Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ketika Sabar Harus tak Terbatas

Ketika Sabar Harus tak Terbatas

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (kawanimut)

dakwatuna.comDi usia yang telah melewati angka 20 atau bahkan lebih dari itu, tak sedikit yang mengalami goncangan-goncangan hati bagi para jomblo (baca: single). Usia yang terbilang rawan menurut saya, dimana pada masa itu gejala ingin di cintai dan di sayangi sangatlah besar. Belum lagi melihat keadaan sekitar yang sangat membuat hati miris karena masih sendiri. Ya, fenomena pacaran.

Bersyukur bagi mereka yang telah Allah pertemukan dengan pendamping hidupnya tanpa harus berjuang untuk melawan perasaan hati yang tak menentu menahan gejolak nafsu. Namun lain hal untuk mereka yang memang belum di takdirkan untuk segera menikah.

Tapi yakinlah, bahwasanya Allah akan memberikan sesuatu yang kita butuhkan namun bukan yang kita inginkan. Jika keyakinan telah terpatri, Insya ALLAH hati akan merasa nyaman dengan segala keputusanNYA. Sebagai orang yang telah meyakini janji Tuhannya, hendaknya setelah itu jangan merusak keyakinan tersebut dengan perilaku yang dapat merubah keputusan ALLAH. Ketika telah yakin, hendaknya tak usah berlebihan dalam mencari pasangan misalnya dengan mengikuti pergaulan zaman sekarang, misalnya pacaran. Jika itu terjadi, apa gunanya keyakinan yang telah terbentuk di awal namun ternodai dengan nafsu dan kesabaran yang terbatas.

Sederet janji ALLAH untuk mereka yang bersabar, balasannya adalah surga. Apalagi untuk menahan hawa nafsu, sebanding dengan pahala jihad. Karena jihad terbesar adalah menahan hawa nafsu. Ketika kesabaran menjadi terbatas dan hati telah yakin pada ketetapanNYA, maka menikah bisa menjadi solusinya. Meskipun secara kasat mata, kemampuan belum memadai namun janji ALLAH untuk memberikan kemudahan bagi seorang muslim yang melakukan kebaikan hendaknya tak perlu di ragukan. Namun jika telah maksimal berusaha dan belum menampakkan hasil, baiknya sabar harus tetap tak terbatas. ALLAH akan selalu mendengar doa hambaNYA. Bila bukan sekarang, mungkin belum saatnya, karena ALLAH Maha Tahu apa yang terbaik untuk hambaNYA. Jika hati terkadang rapuh atau merasa putus asa. Ingatlah bahwa ALLAH tak pernah ingkar janji, mungkin ada yang salah dengan diri kita dan selayaknya kita selalu  berprasangka baik kepada ALLAH. Jangan pernah berhenti berusaha dan berdoa. Karena ALLAH akan selalu menggenggam doa dan mimpi para hambaNYA selama hambaNYA yakin dan mau berusaha mewujudkannya.

Ketika ALLAH belum mengabulkan doa hambaNYA untuk bersanding dengan pasangan hidupnya. Hendaknya sikap istiqamah terus dimaksimalkan. Tetap menahan hawa nafsu. Karena bisa jadi saat penantian itulah kita benar-benar di uji seberapa pantasnya kita mendapatkan seseorang yang cocok untuk kita. Bukankah ALLAH telah berjanji, bahwa pria yang baik adalah untuk wanita yang baik dan sebaliknya. Tidak mudah memang menahan cobaan di usia yang rentan  akan gejolak hati, namun jika kita bisa melewatinya dengan baik maka ALLAH akan memberikan balasan yang jauh lebih baik pula.

Karena pada dasarnya ALLAH teramat sayang dengan kita, tak membiarkan kita jatuh ke dalam jurang dosa. Walaupun kadangkala kita sendiri yang menceburkan diri dengan sengaja ke jurang tersebut. ALLAH akan menolong kita, jika kita ingin di tolong dan ALLAH akan menjaga kita, jika kita ingin di jaga. Jangan bermain dengan api jika tak ingin terbakar. Cukup ALLAH sebagai penghibur hati di saat hati kita sedang sedih.

Allahua’lam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (196 votes, average: 9,34 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ya ALLAH, hidupkanlah aku sebagai orang yang tawadhu', wafatkanlah aku sebagai orang yang tawadhu' dan kumpulkan aku dalam kelompok orang-orang yang tawadhu'
  • Susantostarcom

    izin share mas admin . . .

