Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Aku Tak Ragu Soal Cinta

Aku Tak Ragu Soal Cinta

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comCinta… Adakah dari kalian yang dapat mendefinisikan cinta secara pasti? Kurasa semakin keras kita mendefinisikannya, semakin terbatas ruang lingkup cinta yang kita rasakan. Cinta adalah sebentuk emosi manusiawi yang merupakan anugerah dari Sang Maha Pencinta. Banyak para tokoh mencoba mendefinisikan cinta dengan beragam kalimat mereka sendiri. Dari sekian banyak definisi cinta yang bermunculan itu, ada sebuah kesamaan yang patut kita garis bawahi, cinta yang sesungguhnya membawa kita kepada hal-hal yang baik, yang mendekatkan kita dengan Sang Pemilik Cinta.

Cinta adalah bagian dalam kehidupan yang akan senantiasa hadir. Pernahkah kau dengar bahwa hujan adalah bukti cinta Allah kepada manusia? Saat hujan, Allah turunkan rahmatNya kepada kita. Hujan adalah salah satu bukti cinta. Apakah Allah biarkan bumi ini tandus dan gersang? Jawabannya tentu tidak. Allah turunkan hujan sebagai bukti cintaNya pada kita agar bumi ini sejuk dan pepohonan tumbuh subur. Tentu saja, itu karena cinta.

Cinta itu bermacam-macam, ada cinta kepada Allah, cinta pada manusia, cinta pada agama, cinta pada tanah air, cinta pada sebuah pekerjaan, dan masih banyak lagi. Ya, sangat banyak dan entah disadari atau tidak kita telah memutuskan menjadi seorang pecinta dalam kehidupan ini. Karena mencintai setiap hal adalah keputusan yang kita buat. Mencintai berarti siap memberikan cinta sepenuh hati, bukan sekadar mengharapkan cinta dari sesuatu yang kita cintai. Pertanyaannya, sudahkah kita benar-benar mencintai? Atau hanya baru mengucapkannya saja? Jika kau katakan kau mencintai Allah, sudahkah kau cintai segala hal yang Dia cintai? Sudahkah kau melakukan segala sesuatunya hanya karena Allah? Jika kau cinta pada orang tuamu, sudahkah kau taat kepada mereka? Atau masih juga membangkang dan membuat mereka menangis? Jika kau mencintai pekerjaanmu, sudahkah kau melakukan pekerjaan itu dengan penuh cinta? Atau kau hanya mengejar tahta dan harta semata?

Saat kita mencintai sesuatu, ada satu hal yang akan terasa dalam diri kita. Kebahagiaan. Cinta adalah sesuatu yang dapat membawa manusia menuju kebahagiaan. Sebagai contoh, jika seorang guru mencintai pekerjaannya demi memajukan anak bangsa, tentu ia akan bahagia dan sepenuh hati menyampaikan pelajaran kepada murid-muridnya. Dan tentunya murid-muridnya pun akan merasakan betapa guru itu mencintainya dengan ilmu yang diberikan kepada mereka. Tidak hanya sekadar mengejar materi ataupun jabatan.

Menumbuhkan cinta adalah perkara yang lebih mudah, dibandingkan pekerjaan cinta selanjutnya yaitu merawat dan mempertahankannya. Perjalanan bersama cinta akan beriringan dengan berbagai duri di dalamnya, yang terkadang membuat kita lupa akan cinta yang awal kita bangun, bahkan terkadang membuat terkikisnya cinta itu. Maka ternyata mencintai pun adalah sebuah tantangan dan tanggung jawab. Mencintai adalah tantangan untuk kita berkorban demi sesuatu yang kita cintai. Mencintai adalah tanggung jawab untuk mempertahankan kebahagiaan dalam cinta itu sendiri.

Lalu, bagaimana dengan cinta sejati? Cinta sejati bagi orang yang beriman adalah cinta kepada Rabb-nya. Cinta terbesar dan cinta yang paling hakiki. Sementara cinta yang lain, adalah dalam rangka mencintai karena Allah. Cinta sejati hanya pantas kita tujukan pada Allah, Sang Pemilik Cinta. Tak ada satu pun alasan, yang dapat menggantikan posisi Allah dalam cinta sejati yang kita punya.

Sebagai seorang pecinta, tentu kita menginginkan cinta yang sama dari orang yang kita cintai. Kini pertanyaannya, layakkah kita dicintai? Jika cinta yang kita berikan bukan cinta yang tulus, maka pantaskah kita mendapatkan cinta yang lebih baik dari cinta yang kita berikan? Sebarkanlah cinta kepada semua orang dengan sepenuh hatimu, karena saat kita menebarkan cinta ke semua orang itulah, kita tengah mengundang cinta untuk datang.

Meskipun panjang lebar aku jelaskan, masing-masing dari kita tentu memiliki makna tersendiri atas cinta. Tidak selalu sama, tapi kadang juga tidak berbeda. Walau begitu, ternyata obrolan tentang cinta belum dan tak akan pernah selesai. Aku merasa cinta ternyata memang harus kuukir dalam kata, bukan untuk kuuraikan, tapi untuk kubuat cinta sebegitu meyakinkannya. Dengan rasa yang kuendapkan dalam bait-bait kata. Meski aku tau cinta yang nyata senyata-nyatanya hanya bisa kurasakan, bukan kuungkapkan. Cinta memang tak terlihat dan tak terdefinisikan, tetapi tak ada yang membuatku ragu akan keberadaan cinta. Karena cinta yang kumiliki, kusandarkan hanya kepadaNya.

Kutulis dalam waktu cinta yang Dia cintai, yang membuatku merasa cintaNya begitu dekat…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 9,45 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Salsabila Althafunnisa
Salsabila Althafunnisa adalah nama pena dari Eka Hertika Rizky, putri pertama pasangan Didik Boediarto dan Mimin Kusmini. Perempuan berusia 21 tahun ini kini menetap di Bandung dan sedang menjalankan studinya di jurusan Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia. Penulis juga biasa dikenal dengan nama Eky oleh teman-temannya. Hobinya menulis, membaca, berdiskusi, dan berorganisasi. Pemilik motto hidup "Khairunna Anfa'uhum Linnas ini kini sedang menyusun buku yang berisi kumpulan tulisannya.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Geliat Cinta Pejuang