Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kenapa Aku Memilih Tarbiyah

Kenapa Aku Memilih Tarbiyah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

Bismillahirrahmaanirrahiim

Jiwa pejuang-pejuang itu bangkit
Pandanganya Tulus, Suara hatinya Menjerit
Bersaksi pada diri mereka Sendiri
Hidup kami, jiwa kami, hanya untuk Rabbun Illahi

dakwatuna.com Saat sibuk mengurusi urusan kantor travel sederhanaku sambil chatingan dengan beberapa kawan lama tak terasa membuatku asyik duduk di meja kerjaku hingga tengah malam, di sesi chatingan itu ada banyak pertanyaan yang muncul kenapa si Tri (Panggilan teman SMA, pen) bisa berubah signifikan dibanding waktu SMP dan SMA dulu ya? Wa… Dapat ide menarik buat nulis curhatku tentang pengalaman hidup, suka duka, dan berbagai hal yang aku lalui semenjak bertaubat dan belajar terus konsisten dengan dakwah, kapan, di mana, bagaimana, dan dengan peran apapun insya Allah. Mudah-mudahan ada sedikit manfaat buat teman-teman pembaca.

Aku sangat bersyukur kepada Allah SWT diberikan hidayah dan kenikmatan bisa beberapa langkah lebih maju dan yakin menjadikan Islam sebagai jalan hidup dan garis perjuanganku, di tengah banyak orang-orang baik yang belum Allah SWT panggil hatinya kepada Islam. Semua kenikmatan ini aku dapatkan dan pelajari dari banyak orang dan proses panjang pencarian jati diri, hingga aku menemukan dan memutuskan untuk memilih berjuang dengan jamaah dakwah tarbiyah. Di tengah banyaknya organisasi dakwah yang berkembang, aku pun banyak bersinggungan dengan berbagai organisasi tersebut. Di antara semuanya, aku memilih tarbiyah karena di dakwah inilah aku mendapatkan pemahaman bahwa Islam adalah agama yang syumul, Islam adalah meng esakan Allah SWT, Islam adalah urusan Ibadah, Islam adalah urusan perilaku, Islam adalah urusan politik, Islam adalah ekonomi, Islam adalah urusan negara, Islam adalah urusan Sosial, Islam adalah urusan rumah tangga, Islam adalah sistem hidup yang mengatur segala hal. Sesuai dengan firman Allah SWT:

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu (QS. Al-Baqarah: 208)

Ta’aruf Dengan Dunia Tarbiyah

Perkenalanku dengan jamaah tarbiyah sebenarnya sudah dimulai dengan interaksiku pada kakak kelas waktu di SMP, dimana mereka rajin membuat pengajian di mushalla SMP Negeri 3 Langsa. Namun, saat SMP aku masih belum terlalu tertarik dengan hal-hal berbau “islami” karena kesibukanku di dunia olahraga, akademik, bisnis, dan hal-hal lain yang lebih aku minati. Hal yang unik dari kakak-kakakku itu di awal interaksi kami adalah “Budaya Senyum Tulus” mereka yang tak pernah lepas dari wajah (ini menjadi inspirasiku untuk terus tersenyum di setiap situasi), dan memang meskipun mereka masih SMP, namun tampilan mereka sudah seperti anak muda-mudi yang matang, dan ber aura positif, itu yang membuat aku kagum pada mereka saat itu.

Interaksi intensku dengan jamaah tarbiyah ini dimulai saat aku masuk SMA 1 Langsa. Di sinilah aku mulai tertarik ikut pengajian di organisasi ROHIS di sekolahku itu. Kejadian pertama kali aku ikut pengajian itu sebenarnya tidak sengaja, saat minggu-minggu pertama di SMA aku sedang ingin mencuci sepatu sebelum persiapan main bola di sabtu siang setelah sekolah, namun tanpa sengaja aku melihat beberapa teman dan senior yang duduk melingkar dan mendengarkan tausiah dari seorang anggota DPRD, hal ini begitu menarik bagiku, “kok ada anggota DPRD mau ngisi pengajian di SMA? Ikutan aja ah,” pikirku saat itu. Pertemuan pertama itu begitu menarik perhatianku, saat sang ustadz (Ustadz Aidil Fan) dengan lugas dan menarik berbicara tentang Islam.

Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam) (Qs. Yunus: 25)

Secercah Cahaya Hidayah Itu Datang

Inilah hal sangat mahal itu, HIDAYAH… Masya Allah, ya Rabb aku bersimpuh dan bersyukur padaMu dengan rasa cinta, takut, dan harap, jagalah HIDAYAH ini ya ALLAH… jagalah iman dan azam hambaMu ini dalam dakwah ini. Interaksiku dengan pengajian itu semakin hari semakin membuatku penasaran dan “menggila” untuk mengikuti apapun kegiatan yang dilaksanakan oleh para ustadz, di undang maupun tidak, begitu dapat informasi, aku langsung ke lapangan. Kadang-kadang karena ketidakpahaman, aku pernah sekali mendapat pengalaman menarik saat mendengar info pengajian umum, ternyata acara di Islamic Center Langsa itu adalah “Pelatihan Munakahat” bagi kader-kader senior. Karena PD nya aku nyelonong aja…jadi ketahuan deeehhh! aku dipandangi “sengit” oleh peserta lainnya, yang rata-rata saat itu mahasiswa dan sarjana, sedangkan aku masih anak culun kelas 1 SMA, semua keheranan mereka aku balas aja dengan senyum halus nan lugu anak SMA kelas satu yang sedang jatuh cinta dengan ilmu ini, hehehe (tersenyum), pengalaman menarik, sekaligus unik saat sang ustadz yang dari Jogjakarta itu banyak berkisah tentang berbagai hal mengenai Munakahat.. Hehehe lagi… jadi “kembang kempis“ napas ini mendengarkannya. Tapi ilmunya masya Allah, penuh dengan manfaat..

Ghirah dakwahku semakin menggelora saat aku yang baru belajar Islam ini mendapatkan kepercayaan menjadi ketua ROHIS SMA 1 Langsa, konsekuensi menjadi ketua ROHIS SMA 1 Langsa ini membuatku jadi pesantren kalong di salah satu Dayah (Pesantren) Darul Muta’allimin untuk memperdalam ilmuku mempelajari bahasa Arab dan kitab –kitab Arab kuno dasar seperti kifayatul ghulam, bulughul maram, li’annatud thalibin, dan banyak lagi kitab-kitab yang aku pelajari selama menjadi santri kalong ini, juga dari berbagai ustadz tarbiyah yang memiliki kapasitas ilmu syar’i. Alhamdulillah, guru-guru pesantren dan ustadz-ustadz tarbiyah yang ikhlas itu banyak memberiku ilmu yang sangat bermanfaat dalam memimpin Rohis dan diminta untuk banyak menjadi narasumber berbagai forum pengajian, maupun keaktifanku di OSIS, KAPMI, IKADI, dan berbagai kegiatan yang aku laksanakan dengan berkeliling Aceh membuka lahan dakwah baru tarbiyah di sekolah-sekolah dengan sedikit ilmu yang aku dalami. Indah betul pengalaman berkeliling itu, ada sekolah yang welcome, ada yang menolak, ada yang menuduh kami ajaran sesat, semua yang dikerjakan dengan niatan ALLAH SWT saja senantiasa menguatkan hati kami. Ya Allah, kuatkan hati kami, kuatkan hati kami, itulah doa yang selalu saya ucapkan.

Tahukah engkau, saat menjadi ketua ROHIS inilah potensiku meledak, anak “culun dari kampung” ini tanpa sadar jadi lancar berbahasa Inggris, selalu mendapat peringkat satu di kelas, bisa ikut olimpiade FISIKA, juga sudah melanglang buana mengikuti berbagai event ke seluruh nusantara hingga luar negeri, sebuah nikmat yang tidak banyak diberikan pada orang-orang biasa. Fabiayyi Aaala Irabbikumatukazzibaan. Maka benarlah firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS. Muhammad: 7)

Benarlah bahwa saat kita konsern dengan dakwah (menolong agama Allah), maka Allah SWT akan selalu menolong kita dan meledakkan potensi kita untuk menjadikan kita berkedudukan di dunia dan akhirat. Belum lagi kenikmatan bertemu dengan orang-orang shalih, bisa menangis sesugukan saat muhasabah di acara-acara MABIT (malam bina iman dan taqwa), sungguh suatu kenikmatan yang amat besar aku rasakan, tangisan itu, qiyamullail itu, Dhuha itu, shaum sunnah itu, seolah jadi bagian dari hidupku yang tidak bisa lagi aku tinggalkan. Masya Allah, Uhibbukum ya syekh, ya ustadzah, sahabat-sahabatku semuanya, semoga Allah mempertemukan kita semuanya dalam surga Allah SWT. Di tahun terakhir masa sekolahku di SMA, aku mendapatkan amanah sebagai PJS ketua Umum KAPMI (Kesatuan Aksi Pemuda Muslim Indonesia), serta menjadi bagian dari binaan IKADI (Ikatan Dai Indonesia) Pemuda yang banyak membekaliku ilmu menjadi mubaligh di mimbar-mimbar masjid, mengikuti pelatihan dari satu tempat ke tempat yang lain, dan membuka cabang Rohis-Rohis di Aceh Timur, pengalaman yang tidak akan aku lupakan.

Kini, aku sudah selangkah lagi melepas posisiku sebagai seorang mahasiswa, alhamdulillah bekal tarbiyah, kepercayaan diri, dan pengalaman pahit sebagai da’i muda seperti di hina, direndahkan, di permalukan di muka umum, dimarahin orang-orang yang terganggu dengan dakwah ini, membuat mentalku semakin membaja, yang aku takut hanya Allah SWT, yang aku risaukan hanyalah murkanya Allah SWT. “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi Tenang”, Surat Arra’du ayat 28 inilah yang menjadi penguat batinku untuk terus bergerak belajar dan berkontribusi.