  • Sya_dza

    Sabar memang seharusnya tanpa batas… Subhanallah…

  • Asmuni_drs

    Aku juga telah menikmati janji Allah yang demikian itu, buktinya dengan sabar menahan nafsu akhirnya Allah berikan kepadaku pilihanku yang sesungguhnya urutan ke 2, karena pilihanku urutan pertama, yang saya yakini bakal mau denganku ternyata tidak mau denganku. Istriku ini pilihanku urutan kedua, karena aku yakin dia tidak akan mau denganku, sebab dia datang dari keluarga kaya, bapaknya seorang haji. Sedangkan aku datang dari keluarga miskin, ayahku seorang buruh tani saja. Alhamdulillah…….ternyata dia malah memilih diriku. Subhanallah…..

  • Dj_ewienkz

    begitu Agung hangat yg KAU berikn
    g mampu qu ucapkn walau seribu kata.. O:)

  • Rony Saputra

    aku sadar, betapa besarnya kekuasaanmu ya allah…..

  • dee z

    Tetapi setelah kesabaran dalam penantian itu telah diberikan kepada kita. Selalu dan tetap bersyukur kepadaNYA karena terlalu sayangNYA dia kepada kita pasti akan ada “ujian” Kesabaran ………… Kesabaran……. yang lainnya dalam kehidupan. Itu yang akan mendewasakan diri kita dalam Keimanan. Subhanallah ….. KAU masih menjadikan diri kita orang-orang yang akan KAU tinggikan derajatnya, melalui KESABARAN  

  • Risma72

    Sesungguhnya Allah beserta orang2 yg sabar.(al-baqoroh 153).
    Sabar dlm segala hal tentunya.., bukan soal jodoh aja.

  • Nesya

    Benar Mba, Alloh paling tahu saat dan orang yang tepat bagi kita tapi maaf ni, hadits tentang melawan nafsu lebih besar dari jihad itu sanadnya dha’if mba, ini saya kutip dari sebuah millist
    Hadits berbunyi:
    رجعنا من الجهاد الأصغر إلى الجهاد الأكبرقالوا: وما الجهاد الأكبر؟ قال: جهاد القلب.

     
                    “Kita kembali dari Jihad kecil menuju jihad besar.” Mereka bertanya: “Apakah jihad paling besar itu?” Beliau bersabda: “Jihad hati.”

                    Berkata Imam Zainuddin Al ‘Iraqi: 

    Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam kitab az Zuhd dari hadits Jabir, dia berkata: “Di dalam sanadnya dha’if.” (Imam Al ‘Iraqi, Takhrijul Ahadits Al Ihya’, No. 2567)

    Begitu pula disebutkan dalam  Tadzkirah Al Maudhu’at, bahwa hadits ini dhaif. ( Al ‘Allamah Muhammad Thahir bin Ali Al Hindi Al Fatani, Tadzkirah Al Maudhu’at, Hal. 191)

    Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan dalam Tasdidul Qaus bahwa ini adalah ucapan Ibrahim bin Abi ‘Ablah seorang tabi’in, sebagaimana dikatakan Imam An Nasa’i dalam Al Kuna. (Imam As Suyuthi, Ad Durar Muntatsirah fil Ahadits Musytahirah,  Hal. 11. Mawqi’ Al Warraq. Imam Al Ajluni,  Kasyful Khafa, No. 1362. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memberikan komentar terhadap hadits itu sebagai berikut:

                    “Tidak
    ada dasarnya, dan tidak diriwayatkan oleh seorang pun ahli ma’rifah
    (ulama) sebagai ucapan dan perbuatan NabiShallallahu ‘Alahi wa Sallam. Dan, jihad melawan orang kafir termasuk amal yang paling agung, bahkan dia adalah tathawwu’(anjuran) yang paling utama bagi manusia. Allah Ta’ala berfirman: “Tidaklah
    sama orang-orang beriman yang duduk (tidak pergi jihad) tanpa memiliki
    udzur (alasan yang benar), dibanding orang-orang yang berjihad dengan
    harta dan jiwanya. Allah mengutamakan satu derajat bagi orang-orang yang
    berjihad dengan harta dan jiwanya di atas orang-orang yang duduk saja.
    Kepada
    masing-masing mereka Allah menjajnjikan pahala yang baik (surga) dan
    Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk
    dengan pahala yang besar.” (QS. An Nisa: 95). (Majmu’ Fatawa, 2/487. Mawqi’ Al Islam)

    Wallahu A’lam
     http://abuhudzaifi.multiply.com/tag/hadits

    Dari Salamah bin
    Akwa, ia berkata. Aku telah mendengar Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa yang mengatakan
    atas (nama)ku apa-apa (perkataan) yang tidak pernah aku ucapkan, maka hendaklah
    ia mengambil tempat duduknya di neraka”.(Hadits shahih riwayat
    Imam Bukhari (1/35))

