Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menjemput Kenikmatan Tarawih

Menjemput Kenikmatan Tarawih

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com – Hari ini memasuki Ramadhan ke- 5 atau ke- 6, sungguh tidak terasa perjalanan waktu. Sisa Ramadhan tinggal sedikit, artinya jatah untuk mendapatkan pahala kebaikan yang berlipat juga berkurang. Menyadari hal ini tentu saja kita ingin agar sisa Ramadhan ini termanfaatkan sebaik mungkin dengan berbagai amalan sunnah yang sudah tersedia khusus di bulan ini ataupun amalan yang ada di bulan lain. Salah satu amalan sunnah yang hanya hadir di bulan Ramadhan dan patut kita beri perhatian khusus adalah shalat tarawih.

Para ulama sepakat bahwa shalat tarawih hukumnya adalah sunnah (dianjurkan). Bahkan menurut ulama Hanafiyah, Hanabilah, dan Malikiyyah, hukum shalat tarawih adalah sunnah mu’akkad (sangat dianjurkan). Shalat ini dianjurkan bagi laki-laki dan perempuan. Shalat tarawih merupakan salah satu syiar Islam.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759). Yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah shalat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh An Nawawi. Hadits ini memberitahukan bahwa shalat tarawih bisa menggugurkan dosa dengan syarat karena iman yaitu membenarkan pahala yang dijanjikan oleh Allah dan mencari pahala dari Allah, bukan karena riya’ atau alasan lainnya.

Jadwal shalat tarawih yang dilaksanakan pada malam hari tepatnya setelah shalat Isya’ tampaknya sangat menguji kita. Waktu di mana sebagian orang biasanya mencari hiburan lewat menonton, sebagian memilih untuk istirahat setelah bekerja seharian, dan mungkin bagi para pelajar atau mahasiswa adalah waktu untuk mengerjakan tugas sekolah atau kuliah. Nah, di bulan yang mulia ini tampaknya kita perlu berpikir ekstra dalam memanajemen waktu agar tidak satu pun kegiatan kita terbengkalai saat tarawih meminta kita memberikan perhatian khusus.

Satu fenomena yang ditemukan di lapangan adalah kondisi jamaah shalat tarawih yang sangat memprihatinkan. Bukan, ini bukan bicara tentang kuantitas. Mari sedikit lupakan tentang jumlah jamaah shalat tarawih karena toh tidak bisa dipungkiri jumlahnya lumayan banyak. Mulai dari anak- anak, dewasa, hingga orangtua memadati masjid di minggu pertama Ramadhan. Tapi yang menjadi pusat perhatian kita adalah kesiapan jamaah dalam mendirikan shalat yang hanya ada di bulan Ramadhan ini.

Terkantuk- kantuk hingga tak jarang hampir terjatuh dan bahkan ada yang nyaris ketinggalan gerakan shalat imam adalah kondisi yang seharusnya menjadi sorotan dalam Ramadhan kita kali ini. Akankah tragedi yang demikian menjadi rutinitas di setiap Ramadhan demi Ramadhan?

Jika boleh jujur, kita patut memiliki persiapan khusus dalam menjemput kenikmatan tarawih. Artinya, kenikmatan itu tidak kita dapatkan begitu saja tanpa ada upaya yang maksimal. Walaupun katanya syaitan dibelenggu dalam bulan ini namun selalu saja ada hal- hal yang mengurangi kekhusyukan kita dalam beribadah, khususnya shalat tarawih. Memahami hal ini, salah satu upaya yang perlu kita lakukan setelah niat yang kuat adalah tidur di siang hari.

Tidur di siang hari ketika bulan Ramadhan ternyata mempunyai dampak yang besar dalam pengkondisian fisik ketika shalat tarawih. Ini seringkali kita kesampingkan dalam keseharian mengingat banyaknya tugas dan agenda yang harus kita selesaikan di siang hari. Namun ini patutnya bukan menjadi satu alasan bagi kita untuk mengambil hak mata atas istirahat yang cukup. Tidur yang berkualitas walau dengan kuantitas jam yang tidak banyak menjadikan anggota tubuh lebih segar dalam beraktivitas di malam hari. Jadi apapun profesi kita dirasa sempat dan hendaknya disempatkan untuk tidur siang.

Ketika di siang hari kita sudah memiliki niat yang kuat untuk menjemput kenikmatan shalat tarawih kemudian diikuti dengan upaya berupa tidur siang, insya Allah akan ada kemudahan yang akan kita dapatkan dalam menjemput kenikmatan shalat tarawih. Ini mengindikasikan bahwa kita memberi perhatian khusus pada bulan Ramadhan dan benar- benar memanfaatkan setiap peluang yang dihadirkan oleh Allah. Begitulah seharusnya kita, muslim sejati menjemput ridha Ilahi!

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswi tingkat akhir Universitas Negeri Medan, aktif di LDK sebagai staff Dept. Rekrutmen dan Pembinaan Kader.

Lihat Juga

Aswar Anas, Mahasiswa Indonesia yang menjadi Imam Tarawih di Turki

Aswar Anas, Imam Shalat Tarawih di Turki Asal Indonesia