Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ya Rabb, Aku Merindukan Surga-Mu

Ya Rabb, Aku Merindukan Surga-Mu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com “Seorang pun tidak mengetahuinya apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan” (QS. As Sajdah: 17)

Sahabat muslim, jika kita berbicara Surga pasti semua orang ingin masuk Surga. Coba saja Tanya anak TK, adik-adik siapa yang mau masuk Surga angkat tangan!!! Serentak mereka angkat tangan, bahkan orang tuanya juga ikut mengangkat tangan. Orang tolol saja mau masuk Surga, jika kita tanya. Berbahagialah kita sebagai seorang muslim, karena Allah sudah mempersiapkan dan menjaminkan kita masuk Surga. Tinggal pilih saja mau Surga yang mana silakan, monggo. Kuncinya meninggal dulu, karena dengan meninggal kita akan melanjutkan estafet kehidupan setelah dunia, dan jangan biarkan kita meninggal dalam keadaan kafir, melainkan harus dalam keadaan muslim.

“Hai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim” (QS. Al Imran 102)

“Barang siapa yang di akhir hayatnya mengucapkan laailahailallah, maka ia masuk Surga.” (Al Hadits)

Dalam sebuah training motivasi, saya pernah diceritakan tentang Surga. Bagaimana gambaran di dalamnya, siapa penghuninya, dan ditemani siapa saja. Kemudian sempat membayangkan saat trainer mengatakan bahwa di Surga itu kita disediakan 72 bidadari, yang terbayang bagaimana ya?? Satu saja di dunia sudah luar biasa kayaknya, apalagi jika 72 bidadari suci dengan ribuan kali lipat cantiknya. Yang paling cantik di dunia tak seberapa.

Sampean mu’min? Tenang, sampean akan dapatkan Surga dan tergaransi 100%. “Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar” (QS.At-Taubah: 72)

Mari kita duduk sejenak, bermuhasabah untuk jejak-jejak kaki kita di dunia. Sudah sejauh mana kita mempersiapkan bekal untuk kehidupan kita setelah dunia ini? Sudah siapkah seandainya malaikat Izrail datang bersilaturahim kepada kita?

Dunia ini memang sangat indah dan mempesona bagi kita, seandainya kita tidak memaknai dunia dengan tepat, maka kita akan habis tergerus dengan makna dunia yang sementara dan hanyalah senda gurau belaka ini.

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 64)

Jangan sampai kita termasuk orang lalai karena tidak memaknai dunia dengan baik. “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. ArRuum: 7)

Demi Allah, kesenangan dunia itu lebih sedikit dari akhirat, tapi mengapa kamu lebih sibuk dengan fantasinya dunia?? Ingat saudaraku!!! “Katakanlah: ‘Kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa.’!” (QS. An-Nisa’: 77)

Indonesia mendapatkan status international dengan tingkat muslim terbesar. Pertama, ini menjadi sebuah harapan besar akan masa depan Islam. Kedua, ini menjadi hal yang membahagiakan saat kita membayangkan kelak berbondong-bondong bersama menuju SurgaNya. Akan tetapi kita bukan hidup untuk membayangkan saja, akan tetapi harus teraplikasi dengan benar. Di sisi lain hal ini menjadi sebuah muhasabah besar untuk kita muslim Indonesia. Sudah sejauh mana Islam itu kita laksanakan dengan baik dan benar? Sehingga kita pantas untuk menikmati dan merasakan SurgaNya kelak. Apakah istilah Islam KTP yang kini sedang ngetrend itu benar ataukah hanya sekadar angin belaka? Islam yang hanya sebagai status pelengkap pada sebuah kartu pengenal agar kita dikatakan sebagai muslim?

Sahabat muslim, jika benar Islam KTP itu menjadi trend masa kini, maka Istilah itu harus kita luruskan bersama. Bahwa keislaman kita adalah benar-benar sebagai pilihan atas kesadaran dan keimanan kita, bukanlah Islam sebagai warisan nenek moyang yang sebatas menerima dan mengikuti saja.

Ingin Surga? Yuk kita bersama-sama menyongsong surgaNya yang penuh dengan keindahan itu. Karena Surga itu tidak gratis, harus ada pajak yang dibayarkan untuk lautan keindahannya. Jangan biarkan kebahagiaan dunia menjadi akhir dari kebahagiaan selamanya dan menyesal di akhirnya. Sebagai seorang muslim, sebetulnya kita sudah tidak usah risau, galau dan gelisah dalam menjalani hidup ini. Mengapa demikian? Karena sungguh Allah sudah mempersiapkan sebuah dunia baru kelak yang sangat dipenuhi dengan keindahan yang mempesona, mengalir sungai-sungai yang akan menghilangkan dahaga, dengan bidadari yang tengah disediakan, dan lain sebagainya. Tugas kita sebagai manusia adalah dua, menjauhi laranganNya dan melaksanakan perintahnya. Insya Allah garansi akan Surga yang selalu dinanti-nanti dan diidam-idamkan oleh setiap anak manusia sudah di tangan.

