Home / Dasar-Dasar Islam / Tazkiyatun Nufus / Kebaikan Itu Untuk Dirimu, Maka Jadilah Model Kebaikan

Kebaikan Itu Untuk Dirimu, Maka Jadilah Model Kebaikan

Bismillahirrahmaanirrahim.

Ilustrasi – Seorang ibu dan anak berbuka puasa di sebuah tenda besar pada saat hari pertama Ramadhan, di Istanbul, Turki, tahun 2011. (Osman Orsal/Reuters)

dakwatuna.com – “Dulu, semasa saya SMP, saya adalah anak yang bandel. Bayangkan saat ibu sudah selesai mencuci dan menyetrika baju, tumpukan baju yang sudah rapi, sengaja saya kencingi, berharap perhatian dari ibu. Tidak cukup itu, kue-kue jajanan yang sudah ibu masak untuk dijual, sengaja saya tumpahkan ke lantai dan berantakan. Apa yang dilakukan oleh ibuku? Ibu menatapku dengan tatapan lembut, menasihatiku untuk tidak mengulang perbuatan itu lagi, kemudian mencuci kembali pakaian-pakaian tersebut dan menata kembali kue-kue yang berserakan. Sungguh tidak ada nada emosi dan kemarahan pada raut wajah ibu.

Sikap ibu yang demikian, kemampuan pengendalian emosi, mendidik anak dengan kasih sayang, baru saya rasakan hikmahnya setelah saya menghadapi kenyataan hidup yang makin kompleks, saat saya kuliah di Jerman. “Saya dituntut untuk menghadapi berbagai macam persoalan kehidupan, yang membutuhkan kemampuan manajemen emosi. Kini setelah dewasa dan memiliki anak, saya menerapkan sikap seperti apa yang dicontohkan oleh ibu, mendidik dengan kelembutan.”

Kurang lebih demikian, isi dari tulisan yang saya baca dari sebuah foto copian buku yang disodorkan oleh teman, yang memuat perjalanan hidup/kisah nyata seorang. Pengalaman, perjalanan kehidupan, dan contoh nyata, dalam dunia pendidikan, adalah metode yang paling efektif untuk menanamkan nilai dan akhlak. Dampaknya akan mudah dirasakan, pengaruhnya langsung, dan pelajarannya akan tetap membekas di dalam jiwa. Sebagai orang tua boleh saja kita menasihati anak-anak kita dengan seribu kali nasihat untuk bisa bersikap ramah dan suka tersenyum misalnya, tapi tanpa contoh nyata kita yang juga harus bersikap ramah dan suka tersenyum, sudah bisa dipastikan anak-anak tidak pernah bisa bersikap ramah dan suka tersenyum. Alih-alih ingin anak tersenyum, karena kita menasihatinya dengan kemarahan, yang terjadi malah anak kita gampang menjadi pemarah.

Satu kali contoh nyata, lebih efektif dari pada seratus kali nasihat yang diumbar. Jangan pernah berharap anak kita akan rajin membaca, kalau kita sebagai orang tua malas membaca. Jangan pernah berharap anak kita pemaaf, kalau kita sebagai orangtua bersikap pendendam. Jangan pernah berharap anak kita menjadi orang yang pemurah, kalau kita sebagai orang tua yang pelit. Semua akan menjadi harapan yang kosong dan menyakitkan. Inilah salah satu alasan yang cukup relevan, untuk menjelaskan makna ayat “Laqad kaana lakum fii Rasulillahi uswatun hasanah….” (QS Al Ahzab 21).

Allah SWT mengutus Rasulullah SAW sebagai ‘Tauladan’, ‘contoh’, atau ‘model’ bagi umat manusia, untuk merealisasikan apa-apa yang diharapkan /diinginkan oleh Allah SWT terhadap hambaNYA. Manusia akan sangat dimudahkan untuk mengamalkan semua perintah Allah SWT, karena telah diberikan contoh nyata oleh sang Nabi, Rasulullah Muhammad SAW. Dengan kata lain ada proses modelling yang diperankan oleh beliau. Sejatinya, manusia akan sulit menerima suatu nasihat yang datang dari seseorang yang tidak menerapkan apa yang dia nasihatkan. Meski bagi penerima nasihat, seringkali harus mengingat kata hikmah “lihatlah apa isi nasihatnya, jangan melihat siapa yang menasihatiku”. Bagi pemberi nasihat, mestinya juga selalu mengingat firman Allah SWT “kaburo maktan indaLLAHi an taquluu malaa ta’maluun” (Amat besar kebencian di sisi Allah, manakala engkau menasihatkan/mengatakan sesuatu apa-apa yang tidak engkau kerjakan).

Dalam kaitannya dengan cuplikan kisah nyata di awal tulisan ini, ternyata memang sang anak, ketika saat ini sudah menjadi seorang pimpinan di sebuah perusahaan, semua anak buahnya selalu kagum dan memuji sifatnya yang tidak pernah bersikap dan berkata kasar kepada anak buahnya. Selalu santun dan bijak, dan hal ini yang telah menjadikan semua anak buahnya makin menghormati dirinya. Bahkan seringkali para anak buah/karyawannya dibuat makin tercengang dan kagum, setiap kali menyaksikan atau mendengar percakapan “sang pimpinan” dengan anak-anaknya, baik secara langsung ataupun saat menelepon. Kini anak-anaknya pun telah tumbuh menjadi anak-anak yang bersikap bijaksana dan lembut, penuh sopan santun dan selalu tenang dalam menghadapi berbagai permasalahan, baik di dunia kampus, pergaulan dengan teman-temannya, atau saat berkumpul dengan keluarga besarnya. Nasihat dari ibunya yang selalu diingat adalah: “Buatlah dirimu bermanfaat untuk dirimu sendiri, karena otomatis kamu akan bermanfaat untuk orang lain. Lakukan segala sesuatu secara maksimal yang terbaik dari kemampuan yang kamu punya, dan selalu berbuat baik karena berbuat baik itu sebenarnya untuk dirimu sendiri.”

Jadi saat kita melakukan kebaikan bagi orang lain, sesungguhnya hal itu adalah kebaikan untuk diri kita sendiri. Ayo kita buktikan! Mulailah saat ini juga, mulailah dari apa yang kita mampu, mulailah dari hal yang kecil, mulailah dari yang terdekat dengan kita, dan mulailah serta jangan menunda kebaikan, karena pasti kita akan menyesal.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (17 votes, average: 9,53 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sri Kusnaeni, S.TP. ME.I
Ibu dari 7 anak yang sehari-hari beraktivitas dakwah dengan mengisi halaqah dan majelis taklim. Lahir di Tegal, lulusan S1 Jurusan Teknologi Pertanian IPB, dan S2 di Universitas Ibnu Khaldun Bogor. Aktif menjadi narasumber di berbagai kajian seputar keluarga dan muslimah. Dalam keorganisasian pernah aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII), Yayasan Ilman Nafian Bogor, dan Yayasan Nurul Muslimah Medan Sumatera Utara.

Lihat Juga

gadget

Anak-Anak di Era Digital dan Media Sosial