Home / Pemuda / Cerpen / Sang Mushalla Kecil

Sang Mushalla Kecil

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi – Sebuah mushalla (rizakasela.wordpress.com)

dakwatuna.com – Sore itu, langit begitu terang. Tak tampak awan mendung sedikit pun di pelupuk langit. Padahal menurut para burung yang sempat singgah, saat ini sedang musim penghujan. Apalagi belakangan ini hujan seringkali turun ketika sore hari. Biasanya para siswa yang akan pulang pasti menghampiriku. Akan tetapi bukan untuk shalat atau membaca Al-Qur`an, mereka hanya berteduh menunggu jemputan dan angkutan umum. Parahnya lagi mereka justru seringkali tidak melepaskan sepatu mereka, dan justru mengotori tubuhku dengan sepatu mereka.

Lokasiku memang strategis. Aku merupakan, bangunan sekolah yang terdekat dengan jalan raya. Akan tetapi, lokasi yang strategis tak membuat para siswa bahkan guru-guru tertarik mengunjungiku. Ketika waktu Ashar, para siswa lebih suka mengunjungi warung internet yang berada di seberang jalan raya, sedangkan para guru lebih suka menghabiskan waktu di kantor guru. Tinggallah aku sendiri. Sang mushalla kecil.

Untunglah Allah murah hati, terkadang datanglah beberapa musafir yang menumpang shalat di tubuhku. Burung-burung pun terkadang menenangkanku dan menasihatiku agar bersabar. Akan tetapi, tak jarang Bu Warung Internet dan Pak Ruang Guru menghinaku

“Yaah, kamu bangunan baru tapi nggak laku, cuman jadi keset doang.” hina mereka sambil tertawa. Aku pun hanya bisa terdiam seribu bahasa

Namun sore itu berbeda, langit terang mungkin menjadi pertanda bahwa telah datang manusia-manusia pilihan. Aku baru pertama kali melihat mereka, tetapi aku tahu mereka adalah murid SMA ini, SMA 21 Karang Jauh. Itu dikarenakan mereka mengenakan baju seragam yang sudah familiar di mataku. Menurutku, mereka mungkin siswa baru. Beberapa hari belakangan ini memang banyak wajah-wajah baru di sekitarku. Aku pun sempat menyaksikan pemasangan spanduk yang berisikan selamat datang bagi siswa baru.

Para manusia pilihan ini berjumlah lima orang. Mereka datang ketika bel sekolah telah berbunyi. Salah seorang dari mereka mengumandangkan adzan. Lalu mereka shalat berjamaah. Ketika mereka berdoa, aku pun hanya bisa mengamini dan ikut mendoakan mereka. Meskipun begitu, sesungguhnya tak hanya aku yang melakukannya, langit, burung, bumi bahkan para malaikat memohonkan ampunan atas dosa para manusia-manusia pilihan itu kepada-Nya.

Ada satu hal yang membuatku penasaran. Setelah berdoa, mereka berkumpul membentuk lingkaran.

“OK Temen-temen, hari ini mungkin kita nggak liqa` dulu. Insya Allah besok kita mulai liqo`nya.” ujar siswa yang tadi menjadi imam shalat.

Seketika benakku pun bertanya-tanya. Apa sih liqa? Itu ibadah juga nggak ya?

“Sekarang agenda kita mungkin membereskan mushalla ini dulu. Keliatan kotor banget nih.” sambung sang imam shalat lagi.

“Ayo!” jawab yang lainnya semangat. Seketika itu aku terharu, sudah sekian lama orang tidak memperhatikanku, bahkan pegawai kebersihan sekolah pun bisa dihitung jari dalam membersihkanku setiap bulannya.

Aku pun berdoa dalam hati. Ya Allah ampuni dosa-dosa mereka… Kabulkan keinginan mereka. Jadikan mereka manusia-manusia luar biasa yang Engkau pilih untuk menjadi hamba-Mu yang sukses dunia dan akhirat.

***

Keesokan harinya, ketika bel pulang sekolah berbunyi, mereka kembali. Seperti halnya kemarin, mereka pun shalat berjamaah kemudian berdoa. Seperti kemarin pula, aku pun mendoakan mereka kembali, begitu juga makhluk-Nya yang lain.

Setelah mereka berdoa, mereka pun membuat lingkaran seperti kemarin.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” ucap salah seorang dari mereka.

“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.” jawab yang lainnya.

