Topic
Home / Berita / Palestina Pasca Deklarasi Makkah

Palestina Pasca Deklarasi Makkah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Deklarasi MakkahPiagam Makkah ditandatangani Khalid Misy’al, mewakili Hamas, dan Mahmud Abbas, mewakili kelompok Fatah, 8 Februari silam di Makkah, Arab Saudi. Ini adalah langkah positif dalam menyelesaikan konflik antara dua faksi besar di Palestina. Seperti apa sebenarnya peta perjuangan kemerdekaan Palestina? Alhamdulillah, belum lama ini ada tokoh Parlemen Palestina berkunjung ke kantor Dakwatuna.com. Beliau adalah Syaikh Abu Ubadah Az Zuhairy. Berikut paparan beliau tentang perjuang rakyat Palestina dalam meraih kemerdekaan sekaligus menjelaskan kepada kita tentang peta politik yang tengah terjadi di sana. Semoga bermanfaat.

***

Saya sangat senang sekali bertemu dengan saudara-saudara saya di Indonesia, saudara-saudara yang saya banggakan dan saya cintai karena Allah swt. Karena, barangsiapa menghendaki dunia dan akhirat, wajib baginya menjalin persaudaraan. Persaudaraan Islam yang tidak dibatasi oleh teritorial, hubungan darah, dan bahasa. Persaudaraan Islam yang mewariskan cinta, saling menasihati, dan saling tolong antar sesama.

Kami, saudara kalian di Palestina, mengharapkan kalian menjadi bagian dari solusi bagi pembebasan Palestina. Kami menghendaki kalian paham betul kondisi Palestina, karena kalian adalah qudwah dalam kebaikan. Jika tahu persis permasalahan Palestina, maka kalian akan menyampaikan kepada umat Islam di Indonesia, insya Allah.

Awal Perjuangan Pembebasan Palestina

Saya ingin mengawali pembicaraan ini dengan menerangkan perjalanan perjuangan pembebasan Palestina dari tahun tiga puluhan. Ketika itu umat Islam –yang dimotori oleh pergerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir– berusaha mengangkat permasalahan Palestina dalam banyak kesempatan. Lewat media massa, seminar, dan tulisan-tulisan mereka. Di samping itu, pergerakan itu juga menjalin hubungan yang kuat dengan elemen-elemen yang ada di dalam Palestina, seperti Syaikh Ahmad Yasin, Syaikh Izzuddin Al-Qassam, dan H. Amin Husaini.

Palestina sebelumnya dijajah Inggris. Selanjutnya Inggris menyerahkan negara jajahannya ke Israel. Dengan kata lain, Inggris adalah negara yang melapangkan berdirinya negara Israel pada tanggal 14 Mei 1948.

Negara-negara Arab dan tetangga Palestina, seperti Yordania, Irak, Suriah, dan Mesir, mengirimkan pasukan ke Palestina. Mereka membantu dana dan militer. Namun karena mereka di bawah komando pemimpin-pemimpin yang bukan orientasi pada pembebasan Palestina, maka tujuan mereka pun keuntungan ekonomi dan mencari muka dunia. Apalgi mereka tidak lepas dari kendali Inggris. Sehingga, keberadaan tentara dunia Arab itu tidak membawa arti bagi Palestina, bahkan memuluskan berdirinya negara Yahudi Israel.

Hasan Al-Banna mencium adanya skenario yang rapi dari dunia internasional untuk merealisasikan negara Yahudi Israel di atas penjajahan bangsa Palestina. Karena itu, beliau dengan jamaahnya, Ikhwanul Muslimin, mengirim 12.000 mujahid terlatih yang terdiri dari para pemuda yang siap mewakafkan hidupnya untuk membebaskan Palestina. Begitu juga dari Suriah yang dimotori oleh Syaikh Mustofa As-Siba’i dan Muhammad Mahmud dari Iraq. Dalam waktu singkat para pejuang mampu mengimbangi kekuatan militer Israel, bahkan mengalahkan mereka di berbagai tempat.

