Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Because I’m different, I’m Extraordinary

Because I’m different, I’m Extraordinary

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Seorang “extraordinary” kadang dihadapkan pada problematika dalam dirinya dalam menyikapi kondisi masyarakat. Satu sisi harus menjaga idealisme dirinya, di sisi lain harus menghadapi realitas masyarakat yang semakin kompleks. Sehingga sangat wajar ketika ada kalanya untuk menjadi seorang “extraordinary” dibutuhkan kemampuan, mental, dan pondasi yang kuat agar tidak mudah tergoyahkan ketika sang angin dan badai menerjang. Dia harus siap untuk menjadi “unik” di tengah kondisi “umum” masyarakat. Bahkan bisa jadi menjadi pribadi yang “jarang” karena nilai dan norma yang berkembang di masyarakat semakin jauh dari seharusnya (baca: tuntunan Illahi).

Tahukah kita? Orang-orang “extraordinary” pernah hadir dalam untaian sejarah. Kisah yang paling populer adalah bagaimana sekelompok ashabul Kahfi harus terasing dari masyarakat. Bahkan dalam catatan sejarah, Kisah Ashabul Kahfi dikatakan terjadi di suatu tempat yang kini dikenal sebagai Gunung Pion (Mt. of Pion). Di sana terletak sebuah gua yang diberi nama Gua Tujuh Orang Peradu (The Cave of the Seven Sleepers) yang terletak di Efesus (Ephesus), Turki. Ini mengisyaratkan bahwa kisah ini betul-betul terjadi dan nyata.

Pelajaran yang bisa diambil dari kisah ini salah satunya adalah jangan khawatir dan takut untuk menjadi “extraordinary”.

“Untuk apa takut menjadi Extraordinary ketika itu benar”

Dalam berbagai ulasan sejarah, hanya orang-orang yang “berbeda” yang akan tertulis. Orang-orang biasa hanya akan dilupakan oleh waktu karena mungkin tidak “special” dan dianggap biasa-biasa saja.

Dalam terminologi agama, sebetulnya Allah memerintahkan agar hamba-hambanya senantiasa menjadi pribadi yang “extra” atau lebih dan istimewa. Sehingga bagi mereka yang memiliki tingkat keimanan dan ketakwaan “extra” akan memperoleh derajat dan predikat yang istimewa.

Lalu jikalau ditarik dengan kondisi saat ini?

Bisa jadi salah satu cara untuk dicintai Allah adalah dengan menjadi “orang asing”. Orang asing di sini adalah mereka yang memiliki pribadi berbeda dengan orang biasa, bukan orang biasa-biasa saja dengan kata lain menjadi orang Luar biasa atau Extraordinary.

Begitu luar biasanya, di saat orang biasa sedang tidur terlelap, tetapi dia bangun untuk berkomunikasi dengan sang Pencipta dengan shalat malam atau shalat Tahajud. Di saat orang biasa lebih banyak mementingkan kepentingan pribadi, dia memilih untuk memikirkan bagaimana perjuangan dan kepentingan umat. Di saat orang biasa nyaman dengan kenikmatan duniawi, “perbuatan yang mendekati zina”, kemewahan, bahkan kebanggaan pribadi, dia memilih untuk lepas dari belenggu dunia, jauh dari kesia-siaan, menjauhi perbuatan zina, berada dalam roda perjuangan, dan melepaskan zona nyaman.

Kadang orang biasa-biasa menganggap mereka tak mampu, lemah, kampungan, tidak “gaul”, menyimpang, atau apapun julukannya. Karena mereka orang “extraordinary” memang berbeda.

Sebetulnya bukan berarti mereka tidak mampu untuk menjadi “orang biasa”, bahkan jika mau, dia akan menjadi yang lebih pula, atau dianggap paling biasa-biasa oleh orang biasa.

Namun itu bukan masalah mampu dan tidak mampu, tetapi ini soal prinsip hidup yang harus diperjuangkan. Karena orang-orang extraordinary meyakini bahwa kenikmatan dunia akan diperoleh ketika manusia memiliki orientasi yang lebih tinggi yaitu akhirat. Kehidupan dunia adalah singkat seperti musafir yang mampir minum dan mengadakan perjalanan jauh. Bagaimana nikmat dan mewahnya kehidupan dunia ini akan berakhir, hilang lenyap sesuai dengan arti fana.

Kehidupan Akhirat? Kehidupan yang tak berujung, yang tak mungkin diulangi, yang tak mungkin diakhiri… Jikalau selamat maka akan terus selamat, jikalau celaka maka akan terus celaka…

Maka beruntunglah bagi orang-orang “extraordinary”, jangan khawatir dengan “idealisme” yang kau genggam, jangan menangis atas kesusahan yang kau alami karena akan ada balasan yang jauh lebih besar… Memang adakalanya menjadi “extraordinary” menjadikan dia menjadi “asing” untuk saat ini. Namun itu bukan masalah, karena Rasulullah pun bersabda dalam hadits sebagai berikut: “Islam pernah dianggap asing saat kedatangannya dan kelak di akhir zaman, Islam juga dianggap asing. Maka beruntunglah orang-orang yang dianggap asing.”(HR. Muslim dari Abi Hurairah).

“Mudah-mudahan kita mampu untuk menjadi orang-orang Extraordinary”

Wallahu’alam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (22 votes, average: 9,59 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

hadi susanto
Berani belajar dari kebenaran maupun belajar dari kesalahan. Saat ini telah selesai studi S2 di Taipei (Taiwan) program Industrial Management NTUST.Sekarang beraktivitas sebagai entrepreneur di Bandung.

Lihat Juga

Menghadirkan Kembali Kepribadian Rasulullah SAW