Home / Berita / Orang Tua Gilad Tuntut Netanyahu Bebaskan Anaknya

Orang Tua Gilad Tuntut Netanyahu Bebaskan Anaknya

dakwatuna.com – Jerusalim, Orang tua tentara Israel yang ditangkap, Gilad Shalit, dengan tak sabar, Ahad, meminta Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk mencapai kesepakatan dengan penangkap anaknya, karena menurut dia saatnya sudah lewat.

“Kami percaya bahwa beberapa hari mendatang menentukan nasib putra kami tercinta Gilad,” kata orang tuanya, Noam dan Aviva Shalit, yang menulis surat kepada Netanyahu. “Kami mengamati tindakan-tindakan pemerintah Israel dengan harapan besar,” kata mereka.

Imbauan itu muncul di tengah menumpuknya spekulasi bahwa satu kesepakatan mungkin makin dekat antara Israel dan gerakan HAMAS mengenai pertukaran tawanan tersebut dengan sekitar 1.000 tahanan Palestina. Gilad Shalit ditangkap oleh gerilyawan dari Jalur Gaza dalam serangan lintas-perbatasan pada 2006.

Netanyahu, Ahad, memimpin sidang kabinet bidang keamanan untuk ketiga kali, yang menurut para penjabat membahas kasus Shalit. Pertemuan berakhir larut malam tanpa pengumuman apapun, namun para penjabat mengatakan Netanyahu menyinggung rencana pembebasan para gerilyawan HAMAS yang ditahan karena terlibat pemboman bunuh diri di Tepi Barat.

Terdapat spekulasi bahwa Kepala Intelijen Mesir Omar Suleiman — yang ditunjuk oleh Kairo untuk melakukan perundingan tidak langsung antara Israel dan HAMAS — juga mengadakan pembicaraan di Israel, Ahad, dengan para penjabat senior. Israel secara resmi tak berkomentar mengenai perundingan berkaitan dengan nasib Shalit itu.

HAMAS dan dua kelompok garis keras Palestina yang lebih kecil menangkap Shalit pada Juni 2006, ketika mereka diselundupkan ke Israel dari Jalur Gaza dan menyerang satu pos militer, dan menewaskan dua prajurit yang ada di pos tersebut.

“Kami mengimbau anda, bapak perdana menteri, sebelum sangat terlambat, jangan letakkan semua persoalan Timur Tengah ke pundak kurus anak kami,” demikian surat Ny. Shalid.

Israel dan HAMAS dalam beberapa pekan terakhir ini tampak makin dekat dengan kesepakatan untuk membebaskan prajurit yang berumur 23 tahun itu. Namun meskipun melibatkan seorang penengah Jerman, kedua pihak belum mencapai kesepakatan, karena kedua pihak memberlakukan sensor internal yang ketat dalam pelaksanaan perundingan.

Pada Selasa lalu, pemimpin HAMAS Khaled Meshaal mengatakan bahwa Israel bertanggungjawab atas penundaan pembebasan Shalit, dan menegaskan bahwa dia akan dibebaskan jika Israel menyetujui pembebasan ratusan tawanan Palestina.

Netanyahu dan para pemimpin Israel “tidak akan lagi melihat Shalit” jika HAMAS tidak memenuhi permintaan itu, kata Meshaal saat berkunjung ke Teheran. ant/afp/taq/RoL

About these ads

Redaktur: Ulis Tofa, Lc

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Sebelum Lengser, Obama Diminta Mantan Presiden AS Ini Akui Negara Palestina