Melihat perkembangan yang kondusif untuk pembebasan Palestina itu, Inggris menekan pemerintah negara-negara Arab untuk mengirim pasukan ke Palestina. Pasukan itu ditugaskan menangkapi para sukarelawan jihad dan mengembalikan secara paksa ke negara masing-masing. Para relawan jihad itu dibunuh dan sebagian besar di penjara layaknya pelaku kejahatan, tanpa adanya peradilan dan proses penegakan hukum. Tidak sampai di situ, bahkan dirancang konspirasi untuk membunuh pemimpin gerakan Ikhwanul Muslimin ini. Di tengah kesunyian pendukung jamaah Ikhwan karena mereka semua dipenjara, tokoh pendiri jamaah itu dibunuh. Hasan Al-Banna syahid menemui Rabb-nya.

Palestina Dan Skenario Internasional

Setelah itu, negara-negara Arab meninggalkan perlawanan militer sama sekali. Akibatnya, hampir seluruh bumi Palestina dijajah Israel, kecuali Tepi Barat. Sampai sekarang ini –kurang lebih sudah lima puluh tahun– jutaan rakyat Palestina mengungsi ke berbagai negeri tetangga. Mereka membawa kunci rumah masing-masing dengan harapan besok bisa pulang kembali ke rumah mereka dengan aman. Mereka mengira keadaan ini akan segera berlalu.

Antara tahun 1948 sampai tahun 1967, selama 20 tahun tidak ada perubahan berarti bagi bangsa Palestina, karena para mujahid yang memperjuangkan kemerdekaan Palestina –terutama yang berasal dari negara Mesir– ditangkap dan dipenjara. Sementara, Suriah disibukkan dengan urusan dalam negeri. Begitu juga Yordania. Tidak banyak yang tahu bahwa Palestina tengah menghadapi konspirasi besar. Konspirasi penghancuran. Rakyat Palestina menganggap ini masalah biasa yang akan berlalu dengan sendirinya. Kesempatan ini dimanfaatkan Israel memasukkan orang-orang Yahudi dari luar, berbarengan dengan upaya pembangunan pemukiman Yahudi secara besar-besaran.

Kondisi pergerakan Islam secara umum pada saat itu dalam ujian yang sangat berat. Para aktivis pergerakan Islam ditangkap, dipenjara, bahkan dibunuh. Itu terjadi di Mesir dan di Suriah. Sedangkan di Yordania, aktivis pergerakan Islam waktu itu masih sedikit.

Pada tahun 1965 muncul gerakan Fatah di bawah kendali PLO. Fatah didirikan oleh pemuda-pemuda Palestina yang di awal perjuangannya berorientasi pada Islam. Banyak di antara mereka dipengaruhi pemikiran pergerakan Ikhwanul Muslimin. Namun, karena suasana politik dan iming-iming kedudukan, kekuasaan, dan materi, garis perjuangan mereka berubah haluan menjadi sekular.

Selain Fatah, ada banyak faksi-faksi perjuangan yang dibiayai oleh negara-negara Arab. Sayangnya, tidak sedikit justru melakukan perlawanan dengan cara-cara yang melanggar garis perjuangan Islam. Karena, target faksi-faksi itu didirikan adalah untuk memperburuk citra jihad dan mujahid agar dijauhi banyak dan dikecam dunia.

Pada tahun 1967 Israel berhasil menduduki Tepi Barat. Praktis, seluruh wilayah Palestina dikuasai penjajahan Israel. Melihat itu gerakan Ikhwanul Muslimin bersepakat dengan Fatah untuk mendirikan sayap militer. Mereka berlatih di Yordania yang disebut dengan Camp As-Syuyukh. Biayanya dari kantong mereka sendiri. Kadang anggota Ikhwanul Muslimin membeli persenjataan dari pihak Fatah.

Kemudian muncul lagi konspirasi dari negara-negara Eropa dengan memanfaatkan negara-negara Arab untuk mengadu domba antar para pejuang pembebasan Palestina yang berasal dari Suriah, Yordania, Mesir, Lebanon dengan orang Palestina; atau antar orang Palestina sendiri. Di Palestina banyak sekali senapan, bom, mortir dan senjata lainnya. Target adu domba itu adalah agar senjata-senjata itu jangan sampai mengarah ke Yahudi, tapi mengarah ke umat Islam sendiri. Akibatnya, timbul fitnah besar yang menelan puluhan ribu korban pada tahun 1970. Penyebab mudah para pejuang pembebasan Palestian dipecah dan diadu domba adalah karena ada begitu banyak ideologi yang mereka anut. Ada ideologi sosialis, ada nasionalisme kearaban yang sempit.

