Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Science: Tantangan Alam dan Wahyu Ilahi

Science: Tantangan Alam dan Wahyu Ilahi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comPenelusuran manusia terhadap fenomena kehidupan menjadi sesuatu yang tiada habis. Berkembangnya ilmu pengetahuan yang mendasari teknologi akan terus berlanjut, dan alam terus menampakkan fenomena barunya setiap kali suatu teorema hampir dipercayai utuh sebagai kebenaran.

Postulat relativitas Einstein dimunculkan ketika asumsi keberadaan ether tertolak oleh fakta alamiah. Eksperimen Michelson-Morley tidak mampu membuktikan apapun terkait ether yang diduga sebagai medium perambatan gelombang elektromagnetik. Dan Alam menampakkan kebenaran postulat Einstein kemudian, ketika perumusan matematika yang diajukannya tersebut kerap kali tepat memprediksi fenomena-fenomena yang dianggap aneh sebelumnya. Namun –sebagaimana diungkapkan para peneliti eropa (CERN) akhir September lalu, ketika postulat itu sukses meramalkan berbagai fenomena, alam justru menampakkan fenomena lain tentang keberadaan partikel yang bergerak melebihi kecepatan cahaya. Sehingga bahasa matematika yang diturunkan Einstein sebelumnya tidak akan mampu lagi memprediksikan gejala alam tersebut, sebagaimana ketidakcocokan Newton dalam meramalkan gejala relatifistik.

Kasus tersebut menunjukkan kepada kita tentang keterbatasan sebuah teori. Namun manusia yang dilebihkan akal oleh Tuhannya pasti akan memberikan rumuskan barunya terkait penampakkan fenomena tersebut. Begitulah seterusnya dan batasannya tak akan pernah diprediksi oleh keterbatasan (manusia).

Hal itu tidak hanya terjadi pada fenomena alam yang dikaji secara objektif. Namun juga pada ilmu-ilmu sosial yang juga digali secara objektif dari pandangan-pandangan subjektif kebanyakan manusia dan fakta sejarah. Maka ketika Francis Fukuyama dalam bukunya “The end of History and the Last Man” tentang kapitalisme dan demokrasi liberal meramalkan akhir dari pencarian manusia tentang ideologi dengan melihat meluasnya penerapan sistem ekonomi kapitalisme dan demokrasi liberal secara global sehingga menciptakan sistem yang semakin seragam. Fakta yang ada justru sistem kapitalisme belum bisa menyelesaikan permasalahan ekonomi dan kesenjangan sosial di Negara-negara penganutnya. Kesalahan itulah yang kemudian menjadi akar bagi banyak permasalahan social selanjutnya. Kegagalan kapitalisme selanjutnya tampak dari maraknya kampanye anti kapitalisme yang bahkan terjadi di jantung-jantung kapitalis akhir-akhir ini. Permasalahan inilah yang kemudian melahirkan ide sosialisme sebagaimana dilontarkan Karl Marx, juga gagal dalam penerapannya secara utuh beberapa dekade yang lalu. Maka Islam datang sebagai solusi penengah yang mungkin dapat diterima. Namun system ini belum kuat untuk dapat diterima secara luas sebagaimana sistem yang sebelumnya. Sehingga diperlukan kajian yang utuh dalam praktek sosialnya sebagaimana yang pernah diterapkan pada era pertama kebangkitannya. Begitulah kemudian sejarah akan terus berulang atas kehendak tertentu.

Dua sisi ilmu yang menggali fenomena yang berbeda, alam dan sosial. Keduanya akan terus berkembang tanpa ada seorang pun yang dapat memprediksi dimana akhir dari semua pencarian itu. Dua di atas hanyalah sebagian kecil dari berjuta fenomena yang akan terus menarik perhatian manusia terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.

