02:17 - Sabtu, 01 November 2014

Fiqih Haji (Bagian ke-10): Umrah

Rubrik: Fiqih Ahkam | Oleh: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah - 07/11/11 | 08:30 | 10 Dhul-Hijjah 1432 H

Ilustrasi (inet)

A. Ta’rif Dan Syar’inya

dakwatuna.com – Umrah artinya berziarah, dan yang dimaksudkan di sini adalah mengunjungi Ka’bah untuk menunaikan manasik tertentu. Rasulullah SAW bersabda:

“Umrah di bulan Ramadhan menyamai haji”. (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

Artinya pahala umrah Ramadhan sama dengan pahala haji yang tidak wajib, akan tetapi tidak berarti menggugurkan kewajiban haji wajib.

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Umrah satu ke umrah berikutnya adalah penghapus dosa di antaranya. Dan haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR Asy Syaikhani dan Ahmad)

Jumhur ulama memperbolehkan pengulangan umrah dalam satu tahun sesuka hati seseorang. Tetapi Imam Malik menganggap makruh orang yang berumrah setahun lebih dari sekali.

Rasulullah SAW berumrah empat kali, yaitu: umrah Hudaibiyah, umrah qadha, umrah Ji’ranah dan umrah bersama haji wada’. (HR Ahmad dan Abu Daud)

B. Hukumnya

Hukum umrah adalah sunnah muakkadah menurut mazhab Hanafi dan Maliki,[1] merujuk kepada hadits Jabir bahwasanya Nabi Muhammad SAW ditanya tentang umrah apakah ia wajib? Nabi menjawab: Tidak, tetapi jika kamu umrah itu lebih baik. (HR Ahmad dan At Tirmidzi dan mengatakan hadits hasan shahih)

C. Waktunya

Diperbolehkan melaksanakan umrah sepanjang tahun, kecuali hari Arafah, hari nahr, dan hari tasyriq. Tetapi jika telah menyelesaikan manasik haji pada dua hari tasyriq maka diperbolehkan umrah pada hari itu, namun yang utama menunda umrah sampai selesai tasyriq. Aisyah RA berumrah setelah haji pada bulan Dzulhijjah.

D. Miqatnya

Bagi orang yang tinggal di luar miqat makaniy haji, maka miqat makaniy umrahnya adalah miqat haji itu sendiri. Sedangkan bagi orang yang berada dalam miqat maka miqatnya adalah tempat tinggalnya itu, karena hadits Rasulullah SAW:

“Sehingga penduduk Mekah dari Mekah…” (Muttafaq alaih). Dan Aisyah RA berihram untuk umrah dari Tan’im, seperti perintah Rasulullah SAW (Muttafaq alaih).

E. Rukun Dan Wajibnya

Rukun umrah adalah: ihram, thawaf, sa’i menurut Malikiyah dan Hanabilah, Syafi’iyah menambahkan cukur atau gunting rambut dan berurutan. Sedangkan wajib dan sunnahnya serta hokum-hukum lainnya seperti hokum haji.

– Bersambung

(hdn)


Catatan Kaki:

[1] Menurut Syafi’iyah dan Hanabilah, umrah hukumnya wajib , karena firman Allah: Dan sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah…..(QS Al Baqarah:196) juga ungkapan Ibnu Umar: Tidak ada kewajiban bagi seseorng kecuali haji dan umrah”. (HR Al Bukhari)

Tentang Tim Kajian Manhaj Tarbiyah

Lembaga Kajian Manhaj Tarbiyah (LKMT) adalah wadah para aktivis dan pemerhati pendidikan Islam yang memiliki perhatian besar terhadap proses tarbiyah islamiyah di Indonesia. Para penggagas lembaga ini meyakini bahwa ajaran… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Keyword: , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (1 orang menilai, rata-rata: 10,00 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
100 queries in 1,291 seconds.