Awal Perlawanan Intifadhah

Ikhwanul Muslimin membangun pondasi pergerakan di Palestina dengan mengirim pemuda-pemuda untuk belajar ke Arab Saudi, Mesir, Sudan, dan negara-negara Islam lainnya. Setelah mereka kembali ke Palestina, Ahmad Yasin mendirikan sayap militer bernama Hamas (Harakah Muqawamah Islamiyyah) pada tahun 1987. Sejak itu perlawanan secara massif dimulai. Tercetuslah intifadhah kubra, perlawanan dengan melempar batu di jalanan yang dilakukan oleh anak-anak dan pemuda-pemuda Palestina.

Perubahan ideologi perlawanan dari yang sebelumnya sekular menjadi perjuangan Islam, sangat terasa sekali. Peta perlawanan pun berubah. Lebih heroik dan menakutkan bagi Israel. Awalnya, Israel pun mengira perlawanan ini tidak akan berjalan lama. Maklum, pelakunya adalah anak-anak. Namun, perkiraan itu salah. Mereka melempari batu ke arah tentara Israel dari jalanan sebenarnya tengah dipersiapkan dalam tarbiyah, jihad, dan pengetahuan.

Pada tahun 1987-2000 Hamas mendirikan beragam lembaga-lembaga non pemerintah, seperti lembaga sosial, advokasi, pendidikan, ekonomi, dan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Hamas berdakwah dan berkhidmat kepada rakyat tanpa pamrih. Hamas selalu memberi yang terbaik dan tidak pernah meminta. Sementara, citra kelompok Fatah di mata rakyat mulai negatif. Mereka hanya meminta dan tidak mau memberi. Sebagian melakukan korupsi. Rakyat pun cerdas melihat kondisi yang sebenarnya. Mereka simpati kepada Hamas.

Hamas Memasuki Dunia Politik

Tibalah waktunya bagi Hamas untuk memasuki dunia politik. Untuk memutuskan terjun ke dunia politik dengan mengikuti pemilu, Hamas mengadakan Pemilihan Raya Internal: apakah sudah saatnya ikut dalam pemilu atau hanya fokus dalam perlawanan militer melawan Israel saja. Semua anggota Hamas memberikan suara. Hasilnya Hamas harus ikut dalam pemilu, meskipun dengan begitu secara tidak langsung Hamas harus mengakui Perjanjian Oslo yang sebelumnya mereka benci. Dalih mereka memasuki wilayah politik adalah untuk menghentikan kezhaliman.

Januari 2006 dilangsungkan pemilu. Hamas ikut dengan perkiraan mendapat suara tidak lebih dari 35%. CIA, Israel, dan media negara-negara Arab juga memprediksi demikian, sehingga semua mengkampanyekan pemilu harus jurdil, bersih, dan demokratis. Mereka mengirim banyak pemantau pemilu. Anggapan mereka ketika Hamas sudah masuk parlemen dengan anggota minoritas, maka Hamas masuk dalam permainan politik mereka. Artinya, Hamas harus mengakui perjanjian-perjanjian sebelumnya dan perlawanan militer Hamas otomatis akan melemah.

Fatah juga memprediksi perolehan Hamas tidak lebih dari 35% suara. Hamas melihat hal itu sebagai tantangan. Salah satu strategi Hamas agar hasil pemilu benar-benar jurdil adalah mengecoh Fatah. Setiap orang mengaku memilih Fatah. Ketika ditanya oleh kelompok Fatah, semua menjawab aku pilih Fatah. Fatah pun mencatat 70% rakyat Palestina akan memilih mereka.

Hamas mengerahkan 50.000 personil bersenjata untuk menjaga kotak suara. Namun apa yang terjadi? Setelah perhitungan suara berakhir, diluar perkiraan: Hamas memperoleh 76% suara. Seketika itu juga jalan-jalan dipenuhi bendera hijau Hamas, sebelumnya dipenuhi bendera kuning Fatah.

Keesokan harinya Amerika Serikat marah. Israel membaikot hasil pemilu. Fatah kecewa dan menyatakan tidak akan ikut dalam koalisi pemerintahan yang dibentuk Hamas. Dan atas tekanan Amerika semua faksi yang ada di Palestina tidak boleh ikut serta dalam pemerintahan koalisi Hamas, karena Amerika berjanji akan menjatuhkan pemerintahan itu.

