Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Imam Nawawi Al-Jawi: “Begini Harusnya Kalau Kita Cinta Nabi SAW”

Imam Nawawi Al-Jawi: “Begini Harusnya Kalau Kita Cinta Nabi SAW”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (iluvislam.com)

dakwatuna.com – Rasul saw pernah bersabda:”Iman itu mempunyai 73-79 cabang, yang paling tinggi ialah Laa ilaaha IllaLlah dan yang paling rendah ialah membuang duri dari jalan. Dan malu termasuk dari Iman.” (HR An-Nasa’i, Ath-Thobroni dan Bukhari dalam kitab Al-Adabul-Mufrod)

Imam Nawawi Al-Jawi dalam risalahnya “Al-Futuhat Al-Madaniyah”, beliau menjelaskan bahwa cabang-cabang Iman ini ialah refleksi dari iman yang ada dalam diri mukmin. Mukmin yang sempurna imannya ialah mukmin yang ada di dalam dirinya cabang-cabang Iman tersebut. Jika berkurang salah satu saja dari cabang-cabang iman, maka imannya pun berkurang sesuai berapa cabang yang ditinggalkan.

Dalam risalahnya ini beliau menyampaikan semua cabang iman yang ada dalam kandungan hadits di atas sesuai apa yang telah ditunjukkan oleh firman-firman Allah swt dan hadits-hadits Nabi saw. Beliau menjabarkan cabang-cabang iman tersebut sampai 78 cabang.

Dan dari salah satu 78 cabang iman itu ialah “Cinta Nabi saw”. Sejalan dengan hadits Nabi saw:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sampai aku menjadi yang paling dicintainya lebih dari anaknya, orang tuanya dan seluruh manusia di dunia ini.” (Muttafaq Alayh)

Lalu kemudian apakah kita dengan hanya mengucap “aku cinta Nabi.” Dengan begitu saja kita disebut sebagai pecinta Nabi saw? Atau memakai pakaian yang bertuliskan “I love Muhammad saw” berarti itu juga sudah cukup untuk disebut sebagai pecinta Nabi dan menjadi sempurna Imannya? Atau ikut grup “muhibbur-Rasul saw” di grup Facebook, lantas kita disebut sebagai orang yang cinta Nabi saw?

Ini yang kemudian dijelaskan oleh Imam Nawawi, bagaimanakah ciri orang yang disebut dengan pecinta Nabi saw yang hakiki. Lihat bagaimana adab seorang ulama! Beliau ketika memberikan suatu informasi, beliau tidak membiarkan para penuntut ilmu kebingungan akan informasi tersebut, melainkan ia berikan penjelasannya.

Dalam risalah ini, beliau menuliskan bahwa ada 3 hal yang masuk dalam kategori cinta Nabi saw. Jadi jika salah satu dari 3 hal ini tidak ada dalam diri seorang muslim, ia belum bisa disebut pecinta Nabi saw. Walaupun ia berpeci, berkain sarung, berjenggot dan sebagainya itu.

1. Bershalawat kepadanya saw.

Ini adalah derajat paling rendah untuk karakter seorang yang mengaku mencintai Nabi saw. Artinya ini adalah pekerjaan minimal yang harus dilakukan oleh kita sebagai pecinta beliau saw. Jadi kalau yang minimal ini saja sudah terlewatkan, apa masih bisa seorang itu disebut pecinta Nabi saw?

Bagaimanapun redaksi shalawatnya, baik itu yang paling pendek “Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad”. Atau dengan redaksi kata yang paling panjang sekalipun.

Yang penting ialah bershalawat. Percuma juga mengaku umat Nabi saw tapi tak sekalipun shalawat keluar dari mulutnya. Ke sana-kemari memakai baju dengan tulisan “I love Muhammad” tapi tak pernah tahu bagaimana shalawat dan bagaimana redaksi, buat apa tulisan sebesar itu?! Baiknya, tetap memakai baju atau kaos tersebut sebagai kampanye atau dakwah. Namun tetap bershalawat!

Jadi pertanyaannya ialah: “Berapa kali dalam sehari mulut ini bershalawat kepada Al-Habib saw?”

2. Mengikuti Sunnah beliau saw

Beliau saw bersabda:

لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ

“Tidak sempurna iman seseorang dari kalian sehingga hawa nafsunya tunduk mengikuti apa yang telah aku bawa.”

(Hadits shahih yang diriwayatkan di dalam kitab Hujjah yang disusun oleh Abu Al-Fath Nashr Ibnu Ibrahim Al-Maqdisy dengan sanad shahih)

Sebagaimana di riwayatkan dari kebanyakan ulama, bahwa pekerjaan ini menempati posisi paling tinggi bagi setiap muslim yang harus mencintai Nabi saw. Paling rendahnya bershalawat dan paling tingginya melakukan sunnahnya. Bukan malah ogah melakukan sunnah.

Nabi saw pernah bersabda:

مَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّة

“siapa yang menghidupkan sunnahku, maka ia telah mencintaiku, dan siapa yang mencintaiku ia bersamaku nanti di surga.” (HR Tirmidzi)

Secara zhahir, nash hadits di atas menunjukkan bahwa saru ciri penting pecinta Nabi saw ialah menghidupkan sunnahnya. Dan lebih special lagi beliau saw sudah menjamin tempat bagi para muhibbin-muhibbinnya untuk berdampingan bersamanya di surga nanti. Sangat special.

