07:22 - Sabtu, 02 Agustus 2014
Dwi Purnawan

Lingkaran Iman itu…

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Dwi Purnawan - 24/01/12 | 19:30 | 29 Safar 1433 H

Melingkar adalah mengokohkan daya...
Melingkar adalah me-reka cipta…
Melingkar adalah menyulam cinta…
Melingkar adalah kita…
(Ustadz Salim A Fillah)

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com - Iseng-iseng kembali membuka artikel-artikel lama yang sudah saya posting di blog pribadi saya dan ternyata kembali menemukan satu artikel menarik yang sayang untuk tidak dishare kepada teman-teman di dunia maya, satu artikel saya tentang halaqah. Sebuah Lingkaran Iman. Dan sepertinya kicauan merdu huruf-huruf pada kamis optimis ini bertemakan sebuah nama, yang hari ini sebenarnya kita tak lagi asing dengannya, namun entah mengapa, kadang nama tersebut justru kadang membuat, sebagian dari kita, merasa sangat berat untuk melakukannya. Tarbiyah. Halaqah. Forum lingkar iman, yang oleh teman-teman UGM, diabadikan menjadi sebuah Partai, Partai Bunderan. Hehehe.

Tepat setelah shalat subuh pagi itu, di kos saya, yang kebetulan adik-adik di kos saya adalah aktivis kampus yang lumayan bersemangat untuk aktif di organisasi, lalu saya iseng menanyakan ke adik saya, “dik, bagaimana liqo’ nya masih jalan kan?”, dan adik kos saya tersebut menjawab “sudah dua pekan ini ngga’ jalan mas, katane mas’e mau datang ke kos tapi ditunggu-tunggu ngga’ datang”. Atau ada kasus lain dari beberapa orang al-akh ketika di ta’limat oleh murabbi untuk ikut mukhayam. Sudah ikut pra mukhayam, sudah ikut pembagian kelompok, sudah minjem kaos mukhayam, e giliran pas waktu mukhayam tiba, malah tidak berangkat dengan alasan malas. Atau ada kasus lagi, kali ini datang dari beberapa al-akh yang kebetulan adalah para tokoh kampus, dan sebelumnya progress dakwahnya sangat baik, tetapi sekarang menurun, padahal beliau-beliau ini adalah tokoh kampus yang menjadi kader penggerak untuk menggerakkan adik-adiknya. Ada kasus lagi, kali ini tentang kenyamanan liqoan bagi sang mutarabbi terhadap murabbi. Sang mutarabbi merasakan perbedaan dengan liqoan sebelumnya, dan di liqoan sekarang merasa agak kurang nyaman. Hmm. Beberapa contoh kasus tersebut semakin membuat tangan ini semakin tergelitik untuk menuliskan dan merangkainya menjadi sebuah frasa dan kalimat-kalimat solutif.

Sebenarnya ada apa gerangan, sampai muncul kasus-kasus tersebut. Mengapa sampai sebuah kelompok halaqah sampai dua kali tidak ada kegiatan forum halaqah? Atau mengapa liqo-liqo yang dilakukan terasa hambar dan tidak nyaman? Atau mengapa sampai ada ta’limat murabbi kepada mutarabbi begitu kehilangan kekuatannya? Atau mengapa sampai ada kasus bagi satu kelompok halaqah yang isinya para tokoh kampus sampai mengalami penurunan progress report dakwah? Sudah terlalu sibukkah para murabbi-murabbi tersebut, sehingga mereka melupakan kewajibannya untuk mempersiapkan generasi pewaris dakwah ini selanjutnya? Atau kekuatan ma’nawiyah dan keterampilan murabbi dalam membina kita, para murabbi perlu mendapatkan penyegaran?

