Home / Dasar-Dasar Islam / Al-Quran / Bagaimana Menyelami dan Mengantongi Makna-Makna Al-Qur’an?

Bagaimana Menyelami dan Mengantongi Makna-Makna Al-Qur’an?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (quranreading.com)

dakwatuna.com – Abdullah bin Mas’ûd RA Berkata:

مَنْ أَرَادَ الْعِلْمَ فَلْيُثَوِّرِ[[1]] الْقُرْآنَ، فَإِنَّ فَيْهِ عِلْمَ اْلأَوَّلِيْنَ وَاْلآخِرِيْنَ.

“Barang siapa menginginkan ilmu hendaknya menyelami makna-makna Al-Qur’an. Sesungguhnya di dalamnya terdapat ilmu-ilmu umat manusia.[[2]]

Al-Qur’an menyuguhkan sentuhan-sentuhan makna bagi mereka yang berusaha mendekatkan diri dengan memberikan telaah mendalam terhadap isinya.

Dia seperti toko perhiasan yang memamerkan aneka ragam batu mulia. Tentunya, ia mahal, dan untuk mengantongi yang mahal itu butuh kesabaran dan kerja keras yang terencana dan teratur. Olehnya itu, pemerhati tema-tema Qur’an diajak memerhatikan langkah-langkah berikut ini:

Pertama: Jadikan Al-Qur’an Special One!

Artinya, Anda diajak memberikan penglihatan, perhatian, dan penghargaan terhadap Al-Qur’an lebih dari kitab-kitab lain. Jika Anda menyukai dan menghormati penulis sebuah buku karena ia telah menggoreskan filosofi dan hakikat kehidupan menurut Anda, maka bagaimana dengan Al-Qur’an itu sendiri? Ia kitab Allah, Sang Maha Kuasa yang telah meluapkan makna-makna kehidupan kepada penulis yang Anda idolakan dan banggakan itu sehingga ia dapat membeberkannya kepada Anda di atas lembaran-lembaran kertas. Setiap dari Al-Qur’an dan bacaan-bacaan lain punya pancaran sinar, tetapi terang sinar Al-Qur’an lebih terang dari terik sinar mentari, sementara cahaya materi bacaan lain hanya seperti cahaya yang diperlihatkan kunang-kunang di malam hari.

Ustadz Said Nursi berkata:

“Al-Qur’an tidak dapat disetarakan dengan perkataan apapun. Sesungguhnya muara ketinggian bahasa, kekuatan, keindahan, dan pesonanya lahir dari empat sisi:

Pertama: pembicara. Kedua: lawan bicara. Ketiga: kenapa ia berbicara? Keempat: dalam hal apa ia berbicara?

Jika setiap perkataan yang punya daya tarik kuat dan keindahan tercipta dari perpaduan empat unsur tersebut, maka dengan melihat muara Al-Qur’an Anda pasti meyakini tingkat retorika, keindahan, dan keagungannya yang tidak tertandingi.

Mari kita lihat sisi pertama saja sebagai salah satu contoh di kedua ayat ini!

Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan Hai langit berhentilah hujan! Dan air pun disurutkan, dan perintah pun diselesaikan.”(Q.S. Huud [11]: 44)

“Maka Dia Berkata kepadanya (langit) dan bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa!” Keduanya menjawab: ”Kami datang dengan suka hati.”” (Q.S. Fusshilat [41]:11)

Lihat kekuatan dan ketinggian hakikat perintah-perintah di atas dan pelaksanaan mereka yang menyiratkan ketaatan dan keinginan. Kemudian, lihat perintah manusia terhadap benda padat yang serupa dengan perkataan orang yang sakit demam lagi mengigau: diamlah wahai bumi dan sedotlah airmu wahai langit! Sungguh tidak sederajat seperti jarak langit dan bumi.”[[3]]

Hematnya, di sini pemerhati tema-tema Qur’an diajak untuk memberikan Al-Qur’an ruang tersendiri di lubuk hati dan menyuguhkan cinta, ketulusan, keikhlasan, dan penghargaan terhadapnya tanpa bandingan dan setara. Jika Anda ingin dihibur untaian keindahan makna-makna Al-Qur’an maka pinanglah dia dari sekarang!

