja, dan semangat melayani rakyatnya,” katanya.

Hal tersebut, ujar dia, karena hakikat seorang pemimpin adalah pelayan yang baik bagi bangsa, mendahulukan kepentingan rakyat, bukan kepentingan pribadi, keluarga, partai, dan golongannya.(Ant/X-14/MICOM)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 7,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Ilustrasi. (huffingtonpost.com)

Be a Real Muslim