Orang yang mengucapkan salam pun melanjutkan dengan beberapa muqaddimah yang biasa diucapkan khatib saat shalat Jum`at. Setelahnya mereka pun membaca Al-Qur`an. Aku pun kembali terhenyak. Ya Allah sungguh bahagia bisa kembali mendengar kalam-Mu dalam Al-Qur`anul Karim. Aku memang sudah cukup lama tidak mendengar Al-Qur`an dilantunkan. Sungguh ironis mengingat aku memiliki banyak Al-Qur`an yang tertata rapi di rak-rak.

Setelahnya mereka pun kembali melanjutkan kegiatan mereka dengan mendengarkan kultum yang disampaikan salah satu dari mereka. Hingga akhirnya mereka pun sampai di acara taujih.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ujar siswa yang kemarin menjadi imam.

“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.” Jawab yang lainnya.

Sang imam itu pun menyampaikan beberapa patah kata yang isinya mengucapkan rasa bahagianya bisa kembali mengadakan acara liqa tersebut. Akan tetapi ada sepatah kalimat yang begitu menyentuh di hatiku.

“… Kawan-kawan sungguh bahagia kita bisa berkumpul di suatu tempat yang membutuhkan kita sebagai pendakwah. Mungkin di sini banyak tantangan yang akan muncul. Akan tetapi tantangan buat menuju surga memang banyak. Semakin banyak tantangan yang menghadang. Insya Allah, kita semakin dekat dengan surga Allah….”

Sungguh indah untaian kalimat dari sang imam tersebut. Aku pun pasti akan menangis seandainya aku memiliki mata.

Tak lama kemudian mereka pun menutup kegiatan tersebut dengan doa kafaratum majelis lalu pergi. Mereka pergi ibarat merpati putih yang menebarkan bulu-bulu indahnya ke mana pun ia terbang.

***

Hari berganti hari, setiap minggu mereka mengadakan acara yang mereka sebut liqa. Kini aku pun mengenal mereka. Mereka bernama Yusuf, Karim, Nizar, Aldi, dan Haris. Yusuf merupakan ketua liqa sekaligus murabbi. Murabbi sendiri artinya pembimbing. Yusuf menjadi pembimbing karena mereka kesulitan mencari ustadz untuk menjadi pembimbing mereka. Seperti dugaan awalku, mereka adalah siswa baru. Mereka berasal dari salah satu pondok pesantren di Jawa Barat.

Aku pun kini tak kesepian. Tubuhku, yang biasanya kotor, kini selalu bersih karena setiap hari mereka membersihkan tubuhku.

Ya Rabb sungguh hebat hamba-hamba-Mu itu

***

Setahun kemudian, sekolah mengadakan perombakan posisi bangunan. Aku pun jadi sasaran pertama dan utama yang akan menjadi korban perombakan. Aku dianggap tidak berguna oleh para guru dan murid.

Hingga suatu hari ketika Yusuf dan teman-teman sedang liqa` masuklah beberapa pegawai sekolah membongkar berbagai kaligrafi yang tertempel di tubuhku. Tak hanya itu, mereka juga menggotong keluar rak Al-Qur`an. Yusuf dan teman-temannya pun menghentikan liqa mereka dan berjalan keluar. Mereka pun mendapati kepala sekolah mengawasi pembongkaran itu. Yusuf pun menghampiri Kepala Sekolah.

“Assalamu’alaikum, pak” sapa Yusuf.

“Wa’alaikumsalam. Eh Yusuf. Gimana lomba robotikanya kemarin?” jawab Kepala Sekolah

“Alhamdulillah dapet juara dua Pak.” jawab Yusuf berbasa-basi.

“Wah hebat emang kamu, suf. Sekolah kita jarang-jarang loh menang lomba. Makasih ya.” ujar Kepala Sekolah dengan wajah tersenyum sembari menepuk pundak Yusuf.

“Iya pak. Sama-sama.”  jawab Yusuf diiringi senyuman “Oiya, maaf Pak. Sebenarnya ada apa ya? Kok barang-barang di masjid.”

“Oh ini mau dipake` tempat lain, suf.” jawab Kepala Sekolah jujur.

“Oh… terus mushallanya ke mana pak?” tanya Yusuf penasaran

Bapak kepala sekolah pun terdiam sejenak. ”Nggak tahu suf.”

“Loh? Kok gitu pak?” ucap Yusuf kaget.