    Mudah-mudahan Allah
    senantiasa memberikan kepada kita kemampuan dan kemauan untuk berhati-hati
    dalam mengkhabarkan perkataan yang “katanya”  dari Rasulullah. Jikapun ada hadis palsu/dhaif
    yang memiliki kebaikan di dalamnya, lebih aman kita menganggap itu sebagai
    kata-kata mutiara semata daripada menganggap itu hadis tanpa jaminan yang jelas.
    Wallahu’alam

    Pun, saya nggak memungkiri bahwa melawan hawa nafsu bukanlah perkara mudah. Insya Alloh dengan berjihad fii sabilillah, nafsu kita akan terkekang dengan baik… wallohua’lam

  • Benar, Alloh paling tahu saat dan orang yang tepat bagi kita tapi maaf ni, hadits tentang melawan nafsu lebih besar dari jihad itu sanadnya dha’if mba, ini saya kutip dari sebuah millist
    Hadits berbunyi:
    رجعنا من الجهاد الأصغر إلى الجهاد الأكبرقالوا: وما الجهاد الأكبر؟ قال: جهاد القلب.

     
                    “Kita kembali dari Jihad kecil menuju jihad besar.” Mereka bertanya: “Apakah jihad paling besar itu?” Beliau bersabda: “Jihad hati.”

                    Berkata Imam Zainuddin Al ‘Iraqi: 

    Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam kitab az Zuhd dari hadits Jabir, dia berkata: “Di dalam sanadnya dha’if.” (Imam Al ‘Iraqi, Takhrijul Ahadits Al Ihya’, No. 2567)

    Begitu pula disebutkan dalam  Tadzkirah Al Maudhu’at, bahwa hadits ini dhaif. ( Al ‘Allamah Muhammad Thahir bin Ali Al Hindi Al Fatani, Tadzkirah Al Maudhu’at, Hal. 191)

    Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan dalam Tasdidul Qaus bahwa ini adalah ucapan Ibrahim bin Abi ‘Ablah seorang tabi’in, sebagaimana dikatakan Imam An Nasa’i dalam Al Kuna. (Imam As Suyuthi, Ad Durar Muntatsirah fil Ahadits Musytahirah,  Hal. 11. Mawqi’ Al Warraq. Imam Al Ajluni,  Kasyful Khafa, No. 1362. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memberikan komentar terhadap hadits itu sebagai berikut:

                    “Tidak
    ada dasarnya, dan tidak diriwayatkan oleh seorang pun ahli ma’rifah
    (ulama) sebagai ucapan dan perbuatan NabiShallallahu ‘Alahi wa Sallam. Dan, jihad melawan orang kafir termasuk amal yang paling agung, bahkan dia adalah tathawwu’(anjuran) yang paling utama bagi manusia. Allah Ta’ala berfirman: “Tidaklah
    sama orang-orang beriman yang duduk (tidak pergi jihad) tanpa memiliki
    udzur (alasan yang benar), dibanding orang-orang yang berjihad dengan
    harta dan jiwanya. Allah mengutamakan satu derajat bagi orang-orang yang
    berjihad dengan harta dan jiwanya di atas orang-orang yang duduk saja.
    Kepada
    masing-masing mereka Allah menjajnjikan pahala yang baik (surga) dan
    Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk
    dengan pahala yang besar.” (QS. An Nisa: 95). (Majmu’ Fatawa, 2/487. Mawqi’ Al Islam)

    Wallahu A’lam
     http://abuhudzaifi.multiply.com/tag/hadits

    Dari Salamah bin
    Akwa, ia berkata. Aku telah mendengar Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa yang mengatakan
    atas (nama)ku apa-apa (perkataan) yang tidak pernah aku ucapkan, maka hendaklah
    ia mengambil tempat duduknya di neraka”.(Hadits shahih riwayat
    Imam Bukhari (1/35))

    Mudah-mudahan Allah
    senantiasa memberikan kepada kita kemampuan dan kemauan untuk berhati-hati
    dalam mengkhabarkan perkataan yang “katanya”  dari Rasulullah. Jikapun ada hadis palsu/dhaif
    yang memiliki kebaikan di dalamnya, lebih aman kita menganggap itu sebagai
    kata-kata mutiara semata daripada menganggap itu hadis tanpa jaminan yang jelas.
    Wallahu’alam

    Pun, saya nggak memungkiri bahwa melawan hawa nafsu bukanlah perkara mudah. Insya Alloh dengan berjihad fii sabilillah, nafsu kita akan terkekang dengan baik… wallohua’lam

  • Scorvio22

    Sunhanallah muantep bangeeeeeeeet……..

  • asalamu’alaikum ijin share

Lihat Juga

Ilustrasi. (arinarizkia.wordpress.com)

Jodoh yang Aku Pinjam