Saya teringat suatu ketika murabbi ke dua saya selama merasakan nikmatnya merajut cinta dalam jalan ini, mengatakan bahwa liqo, adalah dapurnya dakwah, yang digunakan sebagai tempat mengisi energi yang akan menguatkan kita dalam melaksanakan setiap aktivitas dakwah ini. Kalau di dalam dapurnya saja sudah ada masalah, maka itu akan berimbas terhadap aktivitas dakwah kita di lapangan. Kalau ditempat mengisi energy saja kita kurang, maka energy kita tidak akan cukup untuk menghadapi tantangan dan hambatan dalam dakwah ini, yang bahkan tiap detik senantiasa mengintai dan menyerang kita, baik dari internal maupun eksternal. Artinya bahwa dapurnya dakwah, dalam hal ini adalah aktivitas tarbawi di sini sangat penting dalam rangka membentuk kesiapan aktivis dakwah melaksanakan aktivitas dakwahnya dengan baik.

Tetapi sangat tidak elegan juga ketika saya hanya menunjuk para murabbi tersebut sebagai pihak yang dipersalahkan dalam proses keberlangsungan agenda tarbawi. Dari sisi mutarabbi sebaiknya juga harus kemudian merenungi, sejauh mana keberadaannya sebagai mad’u tersebut dapat meningkatkan kapasitas keilmuan dan fikrah jamaahnya. Kita memahami bahwa aktivitas tarbawi ini adalah sebagai sarana pembentukan para rijalud dakwah. Analogi sederhananya, bahwa para mad’u harus memahami tarbiyah adalah pendidikan untuk memperbaiki diri secara terus menerus sepanjang hayat, atau bahasa kerennya adalah tarbiyah madal hayah. Kenapa harus terus menerus? Ini persoalannya: hidup kita akan berhenti di satu titik (dunia) untuk kemudian berlanjut ke titik berikutnya (akhirat). Kalau kita tidak mentarbiyah diri secara kontinyu, dan dari sekarang, siapa yang akan menjamin kita akan berhenti di titik itu dalam keadaan siap untuk melanjutkan ke titik berikutnya?

Sehingga dari penganalogian yang sederhana tersebut, para mad’u harus menyadari bahwa tarbiyah begitu penting dan kita sangat butuh akan tarbiyah ini, bukan kemudian tarbiyah ini yang membutuhkan kita. Kita harus paham itu. Kalau kemudian kita memahami bahwa proses tarbiyah yang berlangsung secara terus menerus, berkesinambungan akan membentuk karakter para aktivis dakwah yang tangguh, tentu tidak akan ada polemic-polemic yang terjadi seputar pelaksanaan agenda halaqah pekanan. Sebagai mad’u yang baik, kita harus paham bahwa murabbi juga manusia, dibalik kelebihannya menyampaikan materi, dia juga manusia yang penuh khilaf dan dosa. Jangan hanya karena semisal kita adalah aktivis yang penuh dengan jiwa yang meledak-ledak dan pintar berorasi, sementara murabbi kita hanyalah seorang yang lemah lembut, kadang bicara pun belepotan, lalu kita jadi tidak semangat menghadiri agenda halaqah pekanan dan meremehkan murabbinya. Atau mentang-mentang murabbi kita adalah seorang tokoh, sering ngisi daurah sana- sini, mukhayyam sana-sini, seminar sana-sini, lalu kita menjadi murobbi-sentris, ke mana-mana membanggakan murabbinya, ketemu teman beda halaqah, memamerkan murabbinya yang keren. Hmm, hati-hati akhi kalau sudah begini, Antum sudah masuk kategori mengkultuskan. Berbahaya.