Kita sadari benar akan kesalahan-kesalahan yang mungkin pernah dilakukan. Kita pun sadar dengan baik bahwa kita bukanlah barisan malaikat yang lepas dari kesalahan dan dosa. Akan tetapi jangan biarkan dosa-dosa yang sudah kita tunaikan di hari-hari belakang tidak kita tebus dengan banyak kebaikan-kebaikan selanjutnya dan semoga Allah menghapuskannya.

“Bertaqwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya menghapusnya dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik.”  (HR. Turmudzi).

Insya Allah saudaraku, setiap usaha kita dalam melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya Allah selalu perhatikan. Karena Allah tidak pernah tidur, sungguh Allah pun begitu dekat. “Maka sesungguhnya Aku dekat” (QS. Al Baqarah: 186).

Maka, kata Ust. Salim A Fillah, saat kita akan melakukan dosa peganglah leher kita dan rasakan bahwa Allah begitu dekat. Malu!!

Motivasi untuk kita, Tidak ada amalan yang kecil di sisi Allah dan dosa besar pun akan Allah ampuni dengan taubatan nasuha. Amalan sebesar biji zarah pun akan senantiasa Allah lihat dan Allah akan membalasnya dengan balasan yang sesuai. Begitu pun dengan dosa, dosa sekecil apapun akan tercatat dan mendapat balasannya pula.

“Maka barang siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar biji zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya” (QS. Ajalzalah: 7 – 8)

Kebaikan itu untuk kita juga, pun kejelekannya. Jangan biarkan kesempatan Surga yang telah Allah janjikan, dihalangi dan disesatkan oleh godaan dunia yang sementara.

“Jika kamu berbuat baik berarti kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu untuk dirimu sendiri” (QS. Al Isra 7)

“….Dan diserukan kepada mereka: ‘ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.'” (QS. Al-Aaraf: 43)

 “Mereka mengatakan, ‘Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.’ Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya” (QS. Al-Baqarah: 25)

“Apa yang di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS. An-Nahl: 96)

Saat syetan menggoda dan membisikkan keindahan dunia sehingga mencoba jerumuskan ke dalam lautan dosa kita belajar tuli, ambil alih bisikan itu dan katakana “gue ga mau bareng lo di neraka, enyah dariku!!” dan segeralah memalingkan dari kesempatan dosa dan pergi tinggalkan bisikan syetan.

“Sesungguhnya syetan itu hanya menyuruh kamu agar berbuat jahat dan keji, dan mengatakan apa yang tidak kamu ketahui tentang Allah” (QS. Al Baqarah: 169)

Mari kita internalisasikan keislaman kita, bukan hanya pelengkap status pada kartu pengenal saja. Semoga Allah tidak menjadikan dunia ini sebagai puncak dari cita-cita dan pengetahuan kita. Karena insya Allah kita akan dipertemukan di telaga yang dipenuhi dengan kenikmatan, sebagai buah hasil dari ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Indah sekali, saat kita dikumpulkan di telagaNya, bersama orang-orang shalih lainnya bersama Rasulullah menuju SurgaNya berbondong-bondong. Ya Rabb aku rindukan SurgaMu. Yuk kita pilih mau Surga mana?? Dan semoga kita termasuk ke dalam barisan Hum Fiihaa khaaliduun, kekal di dalamnya. Wallahu’alam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nada Ash-Shubhi
Lahir di Bandung 21 September. Anak ke empat dari enam bersaudara; Amal, Maruf, Hodam wijaya, Gigin Ginanjar, Wiguna Syukur Ilahi. Inilah keenam lelaki yang selalu disebut-sebut dalam doa orang tua itu. Doa kesuksesan untuk masa depan. Mereka adalah anak sejarah yang akan menggoreskan tinta di lembaran sejarah peradaban sebari penguak dinding sejarah. Semoga menjadi pemimpin di negeri sarat nestapa ini. Lahir dari pasangan Solihat dan Adeng. Setelah menyelesaikan studi S1 program studi perbankan syariah, STEI SEBI, Depok. Kini aktivitas melanjutkan studi di STIS Nurul Fikri, Lembang jurusan siyasah syariah. Mulai mencoba menulis setelah lulus dari SMA, meskipun saya tidak tahu apa yang saya tulis. Beberapa karyanya diantaranya adalah Buku Belajar merawat indonesia, serial kepemimpinan alternatif (Bersama beastudi etos DD), Buku Talk Less Do More (SEBI Publishing), Paper Model agricultural Banking, Paper Peran LPZ dalam pengembangan ekonomi umat di Indonesia, Buku Catatan sang surya (Bersama Komunitas MOZAIK Sastra)

Lihat Juga

Sepuluh Panggilan dari Surga