Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Together We Fight!

Together We Fight!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Anak Palestina ditangkap militer Israel (knrp)

dakwatuna.com Kementerian Dalam Negeri Hamas, Kamis (28/6/2012), menayangkan apa yang mereka sebut sebagai rekaman pengakuan kolaborator dan informan kawakan Israel di Jalur Gaza (Kompas, 29/6/2012).

Video tersebut memperlihatkan beberapa orang, meliputi mantan anggota kelompok gerilyawan Palestina dan seorang mantan personel keamanan Pemerintah Otonomi Nasional Palestina (PNA) yang mengaku membantu Israel dalam memberikan informasi penting, hingga Israel berhasil menewaskan para pemimpin senior Hamas dan gerakan perlawanan lainnya.

Kita tidak perlu terkejut dengan fakta di atas, bukankah Al-Quran sudah menyampaikan, bahwa orang-orang zhalim memang senantiasa bekerja sama dalam kezhalimannya.

Sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertaqwa.” (QS. 45:19)

Tertegun saya di depan sebuah food court, tepatnya di kaca bagian luar sebuah restoran ayam goreng terkenal. Di sana menempel beberapa stiker, salah satunya bergambar seorang bayi dengan perut tertembus peluru. Di samping gambar mengenaskan itu, tertulis sebuah pesan “Dengan makan di restoran ini, berarti Anda telah menyumbangkan harta Anda untuk membeli peluru yang digunakan tentara Zionis menembak anak-anak Palestina.” begitulah lebih kurang bunyi pesannya.

Kejadian di atas saya alami tahun 2003, ketika itu intifadhah (gerakan perlawanan) di Palestina kembali pecah pasca dilindasnya Rahel Corrie—relawan kemanusiaan asal Amerika—oleh panser Israel. Sayang, stiker serupa kini jarang beredar lagi. Padahal efeknya sangat terasa, minimal untuk saya pribadi.

Sudah sangat banyak artikel-artikel yang ditulis seputar Palestina. Dari sejarah hingga keadaannya sekarang, tapi anehnya, tetap saja banyak yang tak paham dengan apa yang terjadi, bahkan para pemuda Muslim sebagai generasi harapan.

Coba Anda tanya pada remaja di sekitar Anda, apa itu Suju? Niscaya mereka mampu memberi jawaban yang detail dan komplit, bahkan lebih dari yang kita kira. Lalu tanyakan pada mereka tentang Palestina, Zionisme, Al Aqsha, Al Quds, dan lain sejenisnya. Bersiaplah untuk kecewa.

Bukan hanya ketidakpahaman, ketidakpedulian pun terindikasi punya peran besar. Informasi soal Palestina bukan tak terakses oleh mereka (pemuda dan remaja Muslim), internet bukan lagi barang mahal. Televisi dan media cetak pun banyak menyajikan seputar perang Palestina-Israel, meski kadang tidak berimbang. Bagaimana pun, media punya pilot yang bertugas mengarahkan opini pembaca/penontonnya.

‘Sekadar tahu’ dianggap lebih dari cukup, dengan demikian (sebagian besar) pemuda Muslim merasa aman dari label ‘merem informasi’ sebagaimana mereka wajib punya akun Facebook untuk tidak dibilang gaptek.

Padahal tahu saja jelas tidak cukup, karena tidak berpengaruh pada masalah yang ada. Harus tercipta sebuah kegelisahan. Kemudian diikuti dengan tindakan nyata yang rasional.

Atas perkara ketidaktahuan ataupun ketidakpedulian, semua pihak yang paham dan peduli wajib untuk mengingatkan yang lalai. Jika di Eropa sana yang notabene mayoritas penduduknya bukan Muslim, sudah banyak melakukan gerakan-gerakan membantu Palestina atas nama kemanusiaan, maka pemuda Muslim tentunya punya alasan lebih besar lagi untuk banyak bertindak.

Paling tidak ada tiga hal termudah yang bisa dilakukan dalam membantu Palestina; Menyampaikan informasi penindasan Zionis Israel terhadap Palestina di mana saja (dalam pergaulan sehari-hari, menulis di media, blog, twitter dll); Memboikot produk-produk perusahaan pendukung Israel; dan mendoakan kemenangan untuk Palestina.

Mengenai informasi dan doa, semua tentu setuju. Berbeda dengan gerakan boikot yang ternyata masih pro-kontra.

Gerakan boikot pertama kali difatwakan oleh Yusuf Qaradhawi, seorang ulama Qatar yang juga anggota Ikhwanul Muslimin. “Each riyal, dirham …etc. used to buy their goods eventually becomes bullets to be fired at the hearts of brothers and children in Palestine. For this reason, it is an obligation not to help them (the enemies of Islam) by buying their goods. To buy their goods is to support tyranny, oppression and aggression.

