10:01 - Jumat, 29 Agustus 2014
Faiq Fahmi Bahwal

Surat Untukmu Guru

Rubrik: Essay | Oleh: Faiq Fahmi Bahwal - 30/11/10 | 22:45 | 23 Dhul-Hijjah 1431 H

Ilustrasi (wordpress.com/winterwing)

dakwatuna.com

Guruku…………

Sebentar lagi engkau akan berulang tahun. Aku mencoba termenung mengingat dan membuka lembaran – lembaran memori yang masih melekat erat di benakku. Dua belas tahun yang lalu ketika aku pertama kali mengenal kata “Guru” dan untuk pertamakalinya aku menginjakkankakiku di tempat yang bernama “Sekolah”. Dengan rasa takut dan malu – malu aku menghampirimu.

Guruku…………

Senyumu yang sehangat matahari pagi dan dengan sapaanmu yang merdu menghapus itu semua. Kau mengajariku arti berbagi dengan sesama, menumbuhkan rasa empati dan tolong menolong.Dengan sabar dan ketekunan yang penuhkaumengajariku huruf demi huruf hingga terangkai kata demi kata. Kau juga mengajarkan nilai – nilai keislaman, dari mulai berbagi, berwudhu, solat, mengaji, hingga berpuasa.

Guruku…………

Tak terasa, tiga tahun sudah berlalu. Dengan diiringi derai air mata, engkau melepasku. Saat itu aku sempat heran, mengapa engkau bersedih melepasku? Bukankah harusnya engkau senang aku menjadi lebih besar dan pintar? Pertanyaan itu baru bisa terjawab sekarang. Ternyata ada ikatan emosi yang luar biasa hebatnya antara seorang guru dengan muridnya.

Guruku…………

Memasuki jenjang yang lebih tinggi di bidang pendidikan, aku sudah tidak gamang lagi denganmu berkat kasih sayangmu dalam mendidik dan mengajariku. Engkau mengajariku mengolah berbagai macam angka, membuat sebuah karangan hingga berbicara di depan umum. Engkau melakukan semua itu dengan sabar, tetapi semua itu  aku pandang sebelah mata. Aku baru sadar bahwa itu adalah tugas yang sangat berat, menjadi seorang guru. Kemudian, enam tahun sudah kita lewati. Kita tertawa bersama, senang bersama, hingga sedih juga bersama. Sungguh indah masa – masa itu. Ketika kita bertemu di kelas untuk yang terakhirkalinya, engkau melakukan itu lagi, kau meneteskan air matamu lagi. Kali ini aku mulai mengerti mengapa engkau lakukan itu setiap ada kata “perpisahan”.

Guruku…………

Mungkin engkau bukanlah manusia yang sempurna. Aku teringat ketika engkau memarahi aku. Tetapi, aku anggap itu adalah sebuah perilaku yang sangat bijaksana untuk mengingatkanku kembali ke jalan yag benar. Memang, emosimu kadang – kadang tidak terkontrol. Tetapi penyebab itu semua adalah kami. Sungguh, bagiku, engkau merupakan sosok manusia yang hampir sempurna

Sekarang, aku sudah beranjak dewasa. Alhamdulillah, aku bisa melewati masa – masa mencari identitas diriku dengan baik. Itu semua berkat jasa – jasamu, guruku. Kau senantiasa mengingatkanku untuk solat lima waktu di masjid, shaum sunnah senin – kamis, bahkan hingga solat lail. Ini semua yang mengawal masa remajaku hingga berjalan dengan baik.

Guruku…………

Betapa luarbiasanya jasa – jasamu. Engkau sangat cerdas saat memposisikan dirimu. Kadang, bertindak seperti orang tua yang selalu membimbing dan mengayomi. Di lain sisi, engkau bisa berperan sebagai seorang sahabat yang selalu siap memberi dukungan dan solusi atas setiap masalah yang ada kapan saja. Bahkan, di luar jam sekolah.

Rangkaian doa – doa yang tulus selalu mengalir dari bibirmu selalu menyertai setiap langkah dalam hidupku. Harapan – harapan yang terbaik selalu kau tanamkan dalam jiwaku.Nilai – nilai “Kejujuran “ selalu kau patrikan dalam sanubariku. Bahkan tantangan demi tantangan engkau berikan padaku agar kelak aku menjadi manusia yang tegar dan mandiri. Yaitu “Manusia yang tak lapuk oleh hujan dan tak lekang oleh panas”.

Guruku…………

Terkadang aku sedih melihat nasibmu. Manakala ada siswa berprestasi engkau tidak pernah tampil sebagai pahlawan. Namun sebaliknya, manakala ada siswa berprilaku buruk maka semua tangan menunjukmu sebagai biang keladinya. Bahkan, manakala ada oknum guru yang khilaf (kekerasan pada siswa), seperti yang terjadi beberapa waktu yang lalu maka seantero nusantara akan mengetahuinya lewat media massa. Hal ini tentulah tidak adil. Ibarat  kata pepatah, “Nila setitik rusaklah susu sebelanga”

Ya Allah, berikanlah guruku ini kesabaran dalam menghadapi semua ujian dan tantangan. Danberikanlah pula kekuatan untuk terus dapat menyebarkan ilmunya. Berkahilah rizkinya agar dia bisa berjuang terus dengan optimal.Lindungilah keluarganya agar dia mampu melindungi anak didiknya.Panjangkanlah umurnya supaya mereka bisa terus mencetak pemimpin – pemimpin masa depan yang cerdas dan berhati nurani,kelak pada gilirannya  akan menggantikan pemimpin kotor yang sedang merajalela saat ini. Semoga masa depan bangsa ini menjadi seperti apa yang kita semua harapkan.Amien.

Guruku…………

Dengan mengingat semua“Jasa-jasamu”, aku lama termenung memikirkan cara yang terbaik untuk membalasnya sekaligus mengimbanginya. Namun ternyata selalu saja kandas.Hadiah dan ungkapan terima kasih tidaklah cukup untuk menebus semua itu……………………….

“SELAMAT ULANG TAHUN GURUKU TERSAYANG….”

Faiq Fahmi Bahwal

Tentang Faiq Fahmi Bahwal

Penulis adalah juara I Lomba Menulis "Surat Untukmu Guru" pada acara "Diskusi Publik Memperingati Hari Guru" yang diselenggarakan oleh DPP PKS, tanggal 27 November 2010. SMP di SMPIT Nurul Fikri.… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Keyword: , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (49 orang menilai, rata-rata: 9,22 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • andry wati

    artikel yg sangat bagus ,mengingatkanku akan masa” di sekolah dulu,dan memang itu yg terjadi,terima kasih guruku,engkau adalah pahlawan bangsa tanpa tanda jasa,i love you guruku

Iklan negatif? Laporkan!
64 queries in 1,290 seconds.