21:18 - Kamis, 27 November 2014

Mengenang Kembali Pahlawan

Rubrik: Opini | Kontributor: Sofistika Carevy Ediwindra - 15/11/11 | 12:30 | 18 Dhul-Hijjah 1432 H

Ilustrasi (wordpress.com/misteradotz)

dakwatuna.com - Kita semua diberi waktu yang sama oleh pencipta kita, 24 jam dalam sehari. No more, no less. Namun pertanyaannya, mengapa setiap orang memperoleh pencapaian yang berbeda pada hidupnya?

Sebut saja Muhammad  bin Abdullah, tokoh nomor satu dalam sejarah manusia yang hingga kini nama dan napak tilas sejarahnya masih terasa hidup di sekitar kita. Pada usia belianya, 12 tahun, beliau telah mengadakan perjalanan bisnis ke luar negeri. Dan selama hidupnya, beliau telah berhasil mengubah wajah bangsa Arab dan dunia dengan ajaran Islam yang dibawanya.

“Jatuhnya pilihan saya kepada Nabi Muhammad dalam urutan pertama daftar Seratus Tokoh yang berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan sementara pembaca dan mungkin jadi tanda tanya sebagian yang lain. Tapi saya berpegang pada keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi.” (Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, Michael H. Hart, 1978)

Dan, tiada yang menyangkal bahwa beliau adalah pahlawan.

Yang lain, Muhammad Natsir. Kepiawaian beliau dalam aspek internal kenegaraan tidak lagi diragukan. Perdana menteri Indonesia kelima ini juga termasuk satu di antara sedikit tokoh Indonesia yang memiliki reputasi di kancah internasional. Selama hidup, beliau mempersembahkan banyak karya bagi negeri. Karyanya berupa buku, lebih dari tiga puluh jumlahnya. Karyanya berupa pemikiran, entah berapa jumlah pastinya, mampu menumbuhkan harapan bangsa. Belum lagi kiprah beliau dalam membangun tanah air melalui diplomasi politik luar negerinya maupun kinerjanya dalam parlemen.

Dan beliau pun seorang pahlawan.

Berapa usia kita sekarang? 19,25, 37, 45, 60? Atau bahkan lebih dari itu?

Pahlawan bukan hanya mereka yang namanya tercatat dalam daftar pahlawan suatu negeri. Adalah Tabarak al-Labudi, pada usianya yang ke-4,5 tahun, dia telah diakui sempurna menghapal Al Quran. Bahkan sejak usianya dua tahun, dia telah beranjak menghapal surat-surat dalam kalam Allah itu. Dan dia menurut saya adalah pahlawan yang turut menjaga kemurnian Al Quran.

Jika ingin menyebut nama, maka akan ada jutaan nama orang luar biasa di dunia ini. Imam Bonjol, Ahmad Dahlan, Sukarno, Muhammad Hatta, Hasan al Banna, RA Kartini, Ahmad Yani, dll. Mereka dan kita, tidak ada bedanya, sama-sama memiliki 24 jam waktu dalam sehari. Namun, kenapa dalam jejak usia kita sampai sekarang ini, belumlah kita beroleh hal luar biasa seperti mereka?

Usaha sebagai Pembeda

Adalah usaha yang membedakan antara kita dengan mereka. Semakin sedikit usaha kita, maka semakin besar jarak kita dengan mereka. Sebaliknya, saat kita menggesa diri dengan memaksimalkan kapasitas kita, maka jarak itu akan semakin tipis dan tunggulah buah dari usaha kita walau mungkin tidak di dunia kita rasa.

Saya sangat tidak menyukai pelajaran sejarah. Bukan tidak menyukai yang mengarah pada enggan belajar, namun lebih kepada sebuah anggapan bahwa kenapa kita harus saja selalu membaca dan menghapal nama-nama tokoh dalam buku-buku sejarah itu. Saya lebih ingin memikirkan dan melakukan hal-hal yang membuat kelak nama dan kiprah saya ditulis dalam buku sejarah manapun. Dalam hal ini bukan berarti saya adalah orang pamrih dan ingin dipuji, namun saya ingin lebih memacu diri untuk tidak hanya sekedar sebagai pembaca sejarah, namun juga pelaku sejarah.

Kita dan pahlawan, alangkah sedikit bedanya. Mereka, betapa sedikit mengeluh di tengah masalah hidup mereka dan mengalihkannya pada persembahan karya. Sedang kita, sedikit-sedikit mengeluh tanpa ada upaya. Mereka, sedikit sekali meluangkan waktu untuk istirahat dan hal yang kurang bermanfaat. Sedangkan kita, sedikit-sedikit lelah dan merebahkan tubuh pada hal-hal yang kurang membawa manfaat. Kita hanya sedikit belajar dari mereka. Kita, sedikit berkarya dan mencoba. Kita, sedikit-sedikit takut menghadapi risiko dan tantangan hidup ini.

Mungkin itulah sedikit hal yang membelenggu kita, yang membedakan kita dengan pahlawan. Alangkah nikmatnya jika setiap hidup kita membawa manfaat untuk kita dan banyak orang di luar sana. Alangkah bahagianya jika kehadiran kita disambut hangat di setiap komunitas, kepergian kita dirindui mereka. Alangkah membahagiakannya jika setiap nama kita disapa, maka senyum terulas dari wajah mereka, orang-orang di sekitar kita.

Sama-sama kita sadari bahwa hidup yang diberikan pada kita hanya sekali. Ukirlah sejarahmu sendiri. Jadilah pelakunya. Karena pahlawan adalah mereka yang mampu memaknai hidupnya, memanfaatkannya untuk kebaikan kolektif. Karena pahlawan adalah saya dan mereka. Adakah juga Anda?

Tentang Sofistika Carevy Ediwindra

Mahasiswa semester 1 di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Saat ini aktif di KAMMI dan menjadi kepala departemen Pemberdayaan Perempuan KAMMI Komisariat Madani. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Keyword: ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (3 orang menilai, rata-rata: 9,00 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
44 queries in 1,463 seconds.