“Setiap riyal, dirham, dll yang digunakan untuk membeli barang-barang mereka (Amerika dan Israel, pen.) akan menjadi peluru untuk membunuh pemuda dan anak-anak di Palestina. Karena alasan tersebut, adalah kewajiban kita untuk tidak membantu mereka (musuh-musuh Islam) dengan membeli barang-barang mereka. Membeli barang-barang mereka sama dengan mendukung tirani, penindasan dan agresi.”

Tindakan boikot sebenarnya adalah perlawanan tanpa kekerasan yang berdampak signifikan dalam menghancurkan perekonomian Israel secara perlahan tapi pasti. Beberapa merek produk yang masuk dalam daftar boikot dapat dilihat di situs www.inminds.co.uk yang selalu update memperbarui listnya.

Koran ekonomi Marker yang berafiliasi dengan Israel mengakui bahwa boikot terhadap produk Israel ‎telah menimbulkan krisis pada sektor ekspor Zionis. Boikot produk Israel berdampak bagi 21 % ‎ekspor rezim ini.

Angka tersebut berdasarkan riset badan perdagangan ‎Zionis bulan Februari 2009. Riset dilakukan terhadap 100 ‎perusahaan Israel yang aktif di sektor ekspor produk teknologi tinggi, ‎logam, produk kimia, bahan makanan dan bangunan.‎

Surat kabar Israel Ma’arif menyebutkan bahwa perusahaan Mul-T-Lock menutup cabang-cabangnya di pemukiman di Tepi Barat dan memberhentikan 50 pekerjanya, karena tekanan politik Eropa dan adanya kampanye untuk boikot produk mereka (islammemo.cc, 22/12/2010).

Dari sumber yang sama dilaporkan pula bahwa perusahaan Assa Abloy asal Swedia dan perusahaan Mul-T-Lock telah mengumumkan keputusannya untuk memindahkan pabrik yang ada di pemukiman Brochin ke daerah di dalam Green Line. Keputusan ini mereka keluarkan setelah adanya laporan keras yang dikeluarkan oleh organisasi hak asasi manusia dan gereja di Swedia kepada manajemen perusahaan, serta adanya kemungkinan penuntutan perusahaan tersebut karena melanggar hukum internasional.

Butuh kesabaran dan optimisme untuk tetap kontinyu melakukan boikot. Hal inilah yang mungkin menjadikan tidak sedikit pihak tak setuju dengan gerakan perlawanan yang sebenarnya sangat sederhana itu.

Banyak yang beranggapan bahwa memboikot produk dari perusahaan besar yang telanjur populer adalah tindakan tak masuk akal. Alasannya, produk yang dimaksud berkualitas dengan harga terjangkau atau tak ada alternatif lain sebagai gantinya.

Lucunya, kenapa sebagian orang menganggap hal tersebut mustahil sementara ada sebagian lain yang telah melakukannya? Barangkali semua kembali pada niat dan kesungguhan.

Ada lagi alasan lain yang membuat orang enggan memboikot. Dampak yang kecil, sebab setelah Israel nyaris kolaps, nyatanya ada ribuan pendukungnya—kita tahu pemerintah negara-negara Eropa dan Amerika juga punya kepentingan atas konflik Palestina—yang akan bangkit untuk membantu sekutu mereka.

Seorang trainer bahkan pernah menyampaikan pada saya, “Berapa rupiah sih yang sampai ke Israel gara-gara Nokia ini! Gak ngefek,” katanya. Bisa dibayangkan apa jadinya jika semua orang di dunia ini beranggapan demikian? Padahal jika setengah saja dari keseluruhan penduduk Indonesia berani menahan uangnya dari membelanjakan produk-produk tersebut, hasilnya tentu luar biasa.

Kita coba hitung-hitung kasarnya. Anggaplah harga ponsel yang dimaksud sebesar 1 juta rupiah, dan 0,1% saja yang didonasikan produsen ponsel itu untuk Israel, maka jika setengah penduduk Indonesia—katakanlah 100 juta orang—‘menyumbangkan’ 1.000 rupiah (dari 0,1% x 1 juta), jadi total bantuan tersebut adalah 100 miliar rupiah!

Angka di atas baru untuk pembelian ponsel, bagaimana pula produk lain yang sehari-hari kita konsumsi. Dan bagaimana kiranya jika seluruh penduduk Indonesia turut membantu Israel lewat kantong belanjanya, bagaimana jika hal yang sama dilakukan seluruh warga dunia.

Ada lagi pendapat lain yang kontra terhadap boikot, yakni soal tenaga kerja. Perusahaan Amerika dan Israel bisa dipastikan juga memiliki karyawan Muslim, ataupun non-Muslim tapi lebih berpihak pada Palestina. Bagaimana nasib mereka jika perusahaan tersebut bangkrut.