Teori kuantum yang belum tuntas tergambarkan dalam keindahan matematis. Fenomena evolusi yang justru gagal menggambarkan proses kebetulan sebagaimana yang diinginkan pencetusnya. Deteksi quark sebagai partikel penyusun proton dan neutron juga bukan merupakan akhir dari pencarian manusia tentang partikel elementer yang membangun alam semesta. Perkembangan biologi molekuler yang didukung oleh ilmu fisika dan kimia melahirkan biokimia maupun biofisika sebagai disiplin ilmu baru yang semakin menarik. Matematika pun akan terus membahasakan fenomena fisis yang ditampakkan alam. Juga Ilmu terapan akan mengikuti berkembangnya disiplin ilmu dasar. Dan ilmu-ilmu sosial tentang humanisme yang tiada habis dikaji.

Manusia akan terus mencari sedang alam akan terus menampakkan fenomena setelahnya mengikuti berkembangnya kecerdasan makhluk ini, seolah menantang rasionalitas yang dibanggakannya, terus tanpa akhir. Maka Glashow yang berbagi hadiah Nobel dengan Abdus Salam dan Steven Weinberg menggambarkan perjalanan tanpa henti ini, “jalan alam selalu tampak tak bisa dilewati, tapi kita mampu mengatasinya”

Mungkin ada maksud tertentu, alam selalu menampilkan ketidakberdayaan manusia, lebih jauh ia menunjukkan pada kita tentang keberadaan hukumnya yang tak bisa dikendalikan apalagi ditolak oleh siapa pun. Maka pengakuan ketakberdayaan itu pun diungkapkan oleh banyak manusia yang memilih mengungkap tantangan alam tersebut. Mengikuti naluri kemanusiaannya yang menuntunnya untuk terus berfikir. Sebagian dengan membaca fenomena alam, yang lain membaca fenomena sosial. Dua sudut pandang dengan muara yang sama, kebenaran. Jika demikian akan terlihat bagaimana kekaguman mereka pada kebenaran hakiki sebagai akhir dari penelusuran rasionalnya. Dan pengakuan itu benar-benar diungkapkan oleh tokoh-tokoh besar dunia tentang fakta penciptaan, kuasa Tuhan bahkan kebenaran Islam dan Al-Qur’an. Banyak dari mereka berasal dari kalangan Ilmuwan, sebagian lagi penguasa atau orang-orang yang berpengaruh dalam masyarakatnya. Merekalah orang-orang yang menggunakan akalnya, berfikir tentang hakikat kehidupan.

Namun keimanan tak cukup pada batas pengakuan, apalagi pengetahuan. Sedang pintu keislaman dibuka dengan dua kalimat syahadat. Maka mereka yang menemukan muara ilmunya hanya dapat selamat melalui pintu tersebut. Dan kesombongan kadang membuat seseorang enggan untuk tunduk, sebagaimana kaum kafir Quraisy yang iri akan kemuliaan Muhammad bin Abdullah.

Mungkinkah ini cara Allah membimbing manusia ketika wahyu tak lagi turun. Sehingga benarlah ungkapan ulama (ilmuwan) pewaris nabi. Juga kemuliaan yang besar diberikan Allah bagi mereka yang memilih jalannya. Namun kebanyakan manusia gagal mendapatkan kemuliaan itu meski tantangan alam telah direnungkan, dan fakta yang diterimanya telah menampakkan keesaan penciptaan. Lalu bagaimana dengan kita sebagai muslim? Adakah kita menggunakan akal untuk benar-benar berfikir. Atau keimanan membuat kita tunduk tanpa bertanya. Padahal Allah memuliakan hamba-Nya yang berilmu. Namun keimanan tak harus dapat ditafsirkan secara ilmiah. Dan hidayah Allah, hanya diberikan kepada siapa yang dikehendaki. Wallahu a’lam. 

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS Ali ’Imran[3]: 191)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,40 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Hanya seorang pembelajar, yang ingin menyampaikan. berbagi manfaat sebagai muslim.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Twitter)

Zaid ibn Tsabit, Sang Penulis Wahyu dan Ahli Ilmu Waris