Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Hama Kecilpun, Dikhawatirkan Petaninya

Hama Kecilpun, Dikhawatirkan Petaninya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (bisnis.com)

dakwatuna.com “Kemaksiatan berapapun kecilnya adalah berbahaya, bukankah Nabi SAW bersabda: “apabila seorang hamba berbuat dosa, maka diberikan noda hitam dalam hatinya.” Maka janganlah melihat kecilnya sebuah maksiat, tapi lihatlah kepada siapa maksiat itu diarahkan?” (Alhadits)

Semakin tinggi sebuah pohon, maka semakin besar pula angin yang menerpanya. Kaidah yang sudah menjadi sunnatullah dalam langkah-langkah kebaikan dan dakwah. Dakwah yang penuh dengan harum dan warna warni bebungaan, namun dipenuhi dengan jalan penuh duri dan kesakitan. Begitulah ust. Mustafa masyhur memberikan pemaknaan akan rintangan jalan dakwah.

Sahabat, kita adalah lembaran berbagai warna yang terlukis dan menjadi satu kesatuan yang utuh. Dahulu kita tidak mengetahui sedikit pun. Kemudian kita terus dan terus diajarkan banyak hal oleh lingkungan kita. Kemudian sedikit demi sedikit kita mengetahui hal-hal baru hingga kita menjadi tahu. Lingkungan yang mentransformasikan itu menjadi karakter.

Anak balita, anak kecil sekitar sembilan sampai satu tahun yang baru bisa berjalan terlihat amat lucu dan manis. Ya, karena memang mereka masih sangat bersih dan suci dari kebiasaan dan aktivitas seperti halnya orang dewasa. Tidak pernah terdengar cerita ada anak dewasa yang kemudian diperlakukan seperti anak balita di cubit-cubit pipinya sambil bilang “wuiih manisnya, lucunya, dll”. Jikalau pun ada makan itu sangat sedikit. Ya memang benar, semakin besar dan tumbuh manusia, maka semakin besar pula hama yang hinggap.

Pelajaran yang masih sangat teringat dari seorang guru “manusia itu akan tumbuh dan tumbuh. Seperti biji yang ditanam menumbuhkan tunas, mengeluarkan akar, mengokohkan batang, menghasilkan ranting, daun, hingga berbunga dan menghasilkan buah”.

Ya, pesan dalam pesan itu adalah bahwa semakin tumbuh besar, maka nilai kebermanfaatan yang dibawa harus mengikutinya tumbuh lebih banyak. Sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat bagi orang lain. Saat memperhatikan bunga, petani dan orang lain akan memandang dengan bahagia menatap bunga yang indah. Saat menghasilkan buah, maka petani akan merasa bahagia karena kesabaran selama menanam hingga tumbuh membuahkan manfaat besar.

Masa-masa dalam menanam itu, petani akan terus memperhatikan dan memelihara biji yang ditanamnya dengan memupuk, membasmi hama, memotong rumput liar di sekelilingnya, dll. Saat tumbuh itulah maka semakin banyak dan berbeda-beda jenisnya sehingga perlu diberikan pestisida dan obat pencegah untuk membasmi hama-hama itu. Meskipun hama yang kecil, tapi ternyata sangat berbahaya untuk tumbuh kembangnya biji dan tanaman yang ditanam sang petani.

Jika kita analogikan biji itu sebagai hati, karena sebuah pohon besar memberikan buah bermula dari bijinya pun manusia memberikan manfaat kepada orang lain bermula dari hatinya. Maka dari hati itulah akan tumbuh kembang menjadi bunga dan buah yang akan memberikan manfaat untuk orang lain. Ingat perkataan Rasulullah SAW? “Hati itu seperti besi, ia pun bisa berkarat”. Dalam hal ini, maka kita jangan pernah bosan dalam menjaga dan melindunginya baik dari hujan, panas, dan gejala lainnya agar besi itu tidak berkarat. Besi yang disimpan dan tidak diberikan perlindungan anti karat akan mengalami karat meskipun hanya terkena angin dingin. Hari pertama besi itu terkena hujan, maka belum terlihat jelas karatan di sana. Akan tetapi lambat laun besi itu akan mengalami perubahan warna hingga muncul warna kuning, semakin terhempas angin, air, dll maka akhirnya besi itu mengarat berwarna gelap dan susah untuk dibersihkan. Sekalipun dibersihkan, maka karat hitam itu akan terlihat di permukaan besi.

“Kemaksiatan berapa pun kecilnya adalah berbahaya, bukankah Nabi SAW bersabda: “apabila seorang hamba berbuat dosa, maka diberikan noda hitam dalam hatinya.” Maka janganlah melihat kecilnya sebuah maksiat, tapi lihatlah kepada siapa maksiat itu diarahkan”

Benar, kita bukanlah barisan malaikat yang lepas dari kesalahan. Akan tetapi kita memiliki kesempatan untuk menjadi manusia terbaik di sisi Allah. Mari kita pelihara diri kita semua dari hama-hama yang akan membuat karat hitam. Karena sekecil apapun itu akan meninggalkan jejaknya. Wallahu’alam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 7,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nada Ash-Shubhi
Lahir di Bandung 21 September. Anak ke empat dari enam bersaudara; Amal, Maruf, Hodam wijaya, Gigin Ginanjar, Wiguna Syukur Ilahi. Inilah keenam lelaki yang selalu disebut-sebut dalam doa orang tua itu. Doa kesuksesan untuk masa depan. Mereka adalah anak sejarah yang akan menggoreskan tinta di lembaran sejarah peradaban sebari penguak dinding sejarah. Semoga menjadi pemimpin di negeri sarat nestapa ini. Lahir dari pasangan Solihat dan Adeng. Setelah menyelesaikan studi S1 program studi perbankan syariah, STEI SEBI, Depok. Kini aktivitas melanjutkan studi di STIS Nurul Fikri, Lembang jurusan siyasah syariah. Mulai mencoba menulis setelah lulus dari SMA, meskipun saya tidak tahu apa yang saya tulis. Beberapa karyanya diantaranya adalah Buku Belajar merawat indonesia, serial kepemimpinan alternatif (Bersama beastudi etos DD), Buku Talk Less Do More (SEBI Publishing), Paper Model agricultural Banking, Paper Peran LPZ dalam pengembangan ekonomi umat di Indonesia, Buku Catatan sang surya (Bersama Komunitas MOZAIK Sastra)

Lihat Juga

padang-rumput-hijau-langit-biru-indah

Waspada Istidraj