Masalahnya bukan pada pro atau kontra terhadap gerakan boikot, tapi bagaimana agar semua yang paham dan peduli pada Palestina sepakat bahwa boikot bukanlah tindakan sia-sia.

Mungkin kita bisa berharap pada pengusaha Muslim untuk membangun usaha yang menghasilkan produk dengan kualitas dan harga bersaing, agar konsumen tak ragu untuk memboikot produk unggul milik Israel atau Amerika. Jika perlu, bubuhi label “Bukan Produk Israel-AS” pada kemasannya. Saya yakin label tersebut akan menuai simpati banyak orang.

Dan yang khawatir dengan masa depan keuangannya, yakinlah bahwa jika satu perusahaan runtuh, maka akan lahir perusahaan lain yang menggantikannya.

Paling tidak dengan memboikot, kita bisa lebih mencintai produk dalam negeri dan menjadi stimulan bagi para wirausahawan untuk membuka berbagai usaha kreatif yang dapat menyerap tenaga kerja dari perusahaan lain.

Tindakan boikot, menurut hemat saya, bahkan jauh lebih efektif daripada aksi solidaritas yang dilakukan dengan turun ke jalan-jalan. Meneriaki yel-yel anti Amerika dan Israel sementara sengaja atau tidak tetap membantu mereka dengan sukarela melalui pembelian produk yang seharusnya diboikot.

Maka pada International Conference For The Freedom of Al-Quds and Palestine yang akan digelar di Bandung pada 4-5 Juli 2012, saya ingin menitip pesan pada semua yang hadir atau mengikuti beritanya, ketahuilah bahwa Zionis sudah mengenal watak kita, sangat reaktif, tapi marah (baca: solidaritas) hanya setelah adanya kejadian besar. Setelah itu menguap tanpa bekas. Yang dibutuhkan adalah solusi, bukan sekadar kecaman. Belum lagi jika berujung bentrokan, Palestina tak menang, Israel pun tetap melenggang.

Dalam konferensi yang hasilnya kelak akan dibawa ke sidang umum PBB tersebut, saya pun berharap ada poin boikot dengan penekanan atas nama HAM, sebagaimana Amerika dan Eropa sangat lantang meneriakkan hal yang sama untuk perkara lain yang sebenarnya menyangkut kepentingan mereka di negara-negara Timur Tengah dan Asia.

Juga label “teroris” yang pastinya lebih tepat disandang Israel daripada HAMAS maupun gerakan perlawanan lainnya, yang selama ini diputar balik oleh media.

Selain itu, perlu pula dimaklumatkan kepada warga dunia yang berpihak pada kebenaran untuk mengambil hak mereka dalam rangka menghentikan penindasan suatu bangsa terhadap bangsa lainnya. Dikatakan hak, agar kita lebih dengan senang hati melakukannya, sebab kewajiban pada umumnya identik pada sesuatu yang memberatkan.

Khusus untuk Indonesia sendiri, kita perlu mengingat kembali amanah UUD 1945 yang pada paragraf pembukanya dengan sangat terang menentang segala penjajahan.

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Kita punya harapan yang sama, maka wajib bekerja sama. Boikot adalah tindakan efektif termudah dalam rangka perlawanan terhadap Zionisme yang telah merusak tatanan dunia dengan segala kekejian dan fitnahnya, pada Palestina secara khusus dan Islam secara umum.

Sedikit kita mengingat sejarah. Pada abad pertengahan, ketika tragedi kemanusiaan terus menimpa bangsa Palestina, para ahli sejarah dan peneliti berbondong-bondong mempelajari dan menulis tentang Islam dan Palestina, karena yakin bahwa agama serta negara tersebut akan hilang.

Nyatanya, setelah Perang Salib, Islam dan Palestina masih berdiri, dengan segala kondisinya yang sekarang. Artinya, sudah dipastikan bahwa apa pun yang terjadi, kebatilan tidak akan pernah menang. Ini adalah bagian sejarah yang memotivasi sekaligus mengingatkan, Palestina—juga negeri lainnya yang terjajah—tidak membutuhkan kita untuk tetap berdiri. Tapi kehadiran kita adalah bagian dari sejarah pribadi kita, untuk tercatat atau tidak dalam proses kemenangan itu.

Pada hakikatnya, kita memang pantas bertindak. Together we fight!

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Lahir di Jambi tahun 1984. Dan hingga kini tinggal di Jambi. Selain sebagai ibu rumah tangga, juga bekerja di swasta dan penulis lepas.

Lihat Juga

Aksi Solidaritas Untuk Palestina di Car Free Day Jakarta