Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ditutup Sayang

Ditutup Sayang

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (Danang Kawantoro)

dakwatuna.com – Fenomena wanita berjilbab bukan hal baru yang dapat ditemui di kota besar Jakarta atau kota lainnya. Maha Suci Allah yang telah menganugerahkan Hidayah kepada Hamba-hambaNya untuk menutup aurat mereka.

Namun bila diperhatikan, ada banyak kejanggalan yang terlihat dari maraknya muslimah berjilbab. Berjilbab tapi telanjang. Ya, seperti itulah yang sekarang marak terlihat di mana-mana. Mereka yang menutup rapat seluruh tubuh mereka tapi sayang untuk menutup secara benar semua lekuk tubuh mereka. Berkerudung pendek disertai dengan kaos lengan panjang yang menampakkan lekuk payudara serta bercelana jeans yang menampakkan betapa indah dan jenjangnya kaki mereka.

Wanita adalah makhluk ciptaan Allah yang indah. Setiap jengkal dari tubuh mereka bernilai keindahan. Jika dahulu, para wanita memiliki rasa malu dan takut yang teramat sangat sehingga menampakkan auratnya pun mereka enggan. Takut kepada Allah akan azab yang mereka terima jika melanggar perintah Allah dan malu jika aurat mereka terlihat oleh yang bukan muhrim.

Zaman kian bergeser, modernisasi merambah dalam setiap sendi kehidupan. Berdalih kebebasan dan hak asasi manusia, rasa malu dan takut semakin terkubur hingga tak lagi tampak oleh hati. Hal tersebut juga menandakan keberhasilan syetan dalam mengupayakan kesesatan anak manusia. Upaya syetan yang bermula dari bisikan dan keteguhan untuk membawa anak cucu Adam menjadi teman setianya di neraka jahannam.

Bisikan untuk sedikit demi sedikit mengubah cara berpakaian dari yang tertutup lalu terbuka secara terus menerus hingga keimanan menjadi goyah. Hal-hal yang sebelumnya tabu menjadi terbiasa akibat pembiasaan yang dilakukan misalnya ketika dahulu memakai pakaian mini menjadi hal yang memalukan tapi tidak dengan sekarang. Bisikan syetan yang melingkupi hati manusia untuk menghilangkan rasa malu tersebut. Bahkan pakaian yang semestinya tidak boleh ditampakkan di depan lawan jenis, kini bagaikan barang wajib yang harus ditampilkan untuk menarik perhatian kaum Adam.

Tubuh wanita menjadi sesuatu yang murah akibat perbuatan wanita itu sendiri. Na’udzubillah.

Padahal Allah SWT sebagai sebaik-baik Pencipta, telah memberikan aturan-aturan yang bertujuan untuk melindungi hamba-Nya dan senantiasa selalu berdampak manfaat. Walaupun acapkali hal tersebut tak pernah digubris dan menganggap bahwa aturan-aturan tersebut mengekang kebebasan hak mereka sebagai manusia.

Dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 59, dengan tegas Allah SWT mengingatkan kepada hambaNya:

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

 

Dan juga dalam Al-Qur’an surat An Nuur ayat : 31

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

Kejadian-kejadian yang menimpa kaum muslimah di dunia ini adalah akibat dari kelalaian mereka dalam mengamalkan perintah Allah. Melakukan tidak sepenuh hati. Yang akhirnya banyaknya kasus pelecehan seksual dan sebagainya. Banyak yang berkerudung (disebut kudung gaul, yang berkerudung hanya sampai ke leher tapi tetap memakai baju ketat) merasa tak berdosa untuk berjalan di tempat umum sambil menggandeng pria yang bukan muhrim, melakukan aktivitas pacaran dan perbuatan buruk lainnya. Tidakkah mereka berfikir, hal tersebut justru akan menjelekkan citra jilbab. Tapi memang, sesungguhnya nafsu dapat menutup logika manusia untuk dapat berfikir mana yang haq dan mana yang bathil.

