Home / Berita / Internasional / Asia / Ibu Yoyoh, TNI Berjilbab, dan Palestina

Ibu Yoyoh, TNI Berjilbab, dan Palestina

Yoyoh Yusroh berfoto bersama PM Palestina Ismail Haniya dan Wakil Ketua Parlemen Palestina, Dr. Ahmed Bahar. Ketika itu almarhumah berhasil menembus blokade Israel di Gaza Palestina bersama para relawan (10/2010). (knrp)
Yoyoh Yusroh berfoto bersama PM Palestina Ismail Haniya dan Wakil Ketua Parlemen Palestina, Dr. Ahmed Bahar. Ketika itu almarhumah berhasil menembus blokade Israel di Gaza Palestina bersama para relawan (10/2010). (knrp)

dakwatuna.com – Jakarta. Dalam tes uji kelayakan calon Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, seorang anggota FPKS meminta agar Panglima TNI memperbolehkan wanita TNI boleh berjilbab. Hal ini sudah diterapkan di Aceh, dan tidak menjadi masalah.

“Kalau bisa wanita bisa berpakaian sesuai aturan agama. Ini tidak akan mengganggu tugasnya,” katanya saat itu.

Wanita itu anggota, FPKS Yoyoh Yusroh.

Penulis ingat itu pertama kali penulis berkenalan dengan beliau. Beberapa hari kemudian penulis ditugaskan kantor untuk meliput rombongan Viva Palestina yang akan tergabung dalam Lifeline 5. Kebetulan Ibu Yoyoh memimpin rombongan Viva Palestina dari Indonesia.

Rencananya, rombongan yang dimotori oleh Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) itu akan bergabung bersama rombongan dari seluruh dunia di Pelabuhan Latakia, Suriah. Mereka akan berlayar dari Latakia menuju El Arish, Mesir. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Reffah. Perbatasan Mesir dan Palestina di Jalur Gaza. Tim dari Indonesia akan memberikan sebuah ambulans beserta peralatan medik lainnya untuk masyarakat Gaza.

Saya bertemu Ibu Yoyoh kedua kalinya di Kedutaan Suriah. Saat itu visa beliau sudah keluar. Sedangkan visa saya dan beberapa rekan lain masih tertahan. Maklum, latar belakang kami yang wartawan dan penulis sedikit menjadi masalah.

Ibu Yoyoh bilang sabar saja. Beliau berjanji akan menghubungi Pak Hidayat Nurwahid untuk membantu proses pembuatan visa kami.

Tapi visa itu tidak juga bisa keluar. Akhirnya diputuskan beliau dan 2 orang lainnya tetap berangkat ke Latakia. Sedangkan sisanya berangkat lewat Kairo, lanjut ke El Arish dan mencoba masuk Jalur Gaza lewat Reffah. Saya masuk dalam rombongan Mesir, bersama Arif Shodiq dari TVone, penulis Helvy Tiana Rosa, DR Muqoddam Cholil dari KNRP, Pemred majalah Umi, Dwi Septiani dan Agung Nurwijoyo, aktivis Salam UI.

Sebelum berangkat, Ibu Yoyoh menelpon. Menanyakan keadaan kami. Beliau meminta agar kami banyak berdoa. Saya mengiyakan, saya bilang semoga bisa bertemu di Reffah.

Tapi rencana tinggal rencana. Pemerintah Mesir melarang rombongan Lifeline 5 dari Latakia memasuki perairan Mesir. Begitu pula kami di El Arish, jangankan mendapat izin memasuki Gaza, sampai Reffah saja kami tidak dapat izin. Saat itu Mesir masih di bawah Presiden Hosni Mubarak. Terasa sekali aroma diktator militer itu di Mesir.

Namun akhirnya ada titik terang. Rombongan dari Latakia diizinkan berlayar ke Mesir. Namun pemerintah Mesir melarang pimpinan Lifeline V George Galloway, ikut berlayar.

Penulis dengar rombongan di Latakia kembali bersemangat setelah 18 hari menunggu kabar itu. Namun ternyata izin itu belum keluar. Begitu terus sampai tiga kali. Berangkat, tidak jadi, berangkat, tidak jadi.

Sementara kami yang di El Arish dipastikan tidak mendapat izin memasuki Jalur Gaza. Diiringi polisi ber AK-47, kami balik kanan ke Kairo.

Di Kairo masih mencoba lobi, pemerintah Mesir. Tapi gagal lagi. 4 Hari di Kairo, penulis dan Arif Shodiq akhirnya pulang ke Indonesia. Kecewa dan sedih tentu saja.

Saat penulis sudah di Indonesia. Ibu Yoyoh mengirimkan email, akhirnya rombongan dari Latakia bisa berangkat ke Reffah. Diiringi panser tentara Mesir, mereka akhirnya bisa masuk ke Gaza. Ibu Yoyoh berulangkali mengucap syukur karena sebelumnya sudah tidak menyangka bisa memasuki Gaza.

Penulis bertemu terakhir dengan Ibu Yoyoh saat diundang harian Republika. Beliau mengajak seluruh rombongan untuk bertemu. Dia bercerita bagaimana kondisi di Gaza, semangat orang-orangnya dan optimisme mereka menjalani hidup. Beliau juga bercerita pria-pria berwajah teduh yang menyerahkan hidupnya untuk mempertahankan Palestina. Menjadi Jundullah atau tentara Allah.

Penulis duduk di pojok. Menunduk, menahan air mata mendengar beliau dengan semangat menceritakan itu semua.

Ibu Yoyoh bilang, dia masih ingin kembali ke Palestina. Melakukan tindakan kemanusiaan di sana. Tapi Allah rupanya berkehendak lain. Beliau meninggal saat kecelakaan dini hari tadi.

Hari ini, PKS kehilangan tokoh terbaiknya. Umat Islam di Indonesia juga kehilangan seorang pejuangnya.

Dan samar, entah dari mana penulis mendengar sebuah lagu.. We will not go down in the night without the fight, we will not go down in Gaza tonight..

Selamat jalan Ibu Yoyoh.. (rdf/mpr/Ramadhian Fadillah/dtc)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (44 votes, average: 9,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • asep

    semoga Alloh memudahkan jalanmu, bunda….
     

  • Anianung

    Innalillahi wa innaa ilaihi roojiuuun….turut berduka atas berpulangnya Ustazah Yoyoh…semoga amal ibadah beliau diterima disisi Alloh SWT

Lihat Juga

Peringati Hari Solidaritas Palestina, ASPAC for Palestine Gandeng UIA Gelar Stadium General