Pertanyaan untuk kategori kedua ini ialah, “dari seluruh aktivitas kita dalam sehari semalam, berapa persen-kah yang sesuai sunnah Musthafa saw dan yang tidak sesuai?”

Tentu banyak sekali sunnah-sunnah beliau saw yang sepertinya kecil kemungkinan untuk kita kerjakan semua. Butuh tahunan untuk mempelajari dan mengetahui segala sunnah Nabi saw. Bahkan jenjang kuliah strata 1 yang 4 tahun itu pun belum tentu bisa mengkhatamkan semua itu.

Tapi, kita sama sekali tidak diminta untuk mengetahui semua kelakuan dan tindak tanduk Nabi saw, supaya kita ikuti. Kita hanya diminta untuk berperilaku layaknya perilaku belau saw. Satu kesunnahan beliau saw yang kita ketahui kemudian kita amalkan yang satu itu, itu berarti kita sudah menghidupkan sunnah beliau saw.

Itu yang baik, satu ilmu tapi dawam (terus menerus) dihidupkan. Dibanding banyak ilmu tapi satu pun tak terjamak. Lebih buruk lagi malah mengkhianati ilmunya –wal ‘Iyadzubillah-. Rasul saw bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari: “pekerjaan yang paling dicintai Allah ialah pekerjaan yang sedikit tapi terus-menerus.”

Contoh sunnah Nabi saw yang paling ringan dan paling mudah kita kerjakan ialah ‘Ibtisam’ yaitu ‘senyum’ di manapun kita berada. Perlu diketahui bahwa senyum itu bukanlah suatu kebiasaan, akan tetapi senyum adalah sunnah, ia adalah ibadah. Dan orang yang melakukan suatu ibadah layak diganjar pahala.

Diriwayatkan bahwa Nabi saw adalah orang yang paling sering tersenyum. Syaikhoni; Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari sahabat Jarir ra, ia berkata: “sejak aku masuk Islam, aku tidak pernah bertemu dengan Nabi saw kecuali ia selalu tersenyum di wajahku setiap kali bertemu.”

Jadi bisa dikatakan bahwa ciri dasar pecinta Nabi saw yang sejati ialah jika ia bertemu dengan siapa pun itu, ia pasti tersenyum. Dan tentu harus dipertanyakan kecintaannya kepada Nabi saw siapa dia yang selalu memasang wajah murung.

3. Cinta Keluarga Nabi dan Cinta Anshar.

Nabi Saw Bersabda:

آيَةُ الْإِيمَانِ حُبُّ الْأَنْصَارِ وَآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الْأَنْصَارِ

“tanda keimanan seseorang ialah mencintai Anshar, dan tanda kemunafikan seseorang ialah membenci Anshar” (Muttafaq Alayh)

Keluarga Nabi saw kita semua kenal. Keturunan dan para kerabat Nabi saw. Dalam kitab subulus-salam, Imam Shon’ani menjelaskan siapa itu keluarga Nabi saw. Beliau mengutip pendapat Zaid bin Arqom: “keluarga Nabi ialah keturunan dari keluarga Ali, keluarga ‘Abbas, keluarga Ja’far, dan juga keluarga Uqail (Bani Hasyim dan Bani Mutholib)”.

Lalu siapakah Anshar itu? Apakah mereka sahabat Nabi saw di Madinah yang menerima kedatangan kelompok hijrah dari Mekah (Muhajirin)?

Imam Nawawi menjelaskan bahwa Anshar ialah setiap orang yang berkhidmat untuk menolong agama Allah, dan tak terbatas oleh zaman. Di mana pun kapan pun, selama ia menolong dan menegakkan syariat Allah swt berarti ialah Anshar yang wajib dicintai.

Contoh yang paling mudah kita jumpai Anshar ialah ‘pegawai sampai’. Saya tidak bilang pemulung tapi pegawai sampai yang ditugaskan secara resmi oleh pihak kelurahan atau RW untuk mengurusi masalah sampah di kampung.

Bagi saya ia adalah Anshar. Karena beliau telah berkhidmat dijalan Allah, yaitu membersihkan kampong ini dari tumpukan sampah yang semakin hari semakin menggunung.

Dalam sejarahnya, sampah adalah masalah pelik yang sulit dibenahi di negeri kita ini, khususnya kota Jakarta. Sejak kota ini berdiri zaman belanda dulu sampai zamannya Opera van java sekarang ini.

Bayangkan jika satu atau dua hari saja para pegawai yang dimuliakan oleh Allah ini mogok kerja. Apa yang akan terjadi dengan kampong kita? Hmm…

Dan kebersihan adalah syariat yang diperintah oleh Allah swt. Banyak ayat dan hadits Nabi saw yang mengandung makna untuk umatnya berbenah dan berbersih diri. Dan kebersihan seperti yang kita ketahui ialah syarat sah-nya shalat seorang mukmin.

Rasul saw bersabda:

الإسلام نظيف فتنظفوا فانه لا يدخل الجنة إلا نظيف

“Islam itu agama yang bersih. Maka ber-bersihlah kalian semua. Sesungguhnya tidak masuk surga kecuali ia yang bersih” (HR Thabrani)

Wallahu A’lam.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ahmad Zarkasih
Mahasiswa. Lahir di Jakarta tahun 1989.

Lihat Juga

Love, Cinta, Valentine

Cinta Sebagai Energi Kemenangan