Asyiknya Berjamaah

Berjamaah, itulah kunci sukses berdakwah. Orang yang merasa mampu membesarkan Islam sendirian menurutku adalah orang yang tidak pantas menjadi panutan. Di dalam berjamaah seseorang di uji untuk dewasa secara pemikiran dan bersikap. Banyak para da’i yang sukses berdakwah sendirian, dengan ribuan jamaah tapi tidak mampu bersinergi dan berjamaah. Di sinilah aku banyak belajar dalam seni berjamaah, ya, di jamaah Tarbiyah ini.

Sebagai seorang mahasiswa baru dulu, di tahap awal kontribusiku di kampus aku dibebaskan oleh Pementorku (Murabbi) dalam mengambil peran, aku aktif di BEM FT, di Rohis ALMADINAH, di FLP Semarang, di IMPI (Ikatan Mahasiswa Perencanaan Indonesia), hasrat berorganisasiku ku tuangkan dengan rasa puas di tahun pertama. Namun di tahun kedua dan Ketiga aku semakin banyak belajar untuk patuh pada “keputusan Jamaah”, walaupun sejatinya berat dan tidak sesuai dengan keinginan dan logikaku. Salah satu pengalaman berhargaku adalah ketika diminta untuk menjadi wakil ketua BEM FT, posisiku yang sangat aku tidak sukai, sebagi wakil, orang yang sama sekali aku anggap tidak punya “bargain position”, hanya menjadi Tameng sang ketua, menggantinya saat dia tidak bisa hadir salam rapat atau acara tertentu. Hal ini adalah efek dari kebiasaanku selalu dalam posisi terbaik, selalu menjadi ketua ketika SMA, dan memiliki banyak pengalaman internasional. Namun untuk dakwah, demi Allah dan Rasul-Nya, aku terus berusaha meluruskan niat dan terus berkontribusi dengan maksimal. Alhamdulillah, ujianku menurunkan Ego pribadi dan mementingkan jamaah berhasil aku lewati dengan ujung yang manis, prestasi diri yang meningkat, program kerja yang berjalan optimal, serta amanah-amanah yang tidak keteteran, semuanya terus berjalan dan tidak stagnan di tanganku. Alhamdulillaaaahh….

Di sinilah seninya, di sinilah nikmatnya, saat menjadi pemenang yang sesungguhnya, meruntuh ego diri untuk kepentingan agama, karena dalam dakwah, posisi itu bukan penentu, keikhlasan dan amanah pada tugas apapun adalah hal yang mempengaruhi perhitungan di sisi Allah SWT. Pelajaran berharga bagiku. Sesuai firman Allah SWT:

Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya. (QS. Al Mu’minun: 23)

Dalam berjamaah ini, aku belajar bagaimana menjadi orang hebat di hadapan Allah SWT, menghapus semua niat mencari muka pada manusia. Seperti kisah sahabat Khalid Bin Walid yang pada posisi terbaik di hadapan para sahabat sebagai pemimpin kaum muslim, atas keputusan syura’ muncul keputusan dari khalifah saat itu, Umar Bin Khattab menurunkan jabatannya menjadi prajurit biasa. Kuat azamnya, Bersih Hatinya, Lurus niatnya, itulah rumus sang pejuang tetap tenang, di saat raja salah satu negeri merayunya keluar dari barisan kaum muslimin dengan sejuta fasilitas dan posisi pemimpin pasukan perang kaumnya. Dengan lembut sang pejuang menolak menyampaikan pesan singkat “Aku Berjuang Bukan Untuk Umar, Aku Berjihad hanya Untuk Allah SWT”. Tegas, Lugas, tanpa basa basi.  Semoga Allah senantiasa memberkahi beliau. Sang Khalid layak menjadi contoh kita, kisah inspiratif bagaimana caranya meluruskan niat, menguatkan azam, dan terus berkontribusi di manapun, kapanpun, dan dalam posisi apapun untuk Allah SWT, RasulNya, dan Bangsa ini, insya Allah.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 9,63 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Penulis adalah seorang Pengusaha Muda, delegasi Indonesia EDMAT Malaysia 2008 , Pemenang 2 Wirausaha Muda Mandiri 2009, delegasi Indonesia di HNMUN USA 2011, Mahasiswa Terbaik Indonesia versi MITI (Masyarakat Ilmuwan dan Teknologi) Award tahun 2012, dan Pembina Yayasan U-WIN Indonesia (yayasan yang berorientasi pada pengembangan SDM Pemuda).

Lihat Juga

Ilustrasi. (nurtiyas.wordpress.com)

Spirit yang Hilang, Aku Rindu “Masa” Itu