Ujian Berat Pemerintahan Demokratis

Abbas berjanji di depan negara-negara Arab akan menurunkan pemerintah Hamas dalam waktu tiga puluh hari. Palestina diboikot. Bangunan pemerintah, parlemen, universitas, dan sarana umum diserang dan dihancurkan. Menlu Muhamamd Ad-Dzahhar berhasil membawa dana tunai sebesar 4 juta dollar Amerika bantuan umat Islam dunia, tapi dilarang untuk dibawa masuk ke Palestina. Perdana Menteri Ismail Haniya membawa dana sebesar 30 juta dollar Amerika. Juga dihalang-halangi.

Selain menghadapi kekuatan Fatah, Hamas juga menghadapi agen atau mata-mata Israel yang direkrut dari kalangan Palestina. Mereka di bawah lembaga Amn Wiqa’i yang didanai dan dikontrol langsung oleh Israel. Mereka mengadakan teror, perusakan sarana umum, dan penghancuran gedung pemerintah. Hamas memberi warning: jika kalian sampai menghancurkan Universitas Gaza, maka kalian akan menanggung resiko yang sangat hebat. Mereka tak percaya, dan menyerang Universitas Gaza. Hanya dalam hitungan satu jam, tentara Hamas mampu menguasai kantor Amn Wiqa’i, kantor kepolisian, kantor keamanan dalam negeri dan lainnya tanpa ada perlawanan sedikit pun.

Mahmud Abbas berusaha keras menghalang-halangi pemerintahan Hamas. Menteri Penerangan yang seharusnya memiliki akses langsung ke stasiun teve, radio, dan media massa diambil alih oleh pihak kepresidenan. Menteri Dalam Negeri yang semestinya memiliki otoritas keamanan, dicabut. Pelayanan haji dan umrah, juga penjagaan perbatasan, semua di bawah lembaga kepresidenan.

Hamas bekerja sekuat tenaga. Dalam hitungan satu bulan Hamas mampu mendirikan stasiun teve, radio, media massa, dan dalam skala lokal mampu membentuk pasukan eksekutif sendiri. Rakyat melihat kerja Hamas.

Masalah lain adalah gaji para pegawai pemerintah yang selama satu tahun tidak terbayar karena bank-bank Arab dan bank di Palestina tidak mau mengucurkan dananya. Hamas terus menunjukkan keseriusannya dalam memberikan pelayanan kepada rakyat. Di sinilah simpati rakyat berlabuh. Mereka percaya bahwa Hamas telah sungguh-sungguh memperjuangkan diri mereka, namun karena konspirasi internasional dan pemboikotan itulah yang menghalangi kemajuan akselerasi pelayanan Hamas kepada bangsanya.

Kepercayaan rakyat Palestina terhadap Hamas terbukti. Dalam pemilu lokal, Hamas memperoleh dukungan 100% suara. Pemilu tentang kesehatan, lembaga sosial, dan perhimpunan ahli teknik, Hamas mendapatkan suara bulat 100%. Jika ada festival yang diadakan oleh Hamas, orang berduyun-duyun menghadirinya. Tapi jika Fatah mengadakan festival, yang hadir hanya anak-anak kecil. Ada yang mengatakan, jika sekarang diadakan pemilu presiden, bisa dipastikan Hamas akan menang telak.

Dunia internasional merasa putus asa menghadapi Hamas. Mengapa? Segala upaya untuk menekan dan menghancurkan Hamas telah dilakukan. Hamas diboikot, diupayakan kudeta atasnya, dicitrakan sebagai teroris, dan diusahakan dihancurkan dengan serangan militer. Sementara, pendirian Hamas untuk tidak mengakui Israel, menolak penghentian perlawanan, dan menentang perjanjian-perjanjian dengan Israel, justru mendapat dukungan penuh rakyat Palestina. Atas dasar itulah, masyarakat Eropa menuntut pemerintahnya untuk membantu Palestina. Mengapa memboikot pemerintahan yang dihasilkan lewat pemilu yang begitu demokratis? Negara-negara Eropa pun menyerukan disudahinya boikot dan membantu pemerintah Palestina. Berbeda dengan Amerika Serikat yang tidak punya rasa malu.

