Home / Berita / Internasional / Amerika / Relawan MER-C Presentasikan Hasil Penelitian Tentang Malaria di AS

Relawan MER-C Presentasikan Hasil Penelitian Tentang Malaria di AS

Logo Mer-C

dakwatuna.com – Jakarta. Selasa (06/12), dua relawan medis MER-C, dr. Zackya Yahya Setiawan, SpOk (Koordinator MER-C untuk Wilayah Papua/Ketua Divisi Riset MER-C) dan dr. Cut Nurul Hafifah bertolak ke Philadelphia, Amerika Serikat. Keberangkatan kali ini bukan dalam rangka misi kemanusiaan, melainkan memenuhi undangan dari American Society of Tropical Medicine & Hygiene (ASTMH) untuk mempresentasikan hasil penelitian tentang Malaria yang dilakukan oleh dr. Cut Nurul Hafifah. Penelitiannya yang berjudul “Evaluasi Reaksi Simpang Penggunaan Artemisin-Based Combination Therapy pada Malaria tanpa Komplikasi di Balai Kesehatan Layanan Masyarakat MER-C Timika, Papua” (Evaluation of Adverse Drug Reactions to Artemisin – Based Combination Therapy in a Community Health Clinic in Papua Province, Indonesia) telah terpilih oleh ASTMH untuk dipresentasikan pada acara Pertemuan Tahunan ASTMH yang ke-60.

Cut Nurul Hafifah merupakan salah satu relawan dokter yang pernah bertugas di Balai Layanan Kesehatan Masyarakat (BLKM) wilayah Timika Papua. BLKM MER-C di Timika telah beroperasi sejak Februari 2006 atas kerjasama dengan PT BNI 46. Secara berkala MER-C mengirimkan relawan dokter dan perawat untuk memberikan pelayanan medis kepada masyarakat di Timika, Papua.

Selama bertugas di wilayah endemik malaria ini tepatnya pada September 2010 – Maret 2011, Cut tertarik untuk melakukan penelitian terhadap penggunaan Artemisin – Based Combination Therapy (ACT) per oral. Penggunaan ACT per oral adalah kebijakan yang diterapkan oleh Kementerian Kesehatan RI sejak tahun 2004 untuk mengobati malaria tanpa komplikasi. Penelitian dilakukan Cut terhadap pasien malaria tanpa komplikasi yang ditanganinya di BLKM MER-C.

“Sejumlah reaksi simpang ditemui dari penggunaan ACT per oral ini dan seringkali mengganggu pasien, bahkan mempengaruhi kepatuhan pasien dalam berobat,” ungkap dokter lulusan FK UI ini.

“Dengan mengetahui berbagai reaksi simpang ACT yang sering terjadi, diharapkan reaksi simpang tersebut bisa diatasi sehingga meningkatkan kepatuhan pasien berobat dan kesembuhannya,” tambahnya.

Cut merupakan satu-satunya peserta dari Indonesia yang mengikuti seminar ASTMH ke-60 tahun ini. Cut mendapat kesempatan untuk mempresentasikan hasil penelitiannya pada hari Rabu (07/12), pukul 19.00 – 22.00 waktu setempat.

Penelitian ini diharapkan bisa menjadi masukan yang baik bagi penanganan kasus malaria yang masih menjadi endemik di beberapa wilayah di Indonesia, khususnya Indonesia Timur. Penelitian yang dilakukan Cut juga diharapkan bisa meningkatkan minat relawan MER-C lainnya terhadap penelitian seiring dengan telah terbentuknya Divisi Riset MER-C.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Latihan perang AS dan Korsel (islammemo.cc)

Korut Tuding Latihan Militer AS-Korsel Sebagai Provokasi Perang