Jika ada yang bertanya: ”kenapa saya wajib punya sikap seperti ini sebelum membaca Al-Qur’an?“

Jawabnya: ”Karena dengan sikap seperti ini, Anda seperti melahirkan potensi diri dan kesiapan mental untuk masuk di alam Al-Qur’an yang sarat dengan isyarat, rumus, dan pelbagai hakikat, seperti: ketuhanan, kenabian, kehidupan, dan alam gaib. Tanpa itu, Anda sukar memungut kilauan permata-permata Al-Qur’an yang jatuh berserakan di hadapan Anda. Bahkan boleh jadi, Anda hanya diam terpaku. Untung saja jika Anda masih bisa melihatnya, bagaimana jika Anda tidak melihatnya hanya karena ego dan kecongkakan yang enggan menempatkannya pada derajat yang layak?“

Kedua: Bagaimana metode bacaan Al-Qur’an yang membuahkan hasil?

Prof. Dr. Thâha Jâbir al-Alwânî dengan jelas memberikan jawaban:

“Sesungguhnya Al-Qur’an sendiri telah membimbing manusia kepada cara baca yang baik seperti berkata kepada mereka: “Jika kalian ingin membacaku maka bacalah aku dengan cara ini.” Dia menjelaskan bahwa jika ia diperdengarkan kepada mereka maka mereka pun diam mendengar dengan penuh kesadaran. Adapun dalam kondisi membaca maka sebelumnya itu pembaca dituntut memenuhi syarat-syarat berikut ini:

  1. Menyucikan diri dari kotoran-kotoran fisik dan hati.
  2. Membaca dengan nama Allah dan merasakan kebersamaan-Nya.
  3. Membaca dengan pelan dan penuh hikmat.
  4. Memompa kesadaran dan konsentrasi diri dan jiwa supaya siap menyelami alam Al-Qur’an dan mengantongi permata-permatanya yang begitu indah memesona.
  5. Senantiasa membacanya di waktu shalat, karena pada saat itu hamba sangat dekat kepada Tuhannya.
  6. Menghadirkan di benak nama-nama Al-Qur’an, sifat, dan nama surahnya dalam menebalkan keyakinan terhadap keagungannya.
  7. Memperkaya diri dengan pelbagai disiplin ilmu.”[[4]]

Hematnya, mereka yang mengoleksi syarat-syarat di atas seperti orang yang datang belanja ke pasar dengan mengantongi uang yang cukup. Dia bisa melihat, memilih, dan membeli apa saja yang dibutuhkannya. Akan tetapi, mereka yang tidak memenuhi kriteria-kriteria tersebut seperti orang yang kehilangan selera beli meskipun dia melewati pasar yang memamerkan ikan segar dan sayuran hijau.

Ketiga:  Tadabbur Al-Qur’an

Artinya, di saat Anda diajak berhenti sejenak memikirkan kandungan sebuah ayat, maka Anda pun hendaknya berhenti. Jangan biarkan makna-makna itu lewat begitu saja! Yang mengajak Anda berhenti adalah Allah Pemilik kitab itu. Tentunya, Anda tidak diajak kecuali di sana ada pesan-pesan ketuhanan dan kehidupan yang memukau.

Anda di saat berhenti memikirkan luapan samudera makna sebuah ayat, pintu hati, akal, dan tingkat kesadaran Anda siap menerima tetesan-tetesan luapan makna itu setetes demi setetes.

Jika rohani dan pikiran Anda terasa tersirami dan ayat itu sudah berhenti meneteskan makna, maka Anda pun boleh melanjutkan bacaan ke ayat lain.

Allah SWT berfirman:

â أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا á

(Q.S. Muhammad [47]: 24).