Mari kita memahami bersama, bahwa proses tarbiyah, yang salah satu perangkatnya adalah halaqah pekanan, sebagai sarana penjagaan diri, sebagai media untuk saling mengeratkan persaudaraan, tempat saling mendoakan satu sama lainnya. Antara peserta halaqah satu dengan yang lainnya. Dan ditempat lingkaran inilah, yang kadang kita disuguhi dengan makanan yang dimasakkan oleh istrinya murabbi kita, kita melihat bahwa mukmin yang satu adalah cermin bagi mukmin yang lainnya. Mereka saling bercermin diri, tentang perkembangan tilawah qur’annya selama satu pekan, saling memantau hafalan masing-masing, memantau puasa sunnah, memantau shalat malamnya. Lalu kalau salah satu di antara peserta halaqah tersebut memiliki mutabaah yang di bawah rata-rata, dia akan mengatakan dengan sangat lirih kepada idaarinya, “berapa shalat malammu akhi”, lalu jawabnya dengan sangat lirih dibantu isyarat telunjuk, “sattt…u”, begitu jawabnya. Lalu ia pun menjadi sangat malu menyadari dirinya belum bisa memanajemen waktu dengan brilian.

Harmonisasi. Saling memahami. Saling mengisi kekurangan masing-masing. Itulah yang akan membuat proses agenda tarbawi kita akan terasa nikmat. Liqo kita akan terasa sangat nyaman. Apalagi kalau dibumbui dengan makan gado-gado gratis dari murabbi, akan terasa lebih nikmat (pengalaman pribadi, hehehe)  kita menyadari bahwa liqa’at adalah bagian terkecil dari tarbiyah kita, tetapi dia juga sebagai sel penggerak aktivitas tarbiyah kita, yang akan menentukan kekokohan gerak kita di lapangan. Harus saling belajar, baik dari mutarabbi, agar menjadi sosok mad’u yang siap diisi dengan warna-warni ilmu islami maupun harakah. Begitu juga dari para murabbi, harus senantiasa meningkatkan kapasitas, harus senantiasa serius menyiapkan generasi-generasi pemenang. Dengan kondisi liqa’at yang semacam ini, maka kita akan melihat ada harmoni yang indah, tarbiyah, yang menyejarah.

Memang, kita sudah sama-sama paham, bahwa ini adalah pertemuan pekanan, ini adalah sebuah lingkaran. Tetapi ini bukan sekedar lingkaran, karena di sini adalah majelis ilmu, majelis dzikir, majelis penuh keberkahan. Dan kita juga memahami bahwa lingkaran itu bukan hanya berakhir ketika forum lingkaran itu selesai, tetapi setelah itu, tentu kita akan lebih siap, mendistribusikan keshalihan kepada mereka, menebarkan aroma mewangi bunga-bunga kebajikan kepada sesama. Mari kita nikmati lingkaran itu, lingkaran ukhuwah. Walaupun sang guru kadang terlihat belepotan menyampaikan materi, walaupun sang guru kadang terlihat gugup menyampaikan kalimat-kalimat penuh maknanya, walaupun sang guru kadang terlihat lelah dan capek karena banyaknya agenda dakwah yang membuat waktunya banyak tersita. Mari kita nikmati lingkaran iman itu, walaupun sang guru tak lebih baik dari kita dalam hal ketokohan di kampus. Mari kita nikmati lingkaran dzikir tersebut, maka kita akan semakin cinta dengan jalan ini, kita akan semakin yakin dengan tarbiyah ini, sehingga tak ada lagi keraguan di dalamnya. Semoga barakah. Semoga istiqamah. Semoga khusnul khatimah.

Dwi Purnawan

Tentang Dwi Purnawan

Jurnalis online dan pengamat socmed. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Keyword: , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (16 orang menilai, rata-rata: 8,81 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • http://limacahaya.blogspot.com/ Amikhomisah

    AKU JUSTRU kangen sprti. Sudah lama aku tak bisa liqo karena bubar.
    Aku kangen liqo… disini susah bgd cari spt ini.

  • http://www.facebook.com/reny.mkhoiroh Reny Mkhoiroh

    beda liqo dengan halaqoh itu apa ya?

Iklan negatif? Laporkan!
102 queries in 2,163 seconds.