Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Manusia Arum Manis

Manusia Arum Manis

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (typepad.com/tripcart)

dakwatuna.com – Arum manis merupakan jajanan yang sangat popular di kalangan anak-anak. Saya sangat ingat, setiap ada pasar malam di alun-alun kota, jajanan ini menjadi menu wajib saya dan kakak. Saya baru tau setelah sempat searching di Google bahwa dinamakan arum manis karena harum (wangi) dan manis.

Arum manis juga merupakan salah satu nama jenis mangga (buah favorit) yang memang terkenal enak dan disukai konsumen.

Kembali ke topik arum manis. Makanan yang merupakan cotton candy (permen kapas) ini menjadi refleksi sederhana bagi kita manusia. Kita bisa memandang arum manis dari dua sisi.

Pertama, dari sisi keindahan performanya. Warna arum manis cenderung cerah (pink, putih, biru cerah, dll). Warna cerah ini jelas memiliki daya pikat luar biasa bagi anak-anak yang memang daya eksplor terhadap warnanya sedang tinggi-tingginya. Jika direfleksikan pada diri kita, sebagai seorang da’i, memiliki performa yang menarik adalah suatu kebutuhan.

Rasulullah SAW adalah semenariknya pribadi. Secara fisik maupun akhlaq, beliau sangat menarik dan berkharisma sehingga baik lawan maupun kawan menaruh respek tinggi pada beliau. Kita? Jangan-jangan kita sering mengabaikan aspek performa lantaran memiliki anggapan bahwa aspek luaran tak penting dan yang jauh lebih penting adalah apa yang kita sampaikan.

Benar memang. Namun, bagaimana mad’u (objek dakwah) bisa mendekat dan mau mendengarkan apalagi mengaplikasikan Islam yang kita bawa sementara mendekat pada kita pun mereka enggan. Ajak mereka untuk dekati, kenali, dan cintai Islam.

Kedua, sisi bentuk dari arum manis. Dari bentuknya, arum manis yang terbungkus plastik nampak penuh dan padat isi. Namun, setelah kita membuka plastik, kita hanya akan temukan kapas yang langsung lumer dan kempes saat dikonsumsi. Artinya, sebenarnya arum manis yang nampak besar dan padat itu tak memiliki isi yang sesuai bentuknya.

Sebagai Muslim yang da’i, tak selayaknya kita seperti arum manis yang hanya nampak luaran berisi namun sejatinya kosong tak berruh. Artinya, kita selayaknya terus menggesa ilmu agar apa yang ada di dalam kita adalah sesuatu yang berisi (ilmu) dan saat ditransfer ke masyarakat pun sesuai dengan isinya.

Dari arum manis kita belajar. Alangkah luasnya ilmu Allah. Pantaslah disebutkan bahwa ilmu yang kita miliki hanya setetes dari lautan samudra ilmu Allah. Ayo, terus mencari ilmu di Universitas Kehidupan yang luas tak bertepi ini. Selamat mencari ilmu. Jangan lupa ikat ilmu dengan tulisan. Ayo menulis…

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,14 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswa semester 1 di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Saat ini aktif di KAMMI dan menjadi kepala departemen Pemberdayaan Perempuan KAMMI Komisariat Madani.

Lihat Juga

Ilustrasi. (dakwatuna.com)

Literasi dan Peradaban Manusia