Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mempertanggungjawabkan Gelar Aktivis Dakwah

Mempertanggungjawabkan Gelar Aktivis Dakwah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Menjadi Aktivis Dakwah berarti menjadi pribadi yang siap – menanggung resiko – menghabiskan waktunya demi kesibukan dakwah. Dakwah adalah prioritas utamanya dan mendominasi setiap aktivitasnya, sebagai cerminan dari komitmen dan loyalitasnya. Ia senantiasa memiliki waktu untuk dakwah, karena dakwah adalah kehidupannya. Dakwah bukanlah pekerjaan sambilannya, bukan aktivitasnya di waktu luang, dan bukan pula aktivitas di sela-sela kesibukannya. Tapi justru dakwah itulah kesibukannya! Ia sadar bahwa tidak layak apabila ‘sisa-sisa’ waktunya ia berikan untuk dakwah. Ia sadar bahwa tidak sepatutnya ‘sisa-sisa’ tenaganya diberikan untuk dakwah.

Demikianlah seharusnya pendakwah yang setiap waktunya diisi dengan aktivitas dakwah… Namun kenyataannya, seringkali aktivitas dakwah hanya dilihat dari sudut pandang yang sempit. Dakwah hanya ditafsirkan sebagai aktivitas ceramah agama (mentoring/halaqah) yang -barangkali- tidak lebih dari 2 jam setiap minggunya! Sungguh amat sedikit waktu yang dialokasikan. Jika sudah demikian maka gelar sebagai aktivis (dakwah) akan sama sekali tidak layak untuk disematkan, karena “aktivis” adalah sebutan bagi orang-orang yang disibukkan oleh suatu aktivitas yang biasa menyertai gelar aktivis tersebut; seperti halnya “aktivis dakwah”.

Penyebab lahirnya “fenomena ganjil” tersebut setidaknya disebabkan oleh dua hal; Pertama, kurangnya semangat dalam berdakwah. Kedua, kurangnya pemahaman terhadap aktivitas dakwah yang sebenarnya memiliki medan yang luas. Semangat dan pemahaman adalah dua komponen dakwah yang tentu saja harus dipenuhi ‘hak’nya. Jangan sampai muncul kesalahpahaman terhadap agama karena kurangnya pemahaman, dan jangan sampai lemah dalam memperjuangkan agama karena kurangnya semangat.

Namun -sejauh yang dipahami- tidak ada masalah -yang berarti- dalam semangat dakwah para aktivis. Masalahnya ada pada pemahaman, bahwa ‘aktivitas dakwah hanya dianggap sebagai aktivitas ceramah’. Mereka (para aktivis dakwah) tidak menyadari bahkan dakwah yang paling bijak itu bukanlah melalui lisan, tapi melalui perbuatan! Ketahuilah, segala pekerjaan yang berkaitan dengan amalan (ibadah) adalah dakwah! Segala aktivitas yang dapat menyokong pergerakan dakwah adalah dakwah! Memelihara shalat, rajin berpuasa, beribadah di akhir malam, bersedekah, membaca buku-buku islami, mentadabburi firman-Nya, menghafal al-Qur’an, menjaga pendengaran, menjaga penglihatan dan memelihara lisan, memperbagus akhlak, berhati-hati terhadap hal yang mubah, menjauhi perkara yang makruh -terlebih yang haram-, menjaga adab interaksi – terlebih dengan lawan jenis -… kesemuanya itu adalah dakwah! Bukankah menyeru orang lain kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dapat dilakukan dengan menjadi teladan dalam amalan?

Bahkan seorang aktivis dakwah yang berdakwah dengan menerapkan kehidupan islami, mengisi waktunya dengan hal-hal yang berfaedah untuk kepentingan diri dan agamanya, akan dapat mempengaruhi” umat hanya melalui interaksi dengannya. Dengan -hanya- melihat kepribadiannya, orang-orang akan teringat pada Allah, ingat pada akhirat, dan tersadar akan keindahan dan kemuliaan pribadi-pribadi yang ikhlas menghambakan diri pada-Nya… Itulah dakwah!

***

Sudah seharusnya para aktivis dakwah menyadari urgensi dakwah, betapa dakwah menjadi perkara yang sangat dibutuhkan umat dan bahkan dirinya sendiri. Maka, sudah saatnya untuk para aktivis dakwah mengisi setiap waktunya dan memanfaatkan setiap kesempatannya dengan aktivitas dakwah. Sudah saatnya untuk para aktivis dakwah untuk mempertimbangkan apa yang akan dikerjakannya, apakah bermanfaat -untuk diri dan agama- atau tidak? Sehingga waktunya benar-benar tercurah untuk dakwah. Aktivitas dakwah haruslah menjadi kesibukan dalam keseharian. Jika tidak… maka sekali lagi sebutan sebagai aktivis dakwah tentu sama sekali tidak layak… (ZR)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (13 votes, average: 9,77 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Mujahid Pena

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Lembaga Dakwah Membina Hubungan dengan Pers