Home / Berita / Opini / Musim Semi Islam. Di Manakah Peran Kita, Saat Islam Mulai Bersemi?

Musim Semi Islam. Di Manakah Peran Kita, Saat Islam Mulai Bersemi?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)

dakwatuna.com Hari ini kita mungkin menjadi saksi bagaimana kepemimpinan umat sedang bergeliat untuk beranjak bangun dan kembali menjadi salah satu bukti pembenaran informasi yang di sampaikan oleh Rasulullah SAW tentang akan kembali berjayanya Islam. Kita mendengar tentang istilah musim semi Arab atau musim semi Islam. Hal ini di  muculkan karena akhir-akhir ini terjadi perjuangan besar-besaran yang mengakibatkan berakhirnya pemerintahan rezim zhalim nan diktator Hosni Mubarak di Mesir, Ben Ali di Tunisia hingga Libya Kolonel Gaddafi, sementara Basher al Assad masih hendak terus menggenggam kekuasaannya dan yang lainnya di kebanyakan negara muslim. Pemilihan umum telah terjadi di sejumlah negara di mana kita melihat partai-partai Islam memperoleh kemenangan secara signifikan, sedangkan kaum sekularis menderita kekalahan. Perdebatan dan diskusi tentang konstitusi baru dan peran Islam terus mendominasi Musim Semi Arab.

Agak politis memang, namun kita harus mengikuti perkembangan terakhir mengenai kepemimpinan umat ini. Saya akan sampaikan beberapa informasi yang semoga bisa menjadi wacana sekaligus membangun rasa optimisme umat ini di tengah-tengah kejenuhan dan keterbelakangan yang begitu lama menjangkiti umat ini yang di awali munculnya sebutan “The Sick Man” bagi pemerintahan Khilafah Turki Utsmani. Gelar yang di berikan oleh musuh-musuh Islam ini sampai ke telinga saya ketika saya masih duduk di kursi sekolah dasar beberapa tahun silam. Kemudian saya bersyukur menjadi salah satu saksi pula mengenai beranjak bangkitnya kesadaran umat ini untuk Berjaya kembali bersama Islam yang tinggi ini.

Di Tunisia, Maroko dan Mesir, para pemilih dalam pemilu yang berjumlah jutaan telah dengan jelas menyatakan penentangan mereka terhadap nilai-nilai liberal sekuler dan ada keinginan kuat bagi pemerintahan Islam. Partai-Partai Islam, baik Ennahda di Tunisia maupun Partai Keadilan dan Kebebasan (FJP) dari Ikhwanul Muslimin di Mesir mendapat dukungan tinggi dari kaum muslimin. Ini terbukti dengan mengantungi banyaknya suara umat Islam yang di limpahkan kepada mereka untuk menginisiatif kebangkitan umat ini. Di beberapa negara lain mungkin tidak harus dengan cara yang sama persis. Namun menurut saya tinggal menyongsong dan menunggu waktunya saja. Kejayaan umat akan kembali dan pemerintah yang zhalim akan di tumbangkan. Jazzaa wifaqo, sebagai balasan yang setimpal terhadap mereka-mereka rezim yang zhalim dan pembalasan yang setimpal juga terhadap sebagian umat ini yang berjuang di dalam merealisasikan kebangkitan umat.

Umat ini akan menemukan kembali semangat zamannya. Kembali akan melahirkan pemuda-pemuda alkahfinya. Kembali melahirkan manusia-manusia terbaiknya karena kejayaan sesungguhnya tidak di usung oleh hanya satu orang saja. Melainkan di usung oleh mereka yang berjamaah dalam barisan yang rapih melakukan kerja-kerja perubahan dan menginspirasi serpihan lain dari umat ini. Musim semi Islam bisa saja menjadi momentum awal. Untuk kembali kepada Islam dengan kaffah secara berangsur-angsur. Menghalau fitnah-fitnah yang menggerogoti umat ini.

Sikap yang bijak perlu di tampakkan dalam menyikapinya. Mulai hadirnya cahaya Islam harus di sikapi positif oleh umatnya. Bukan memperbanyak celaan ketika memang masih terdapat beberapa cacat di dalam diri perjuangan. Bukan mengghibah dan memakan daging bangkai saudaranya sendiri. Tidak pula juga mengumbar aurat dan luka borok saudaranya yang sesungguhnya tertatih bersama perjuangan ini namun sebaiknya kita bersama mengawal langkah-langkah menuju kejayaan ini. Jangan sampai ketidakpuasan kita terhadap hasil menjadikan kita lupa untuk terus beramal dan beramal hingga Allah SWT menghendaki kemenangan dan sesungguhnya kemenangan tidak akan di raih kecuali kita telah memenuhi syarat-syaratnya. Syarat-syarat kemenangan ini kita dapati di jelaskan dengan begitu jelas dan mendetail di dalam Al-Quran itu sendiri dan beberapa di himpun menjadi sebuah khazanah wawasan dalam fiqih At tamkin Wan Nashr.