Di sini, hati kunci tadabbur. Yang bersih hatinya khazanah ilmu-ilmu Al-Qur’an terbuka lebar untuknya, tetapi yang kotor hatinya Al-Qur’an jauh darinya. Anda dekat Ia lebih mendekatkan diri, tetapi jika Anda menjauh ia masih berusaha mendekati, sampai mata hati Anda tertutup dan terbelenggu oleh kesombongan dan kecongkakan yang tidak akan mungkin lagi melihat kebenaran meski nasihat datang bertubi-tubi. Kondisi kekafiran orang-orang musyrik yang enggan mengikrarkan kebenaran Al-Qur’an yang datang menyapa mereka. Pada saat itu, Al-Qur’an yang mestinya kawan setia mereka, pelita kehidupan, obor penerang liang lahat, dan syafaat di akhirat, berubah menjadi penantang hebat tidak tertandingi yang siap menghantam kebekuan hati mereka meski ia mengeras seperti batu karang. Coba dengarkan tantangan dan cemooh Al-Qur’an terhadap mereka di ayat ini!

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Q.S. al-Baqarah [2]:23-24)

Ajakan-ajakan Al-Qur’an itu bukan datang dari satu pintu, tetapi dari pelbagai pintu.[[5]] Dan pastinya, Setiap pintu punya hidangan makna yang khas. Koleksi makan setiap pintu itulah yang melahirkan penafsiran yang terpadu, hidup, dan dinamis.

Dr. Muhammad Abdullah Darrâz berkata:

“Al-Qur’an ibarat cermin datar yang bersih sedang membiaskan aneka ragam hakikat. Kita kadang mengantonginya dari ungkapannya yang jelas, kadang pula dari gaya pembahasannya yang langsung memberikan penjelasan seketika itu atau diundur di tempat lain.”[[6]]

Keempat: Al-Qur’an kitab anti krisis

Artinya, kehidupan manusia tidak lekang dari masalah-masalah rumit yang datang dari ulah tangan mereka sendiri. Di sana ada krisis ekonomi, pencemaran lingkungan, dan krisis moral.

Setiap dari mereka Al-Qur’an telah meletakkan materi dasar terhadap lahirnya formula mujarab. Untuk krisis ekonomi Al-Qur’an melakukan tindakan preventif sebelum itu terjadi, seperti: pengharaman riba di (Q.S. al-Baqarah [2]: 275, 276, 278), (Q.S. Ali Imran [30: 130], dan (Q.S. an-Nisa’ [4]: 29) dan mencela sifat boros dalam memanfaatkan sumber-sumber alam di (Q.S. al-An’am [6]: 141) dan (Q.S. al-A’raf [7]: 31).

Untuk pencemaran lingkungan Al-Qur’an melakukan tindakan yang sama, seperti: mencela mereka yang melakukan kerusakan di muka bumi di (Q.S. al-Baqarah [2]: 11, 205), (Q.S al-A’raf [7]: 56, 85). Di sini jenis kerusakan tidak disebutkan, mengingat ulah tangan-tangan jahil mereka dampaknya tidak terhitung jari. Hari ini yang nampak dan tidak nampak di luar perhitungan matematis, bagaimana dengan esok? Bukankah satu kerusakan biang lahirnya kerusakan ganda? Mereka tidak disebutkan satu persatu sesuai dengan metode Al-Qur’an yang irit kosa kata dalam memberikan pemaknaan. Meskipun demikian, Anda akan kehabisan tenaga jika ingin berusaha memeras semua makna yang ada terhadapnya (mustahil itu terjadi). Di sini dia langsung mendiagnosa dan menyentuh akar masalah. Selanjutnya, terserah Anda! Mengikutinya kunci keselamatan dan mengabaikannya sumber malapetaka dunia.

Untuk dekadensi moral Al-Qur’an kitab akhlaq. Di sana ada ratusan ayat-ayat akhlaq. Tidak ada alasan untuk tidak menjadi orang baik, tetapi jika Anda berperilaku buruk Anda seperti menzhalimi setiap ayat-ayat tersebut yang siap menghujani Anda hujatan-hujatan di hari akhirat.