Mereka baru sadar bahwa Hamas sangat kuat dalam hal perlawanan, politik, dan dukungan. Abbas yang sebelumnya berjanji dalam satu bulan mampu menghancurkan Hamas, satu tahun berlalu. Hamas justru makin kuat. Sehingga, mau tidak mau Abbas harus membangun kesepakatan dengan Hamas. Perundingan itu terselenggara pulan lalu di Tanah Suci Makkah.

Ada banyak hal yang disepakati dalam Piagam Makkah. Namun secara umum Piagam Makkah memberi kemaslahatan bagi bangsa Palestina. Hamas sebelumnya tidak diakui perjuangannya oleh dunia internasional, pasca perundingan itu Hamas menjadi gerakan legal dan diperhitungkan dunia internasional. Khalid Misy’al sebagai Ketua Biro Politik Hamas kini berdiri sejajar dengan Presiden Palestina, Mahmud Abbas.

Hamas sadar bahwa Piagam Makkah bukan segala-galanya. Ini hanyalah satu langkah dari langkah berikutnya untuk membebaskan bumi Palestina. [] Foto: dari sini

Redaktur:

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (16 votes, average: 9,94 out of 5)
Loading...
Avatar
Lahir di kota Kudus, Jawa Tengah, pada tanggal 05 April 1975. Menyelesaikan jenjang pendidikan Tsanawiyah dan Aliyah di Maahid Krapyak Kudus. Tahun 1994 melanjutkan kuliah di LIPIA Jakarta. Program Persiapan Bahasa Arab dan Pra Universitas. Tahun 2002 menyelesaikan program Sarjana LIPIA di bidang Syariah. Semasa di bangku sekolah menengah, sudah aktif di organisasi IRM, ketika di kampus aktif di Lembaga Dakwah Kampus LIPIA, terakhir diamanahi sebagai Sekretaris Umum LDK LIPIA tahun 2002. Menjadi salah satu Pendiri Lembaga Kajian Dakwatuna, lembaga ini yang membidangi lahirnya situs www.dakwatuna.com , sampai sekarang aktif sebagai pengelola situs dakwah ini. Sebagai Dewan Syariah Unit Pengelola Zakat Yayasan Inti Sejahtera (YIS) Jakarta, dan Konsultan Program Beasiswa Terpadu YIS. Merintis dakwah perkantoran di Elnusa di bawah Yayasan Baitul Hikmah Elnusa semenjak tahun 2000, dan sekarang sebagai tenaga ahli, terutama di bidang Pendidikan dan Dakwah. Aktif sebagai pembicara dan nara sumber di kampus, masjid perkantoran, dan umum. Berbagai pengalaman kegiatan internasional yang pernah diikuti: Peserta Pelatihan Life Skill dan Pengembangan Diri se-Asia dengan Trainer Dr. Ali Al-Hammadi, Direktur Creative Centre di Kawasan Timur Tengah, pada bulan Maret 2008. Peserta dalam kegiatan Muktamar Internasional untuk Kemanusian di Jakarta, bulan Oktober 2008. Sebagai Interpreter dalam acara The Meeting of Secretary General of International Humanitarian Conference on Assistanship for Victims of Occupation bulan April 2009. Peserta Training Asia Pasifik Curriculum Development Training di Bandung pada bulan Agustus 2009. Peserta TFT Nasional tentang Problematika Palestina di UI Depok, Juni 2010 dll. Karya-karya ilmiyah yang pernah ditulis: Fiqh Dakwah Aktifis Muslimah (terjemahan), Robbani Press Menjadi Alumni Universitas Ramadhan Yang Sukses (kumpulan artikel di situs www.dakwatuna.com), Maktaba Dakwatuna Buku Pintar Ramadhan (Kumpulan tulisan para asatidz), Maktaba Dakwatuna Artikel-artikel khusus yang siap diterbitkan, dll. Sudah berkeluarga dengan satu istri dan empat anak; Aufa Taqi Abdillah, Kayla Qisthi Adila, Hayya Nahwa Falihah dan Muhammad Ghaza Bassama. Bermanfaat bagi Sesama adalah motto hidupnya. Contak person via e-mail: ulistofa-at-gmail.com atau sms 021-92933141.

Lihat Juga

Qatar Kepada AS: Palestina Menanti Solusi Politik Yang Adil

Figure
Organization