Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Pergi di Tengah Dinginnya Pagi

Pergi di Tengah Dinginnya Pagi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Seakan tak pernah lelah menjemput rezeki, apapun yang dilakukan dapat memanen hasil, akan diserahkan pada istri dan anaknya. Tak hanya istri dan anaknya yang menikmati, para pekerja pembantu di tempat ia mengais rezeki pun mendapat jatah, walaupun tak seberapa upah yang diberikan pimpinannya.

Sebelum matahari menampakkan sinarnya, Ayahku sudah bersiap menerobos hari yang pastinya akan melelahkan. Dengan mata yang masih berat dan rasanya ingin kembali merebahkan badan yang masih tersisa lelah kemarin, ia lawan dengan iming-iming motivasi mewujudkan mimpi istri dan anak-anaknya.

Tak peduli orang lain berkata apa tentang Ayahku yang selalu pulang larut malam, asalkan ia lakukan di tempat mengais rezeki halal untuk diberikan pada istri dan anaknya. Terkadang mataku tak dapat ditahan untuk menunggu melihat wajahnya sebentar, karena terlalu gelapnya Ayahku tiba di rumah.

Sebelum tiba di rumah, sempat-sempatnya Ayahku menanyakan apakah aku sudah makan atau belum. Biasanya jika aku mengatakan bahwa aku belum makan, Ayahku menepikan sepeda motornya di sebuah warung pinggir jalan.

Sambil mengisi perut yang kosong, Ayahku bercerita tentang apa yang terjadi hari itu. Tak ku sangka, ia rela mengeluarkan emosi bahkan melepas pakaian dinasnya demi membela pimpinannya yang diejek oleh seseorang yang tidak terima dengan pelayanan dari kantor Ayahku.

Dalam hati bertanya-tanya, apakah Ayahku baik-baik saja saat itu terjadi? Lalu lanjutnya ia berkata kepadaku, “Tadi habis kejadian, Ayah di panggil pimpinan.” Sontak aku berhenti mengunyah lalu langsung mengajukan pertanyaan, “terus bagaimana?” tanyaku penuh dengan penasaran. Dan Ayahku menjawab dengan santai sambil menikmati nasi goreng yang masih dikepuli asap, kalau ia tidak apa-apa. Aku bersyukur.

Kagum dengan apa yang dilakukan Ayahku, ia rela berangkat dengan udara dinginnya pagi dan pulang dengan mata yang harusnya sudah istirahat. Demi keluarganya ia rela menjalankan itu semua. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswi semester 4 di Politeknik Negeri Jakarta, jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan (Jurnalistik), program studi Penerbitan (Jurnalistik).

Lihat Juga

Doa Terbaik untuk Ayahanda Harvino, Co-pilot Pesawat Lion Air dan Ayah bagi 10 Anak Yatim