Home / Pemuda / Cerpen / Dan Getar Itupun Pergi…

Dan Getar Itupun Pergi…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (blogspot.com)

dakwatuna.comCukup bergelombang, dan atmosfernya pun terasa kencang mengibaskan tepian kain bajuku. Terik di musim panas mengingatkan sebuah pantai di selatan Banten sana, di tanah airku Indonesia. Setelah hampir dua bulan aku berusaha mempelajari tata bahasa, sebagaimana tujuan beasiswa dari pemerintah Turki yang membawaku kemari, summer course, kursus bahasa Turki musim panas, di minggu terakhir ku menghirup oksigen di negeri yang menyimpan sejarah panjang hubungan barat dan timur ini, barulah punya kesempatan untuk mengunjungi tempat ini.

Tak sedang berada di area Eiffel di atas seine atau di tepian Tiber yang melintasi roma, hanya di atas kapal yang berlayar di sebuah selat, di bawah langit bhosforus. Tempat yang mengalihkan semua pilihanku dulu.

****

Han aku tahu kau sudah kembali ke negeri hijau kita, memberikan baktimu. Dan aku berkesempatan mengunjungi selat yang dulu kau kagumi ini, dan juga olehku. suasananya seperti yang kamu lukiskan dulu, gelombangnya yang kau bilang seperti ombak pantai selatan, udaranya yang kencang, tak ada yang berubah mungkin dengan beberapa tahun lalu saat engkau berdiri ditempat ini,  dan sungguh getar ini pun tak pernah berubah, tetap hidup meski dalam diam.

Kehadiranmu dulu terlalu dini pada pagiku yang masih buta, hingga tak kupahami bahwa diri ini telah menggoyahkan altar pengabdianmu padaNya, pada Kekasih yang tak semestinya kau duakan denganku. Kemarin baru aku maknai bahwa itu adalah kelemahanmu, yang kubuat semakin rapuh dengan kelembutanku. Maafkan aku Han, telah memberikan celah untukmu terjerat lebih dalam, telah menyambutmu dengan kesejukan semu yang kau temukan di bawah rimbun kelopakku, hingga hadirku seakan oase di tengah terik saharamu.

Han saat ini wanita yang mengganggu shalat malammu itu telah berubah, meninggalkan sejarahnya yang sedikit berkabut, membersihkan dinding jiwanya yang berdebu. Tapi ada satu hal yang belum mampu untuk di hapuskan dari riwayat panjang masa lalunya. Dirimu Han, alur yang pernah berlatar di negeri ini.

Dengan seluruh daya yang kupunya ingin kubisikkan, pergilah….

Biarkanlah istikharahku memutuskan dari beningnya hati, dari jernihnya pikiran tanpa kontaminasi bayanganmu, Terbanglah dari dahan kelopakku, melati yang rapuh, pergilah….

***

Pagi yang mendung, hitam menggelayut terarak awan mengitari atap langit, setelah ribuan titik hujan menjatuhi kota Istanbul fajar tadi, masih menyisakan gerimisnya. Sebentar lagi bus yang akan mengantarkan 20 orang siswa peserta summer course ke bandara untuk kembali ke tanah air datang, telah ku kemas barang-barang hasil buruan kemarin sore di sekitar bhosforus dan berbagai souvir yang ku kumpulkan sejak menginjakkan kaki di negeri ini.

Entah kenapa, ada rasa sedih enggan pergi terselip di antara rindu untuk pulang ke tanah air. Negeri ini telah mencuri hatiku sejak beberapa tahun lalu, bangunan bangunannya yang rupawan, saksi peradaban Islam yang pernah ada. Belum lagi nafas Islam yang mulai berdenyut kembali di negeri ini setelah puluhan tahun direnggut paksa oleh pemimpin biadab itu, sangat memberikan harapan besar untuk kemudian hari bisa melihat negeri ini seutuhnya kembali ke pangkuan Islam.

“May, bisnya sudah datang, kita menunggu di depan”, setengah tersentak mendengarnya, ku periksa ulang barang bawaan, khawatir ada yang tertinggal dan segera menyeret koper keluar, mengikuti langkah teman satu persatu menaiki tangga bus yang akan mengantarkan kami.

Roda bus mulai melaju, membawa mata terakhir kali menikmati rona indah setiap sudut kota Istanbul, dering bunyi nada pesan membuyarkan lamunanku, “may, hari ini pulang kan, kita akan jemput kamu di bandara, dan satu informasi lagi, ka Fadli yang CV nya udah kamu terima sebelum berangkat ke Turki, berniat nazhar hari ahad pekan ini, bisa kan?, dia alumni Gontor, Insya Allah baik untukmu, semoga perjalanannya lancar, sampai jumpa di bandara ^^.”.  Hampir saja lupa, dua bulan lalu seminggu sebelum Qatar airlines mendaratkanku di Ataturk international airport, sebuah CV milik seorang ikhwan yang kemudian kubaca namanya Fadly Ramadhan kuterima dari murrabiku

***

15 April 2012

“May sudah senja, ayu kita pulang!

Ku menoleh ke samping kanan, “bentar ya bi, anak kita ingin merasakan atmosfir di tepian bhosforus”. Ka Fadly hanya tersenyum, sembari mengelus lembut ke arah perutku yang membuncit, sambil berbisik “Semoga titisan darah jihad Muhammad Al Fatih, sang penakluk Konstantinopel, akan mengalir dalam darahnya. Agar kelak dia pun menjadi pembela Islam“.

Sisa-sisa cahaya matahari memantul indah dalam riak gelombang bhosforus, hembusan angin mengalun teduh mengiringi langkah kaki, kugenggam jemarimu, merasakan hangat cinta yang tak henti kau taburi di setiap lahan jiwa, sejak dua tahun lalu saat kuputuskan untuk menerimamu. Terlebih setelah kutemanimu menimba ilmu di negeri ini.

PilihanMu tiada keliru Ya Alloh, satu keyakinan yang memantapkanku saat itu, ‚‘‘jika kita bersabar dalam takwa, Engkau pasti akan berikan jalan.  Kekhawatiran akan rasa yang masih bergetar pada sosok masa lalu saat kuputuskan untuk menikah dengannya, sungguh tiada terbukti, getar itu menghilang berganti denyut nafas cinta suamiku. Keteduhan imannya, hangat surya kasihnya, telah benar-benar menghapus bersih sisa rasa itu.

Pernikahanku denganmu adalah jalan yang Allah beri, jawaban bait-bait doa yang kutitip di setiap munajat, “ya Allah, belum sanggup benarbenar kuhapus sebagian sisa masa dahulu, getarannya terus gemerisik, mengganggu lembut aliran hidayahMu, Sungguh menggelisahkan. Berilah jalan keluar atas kelemahan jiwa ini, ketaksempurnaan iman ini, padaMulah kugantungkan semua asa, aku yakini bila kubersabar dalam taqwa, Kau pasti berikan jalan“.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (12 votes, average: 8,17 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Mahasiswi, tinggal di Bogor.
  • hmmm….
    cerita yang bagus…semoga bisa mencintai suaminya dengan setulus hati ya ummi…
     

  • Ania

    suka dengan alur dan pesan hikmah di dalamnya.. Skenario Alloh memang indah :)

Lihat Juga

Istana Putih dan Getar Hati Pemimpin