“Yah ada mushalla juga nggak kepakai.“ jawab kepala sekolah enteng

“Maaf pak tapi kan bapak yang nggak memakainya. Kebetulan saya sih memakainya” jawab Yusuf dengan sedikit sinis.

“Loh kamu kok malah nyindir saya?!” ucap Kepala Sekolah marah.

“Ya bapak nggak bisa menghargai Tuhan saya.” jawab Yusuf tegas

“Apa hubungannya sama Tuhan?” balas Pak Kepala Sekolah

“Pak! Mushalla itu rumah Allah, rumah Tuhan saya, Tuhan bapak juga kan?!” jawab Yusuf tajam dan kencang. Sontak siswa-siswa lain pun ramai-ramai melihatnya.

“Jadi kamu ngelawan saya!” tantang kepala sekolah

“Saya nggak takut sama bapak! Saya takut cuman sama Allah!” ucap Yusuf lantang.

Seketika itu Kepala Sekolah pun terhenyak, semua siswa yang sedari tadi berisik pun terdiam.

“Kalian tuh yang harusnya sadar! Ke mana kalian selama ini! Lupa sama Tuhan! Ngerasa lebih kuat dari Tuhan!” ucap Yusuf lantang “Terutama yang muslim. Mushalla Cuma buat diinjek-injek!”

Semua pun terdiam lama. Begitu pun aku. Aku hanya dapat berdzikir dan bertakbir dalam hati. Bersyukur pada Allah karena telah mengirim pemuda berjiwa besar seperti Yusuf.

“Huft… Iya Suf. Bapak ngaku bapak salah. Bapak ngaku bapak khilaf. Selama ini bapak terlalu sombong seakan bapak bisa seperti ini karena usaha bapak sendiri tanpa keridhaan dari Allah.” ujar Kepala Sekolah sambil terisak. “Maafin bapak ya” lanjutnya seraya menjabat tangan Yusuf erat.

“Minta maaf sama Allah pak! Saya juga nggak bisa maafin bapak” jawab Yusuf sambil tersenyum mengiyakan

“Ya Allah maafin saya. Saya telah khilaf. Terima kasih karena telah mengirimkan anak seperti Yusuf.” ucap kepala sekolah sambil mengadahkan tangan ke langit.

Siswa-siswa lain pun mengerumuni Yusuf. Sejak saat itulah aku tak pernah kesepian siswa yang shalat. Yusuf dan teman-temannya pun membentuk ikatan remaja masjid untuk mengurusku. Tak jarang ada acara Mabit atau malam bina iman dan takwa dan daurah yang diadakan oleh ikatan remaja masjid. Hingga akhirnya setahun kemudian, aku pun di perluas menjadi sebuah masjid. Masjid yang selalu dipenuhi pengunjung dari lingkungan sekitar. Tak jarang ustadz-ustadz dari sekitar sekolah mengadakan pengajian khusus di tubuhku

Ya Allah. Jadikanlah mereka sebagi penghuni surga tertinggi-Mu, ucapku dalam hati yang ingin menangis.

***

Epilog

Maret 2018

Di iklan sebuah surat kabar diberitakan.

Ustadz Yusuf Al Qaradhawi akan mengunjungi Indonesia tepatnya hari Ahad, 23 Mei 2018. Lokasinya bertempat di Masjid Agung SMAN 21 Karang Jauh. Biaya masuk gratis. Akan hadir pula Yusuf Sandawi, pakar ilmu robotika University of Tokyo yang merupakan pembina dan pengurus awal Masjid Agung SMAN 21 Karang Jauh.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (27 votes, average: 9,15 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Arfath
Anak laki-laki kelahiran Lumajang tahun 1995 ini sangat menyukai cerpen. Ia memulai kepenulisan saat masih bersekolah di MTs Husnul Khotimah. Ia, yang aktif dalam Forum Lingkar Pena ranting MTs, mendapat didikan dari seorang penulis FLP Jawa Tengah, Sunarno. Selama SMA, pemilik nama asli Muhammad Miqdad Robbani ini kurang aktif menulis cerpen dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk menulis essai di blognya. Saat ini, ia berstatus sebagai mahasiswa baru Universitas Indonesia di jurusan Manajemen.
  • [email protected] ukh

    tuh kan, ana udah tau dari cuma lihat foto antum sebagai penulis cerpen ini, pasti muhammad miqdad rabbani… :) barakallah dad, tunggu ana di ui tahun depan, InsyaAllah…

  • bagus….

Lihat Juga

Menjadi Wanita Langit