Di sini, Al-Qur’an seperti punya dua kekuatan. Ia menjadi obat terhadap penyakit-penyakit kejiwaan bagi orang-orang beriman, tetapi di lain pihak ia membuat penyakit hati orang-orang kafir bertambah parah. Letak perbedaannya pada tadabbur. Dengan memikirkan dan menelaah pesan-pesannya hati terasa cerah dan lapang. Tetapi berpaling darinya menutup telinga dan hati, menghentakkan kaki meninggalkan, dan mencemooh ayat-ayatnya, awal kerugian yang menyengsarakan. Gambaran pertama milik pemerhati Al-Qur’an dan gambaran kedua milik musuh-musuhnya.

Allah SWT berfirman:

â وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلاَّ خَسَارًا á

Dan kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian. (Q.S. al-Isra'[17]: 82)

Di tulisan singkat ini, saya mengajak tema-tema Qur’an menyuarakan kesimpulan di bawah ini:

“Dari sekarang mulai budayakan tadabbur Qur’an! Selami dan kantongi batu-batu mulia Al-Qur’an yang menumpuk di dasar samudera filosofi dan hakikat hidup dan ketuhanan yang dibiaskannya! Jangan membaca Al-Qur’an seperti membaca majalah, surat kabar, dan buku-buku lain! Membacanya dengan tergesa-gesa mengabaikan pelbagai seruan ayat-ayatnya yang mengajak Anda untuk membacanya dengan pelan dan penuh kesadaran. Ingin punya hati yang hidup dan peka, Hidupkan tadabbur!”

 


Catatan Kaki:

[1] Tatswîrul Qur’an artinya: memikirkan makna, tafsir, dan bacaan Al-Qur’an dengan segenap perhatian.

[2] Syekh Al-Haetsamî berkata: “hadits ini diriwayatkan Imam at-Thabrânî dengan beberapa sanad, dan di antara sanad tersebut perawi-perawinya termasuk perawi-perawi Shahîh Imam Bukhârî.” [Ali bin Abu Bakr Al-Haetsamî, Majma’ Zawâid, kitab Tafsir, hadits. No: 11667, vol. 7, hlm. 342]

[3] Lihat: Bediuzzaman Said Nursi, al-Mu’jizât al-Qurâniyyah, diarabkan Ihsân Qâshim as-Shâlihî, Sözler  Publications, cet. 2, 2009, hlm. 146-147

[4] Lihat: Prof. Dr. Thâha Jâbir al-Alwânî, Afalâ Yatadhabbarûnal Qurân (Maâlim Manhajiyah fi at-Tadabbur wa at-Tadbîr, Darussalam, Cairo, cet. 1, 1431 H/2010 M, hlm. 52-54

[5] Maksudnya, menelaah sistematika penyusunan huruf dan intonasinya yang memantulkan makna dari sebuah kosa kata, sistematika kalimat, ayat, surah, dan tema-tema Al-Qur’an. Di sana masih banyak pintu-pintu khazanah Al-Qur’an yang dijelaskan panjang lebar di ilmu-ilmu Al-Qur’an.

[6] Dr. Muhammad Abdullah Darrâz, An-Nabaul Adshîm (Nasharât Jadîdah fil Qurân), Dar ats-Tsaqafah, Doha, Qatar, 1405 H/1985 M, hlm. 31-32

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dr. Muhammad Widus Sempo, MA.
Pensyarah antar-bangsa (Dosen) Fakulti Pengajian Alqur'an dan Sunnah, universiti Sains Islam Malaysia (USIM).Degree, Master, Phd: Universiti Al-Azhar, Cairo. Egypt
  • barakallah, kayaknya saya harus mulai memaksakan diri untuk menyukai AlQur’an lebih dari buku-buku lain

  • Abie_larko

    jzkh artikelnya

  • jzkh

Lihat Juga

Ilustrasi-Alquran (inet)

Khutbah Jum’at: Di Bawah Naungan Al-Quran

Organization