Jika kita telah menutup aurat dengan sempurna, lalu ada yang beranggapan negatif tentang kita, biarkan saja toh niat kita hanya ingin melindungi diri dan mematuhi perintah Allah SWT. Mengapa harus menunggu untuk merasa siap untuk melakukan suatu kebaikan. Mengapa harus berkata “saya mau menjilbabkan hati dahulu sebelum saya berjilbab”. Jika tidak sekarang kapan lagi taubat itu dilaksanakan. Sedangkan perbaikan itu dapat dilakukan seiring pemakaian jilbab. Dan jilbab itu sendiri adalah “rem” otomatis yang dapat kita gunakan tatkala kita berniat melakukan aktivitas yang negatif. Tentu saja jika berjilbab sebagaimana yang syari’at ajarkan. Yaitu mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan (tidak hanya sampai ke leher), tidak ketat (tidak menampakkan lekuk tubuh), tidak transparan, berbahan tebal, corak tidak berlebihan dan tidak menyerupai wanita kafir.

Wallahua’lam.

Hanya sekelumit goresan yang terlahir dari pengamatan, bukan bermaksud menganggap diri paling benar hanya ingin berbagi pemikiran dan saling mengingatkan, saya sendiri pun adalah makhluk yang tak luput dari dosa.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (34 votes, average: 9,26 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ya ALLAH, hidupkanlah aku sebagai orang yang tawadhu', wafatkanlah aku sebagai orang yang tawadhu' dan kumpulkan aku dalam kelompok orang-orang yang tawadhu'
  • Cerah

    assalamualaikum wr wb.
    tulisannya cukup bagus dan menginspirasi yang lain..(semoga)
    oya, dri tulisannya sy mmcoba mlhat bhwa kita mlhat dr stu sisi sja yaitu wnita yang mmakai jilbab tp pakaiannya ketat.. tpi sya mncba mlhat dri sisi yg brbda,, saat ini juga trjadi pda aktivis dakwah..
    “Banyak yang berkerudung (disebut kudung gaul, yang berkerudung hanya sampai ke leher tapi tetap memakai baju ketat) merasa tak berdosa untuk berjalan di tempat umum sambil menggandeng pria yang bukan muhrim, melakukan aktivitas pacaran dan perbuatan buruk lainnya. Tidakkah mereka berfikir, hal tersebut justru akan menjelekkan citra jilbab.”

    nah,, pada saat skrang ini banyak dr kalangan akhwat yg memakai jaket tpi jilbabnya didalam sehingga nampaklah lkuk2 tubuhnya… hal trsbt bkankah sma jg dg tmn2 yg pkai krudung pndek..?bkankah juga mnjlekkan citra mrka sndiri sbgai aktivis dkwah?bgaimanakah seharusnya akhwat itu mmkai jaket?apkah jilbabnya di kluarkan atau ddlam jaket.??mohon di juga dibahas terkait tntang hal ini…
    mhon maaf sebelumnya,,ini mrpkan kprihatinnan saya trhadap aktivis dakwah saat ini(akhwat)…hrapannya dijadikan bahasan khusus tntg jilbab vs jaket…
    wassalamualaikum wr wb.

  • Jejakfana

    assalaamu’alaikum..
    subhanallaah, sangat menginspirasi!

    sudah sering ana menghadiri acara walimah, namun sering mengganjal di hati selesai menghadiri acara walimah tsb, karena ana melihat pakaian pengantin wanita tersebut berbeda dengan pakaian keseharian beliau, ya, memang jelas berbeda! namun di sini berbeda yang ana maksud pakaiannya jadi sangat membentuk lekuk tubuh, bahkan hiasan kepala dengan sanggul yang meninggi di dalam jilbab. dan saudari ana bercerita pada ana bahwa ada seorang ibu-ibu berkata “kok si mba anu yang jilbabnya panjang kaya kamu kalo nikah sama saja seperti yang orang biasa lainnya.”.

    mohon pembahasannya

    jazakumullaah khairan katsir

  • colorado

    percuma berkomentar tp tak balasan

  • underground2001

    sesama hamba ALLAH SWT, tidak berhak menyudutkan seseorang dan menyalahkan, karena sesungguhnya kita tidak tahu apakah diri kita sendiri..lebih baik atau bahkan sebaliknya lebih buruk dari yang kita sudutkan..tugas kita hanya mengingatkan dan menyarankan ke arah yang lebih baik…
    Wallahu a’lam bi showab…Wassallamuallaikum

Lihat Juga

Ilustrasi. (muslim365.com)

Allah SWT Menyayangi Keluarga Romantis