Dan Indonesia, negara penduduk muslim terbesar di dunia. Saya menaruh harapan besar untuk negeri yang menjadi tempat saya di lahirkan ini. Negeri yang potensi alamnya berlimpah ini. Negeri yang luas wilayah tanah dan airnya. Negeri yang kemerdekaannya telah di warnai oleh aliran dan tetesan merahnya darah para mujahid dan hitamnya tinta para ulama yang di lahirkan di Indonesia ini dan perjuangan gigih para santri dan pemuda-pemuda Islamnya. Semoga saja Indonesia mampu mengambil peran besar dan ikut berproses untuk mensuksesi kejayaan Islam di bumi ini. Para pemuda muslim Indonesia saatnya mengambil peran besar. Merebut setiap peluang yang ada. Dan mengoptimalkan segenap jiwa dan raganya. Tidak hanya untuk Indonesia melainkan untuk Islam dan umat ini dan aliran kecil sungai perjuangan ini bisa berhimpun di muara kemenangan besar umat ini. Dengan kondisi yang tak separah beberapa negara lain secara gempuran fisik. Ada beberapa peran yang perlu di ambil oleh kita umat muslim di Indonesia.

Beberapa peran yang akan saya ungkapkan hanya mempertemukan potensi yang di miliki oleh umat muslim di Indonesia dengan disiplin amal yang menjadi serpihan langkah gerak efektif menuju peradaban Islam.

A. Peran terhadap Internal

Beberapa peran internal yang harus di kerjakan oleh umat muslim Indonesia adalah merekatkan persatuan umat muslim. Kuantitas umat yang banyak ini menjadi sebuah tantangan sekaligus akan menjadi sebuah bekal ketika kita kan membangun kembali peradaban Islam. Indonesia yang di kenal begitu menghegemoni keragamannya termasuk keragaman di tubuh umat Islamnya sendiri. Berbagai aliran begitu banyak berkembang negeri ini tak hanya yang bersifat furu namun masih saja ada yang berbeda sampai di tingkatan aqidah. Ada prinsip yang harus di tanamkan dalam menyikapi perbedaan di dalam keragaman. Prinsip itu berbunyi “bekerja sama dalam hal yang di sepakati dan toleransi dalam hal-hal yang berbeda”. Saya pikir kita akan sepakat jika jangan sampai ada hal yang berbeda di tataran prinsip mendasar (keimanan) dan kita sangat boleh berbeda dalam tataran cabang atau furu’iyah. Oleh karena itu hal ini juga sekaligus menjadi batasan terhadap beberapa perbedaan yang tidak di benarkan di dalam Islam.

Ada tarbiyah yang harus di lakukan kepada umat yang belum bisa bersikap bijak menyikapinya dan terkadang perpecahan ini sudah menjadi penyakit lama umat ini. Jika perpecahan ini bisa di minimalisir maka tentunya akan sangat mendukung sekali proses-proses perjuangan. Dan untuk yang satu ini cukuplah kita merenungi kembali ajaran ukhuwah yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW yang begitu merasuk di tubuh umat muslim pada masa keemasannya. Peran berikutnya secara internal umat muslim Indonesia harus melakukan Islamisasi di tubuh perjuangannya. Mengembalikan kehidupan umat seutuhnya kepada Al Islam. Setelah melakukan Islamisasi, maka dengan sendirinya akan ada optimalisasi berbagai potensi umat ini baik secara individual maupun secara komunal. Umat muslim Indonesia senantiasa membina kembali pribadi-pribadi generasinya agar menjadi pribadi muslim yang sejati. Membina keluarga yang Islami sebagai penjaga kekokohan kehidupan pribadi bangsanya dan membentuk kehidupan sosial yang Islami. Membebaskan Indonesia dari jerat-jerat kehidupan asing yang meninabobokan sekaligus meraup sumber daya alam sebanyak mungkin dari negeri yang hijau ini. Umat muslim Indonesia mengirimkan para pemudanya untuk belajar ke negara yang lebih maju dan mengembankan serta mengamalkan ilmunya di Indonesia khususnya.

B. Peran Eksternal

Hal yang bisa dilakukan Indonesia adalah melakukan dan mengoptimalkan peran diplomasi di tengah celah-celah sekat-sekat umat yang dibatasi sekat sempit negara-negara. Ketika terjadi beberapa konflik setidaknya Indonesia memberikan bantuan materiil kepada saudaranya di negara lain yang membutuhkan.  Bahkan mengoptimalkan lagi peran-peran politik luar negerinya. Indonesia harus menjadi pelopor dan menginspirasi negara-negara muslim lainnya. Bahkan jika memungkinkan kita senantiasa mengirimkan dan melakukan bantuan militer walau di dalam kehidupan dunia Internasional pasti mendapat perlawanan dari musuh-musuh Islam. Indonesia harus bisa mengikuti berbagai event yang berbau penyatuan umat Isla sedunia berperan aktif di dalamnya. Dan yang paling penting adalah melakukan berbagai kontribusi yang akan memperdekat jarak menuju kebangkitan umat Islam sedunia dan berdirinya peradaban Islam. Kemudian mensuksesi bersama yang lainnya menunjukkan ke mata dunia Internasional bahwa peradaban Islam merupakan ustadziyatul alam menjadi soko guru peradaban dunia.

Dengan berharap ridha Allah SWT. Marilah kita bersama berandil dalam perjuangan. Kemenangan adalah janji Allah SWT yang pasti dipenuhiNya dan pasti terjadi oleh karena itu melibatkan diri di dalam perjuangannya merupakan sikap terbaik yang harus senantiasa menjadi visi misi seorang muslim.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Eru Zain
Mahasiswa di Purwokerto. Salah seorang anggota KAMMI Daerah Purwokerto. Anak pertama dari 3 bersaudara. Anggota juga di Forum Lingkar Pena Purwokerto.

Lihat Juga

Ilustrasi. (collegeaffairs.in)

Membentuk Karakter Pemimpin yang Islami Sejak Dini

Organization