Home / Pemuda / Cerpen / Persahabatan Kalian adalah Kerikil

Persahabatan Kalian adalah Kerikil

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com “Ini bukan soal semata persahabatan, tapi mitsaqon gholizho yang kita ikrarkan”.

Alhamdulillah, aku hampir memiliki semua yang diinginkan para wanita; suami yang baik dan penyayang, anak yang sehat, memiliki rumah dan kendaraan sendiri, serta penghasilan keluarga yang lebih dari cukup. Aku sangat bersyukur akan semua yang aku miliki walau kebahagiaan ini terasa tidak lengkap karena sebuah kerikil kecil.

Ya. Aku menyebutnya kerikil kecil, karena ia mampu merusak pandanganku terhadap seorang laki-laki, yang statusnya adalah suamiku.

Selayaknya orang pada umumnya, ia memiliki beberapa sahabat dekat, baik laki-laki maupun perempuan. Aku tidak masalah, sungguh tidak masalah. Kecuali satu hal, panggilan khusus terhadap salah satu sahabat perempuannya. Ia memanggilnya Bunda. Dan perempuan itu memanggil suami ku, Ayah.

Awalnya aku berusaha menganggap semuanya biasa saja. Walau ini semua tidak mudah, semua itu demi kondisi rumah tangga ku dan anak-anakku. Segala perasaan cemburu sebagai istri mati-matian aku kubur. Aku tidak bergeming.

Sampai suatu hari, aku melihat dengan jelas komentar di wall Facebook suamiku tentang kelahiran anak kami,

“Selamat ya Ayah, semoga menjadi anak yang cerdas dan sehat.”

Di waktu lain, sahabat perempuan ini meng-update statusnya, ia merasa kesal dan gelisah akan sesuatu hal, dan suamiku menuliskan komentarnya,

“Mikirin apa sih Bun, cerita aja sama Ayah…”

Deg.
Ayah.
Bunda.
Dua kata itu terus mengiang di kepalaku.
Aku tertunduk lemas…….

Hatiku sungguh tidak karuan membaca komentar-komentar mereka, kesal, marah, sakit hati, dan bingung, campur aduk.

Begitu dekatkah persahabatan itu? Begitu ampuhkah kata persahabatan untuk memaklumi berbagai hal yang tidak biasa? Atau, apakah ikatan persahabatan itu lebih kuat daripada ikatan mitsaqon gholizho yang telah kami ikrarkan?

Aku bingung, benar-benar bingung. Apa yang sebaiknya aku lakukan. Tak mungkin langsung bertanya ke suami, karena aku lebih khawatir jawabannya hanya akan membela persahabatannya, tapi tak mungkin juga aku diam, aku istrinya!

Akhirnya aku memilih mencari tahu lewat beberapa teman dekat suami yang aku percaya dan insya Allah dapat aku percaya. Dari mereka aku mendapatkan info bahwa sejak lama mereka memang sudah bersahabat, dan sejak persahabatan itu semakin dekat, mereka mulai memakai panggilan Ayah dan Bunda.

Mereka sering saling berkunjung ke rumah masing-masing dan sudah sangat mengenal masing-masing keluarga, pada titik ini aku meragukan diriku, mungkinkah sahabat perempuan itu lebih mengenal sosok suamiku daripada aku, istrinya? Yang telah tinggal bertahun-tahun bersamanya dan melahirkan anak-anaknya?

Ada beberapa info lain yang aku dapatkan, suamiku ternyata pernah mengajukan lamaran untuk menikahi sahabat perempuannya ini, namun ternyata ditolak dengan alasan, sahabat perempuan itu hanya menganggapnya sebagai kakak, hanya sebagai sahabat dan ia tidak mau menikah dengan sahabatnya sendiri.

Setelah itu, akhirnya suamiku memutuskan untuk mencari wanita lain sebagai calon istrinya, dan takdir Allah membawanya ke sisi ku. Sementara yang aku ketahui hingga saat ini perempuan itu belum juga menikah.

Persahabatan mereka mungkin hanya sebuah persahabatan. Namun jika memang begitu, mengapa panggilan khusus itu, panggilan Ayah dan Bunda, masih mereka gunakan? Sedekat apa persahabatan itu?

Arti persahabatan kalian, mungkin aku tak mengerti.

Aku hanya mengerti.
Mitsaqon gholizho ini
Janjiku pada Illahi.

dan persahabatan kalian,
adalah kerikil yang menyakitkan…

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (22 votes, average: 8,45 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
berusaha lebih baik, bermanfaat bagi sesama..
  • ryuu rikboy

    Ibu tidak salah, insya Allah cemburu ibu adalah hal yang benar, suami ibu dan “sahabatnya” itu yang tidak pada tempatnya. Seyogyanya mereka tidak meneruskan hubungan tsb karena bagai bermain di pinggir jurang. Atau mungkin mereka memang sudah menjadi “ayah-bunda” secara syar’i, bila hal tersebut benar, maka ibu sebaiknya berusaha menerima hal ini.

  • Ini cerpen apa curhat ya ?

Lihat Juga

Ilustrasi. (Andi Gunawan)

Senandika