Home / Pemuda / Kisah / Umar dan Sha’sha’ah

Umar dan Sha’sha’ah

UangdakwatunaBila mendengar kata ulama, yang terlintas dalam benak kita adalah seseorang yang menguasai ilmu agama dan telah merampungkan berbagai jenjang pendidikan. Yang dengan ilmunya ia bisa memberi fatwa kepada orang yang memintanya. Sedangkan usianya, lazimnya tentu orang dewasa. Akan tetapi tidak jarang kita temukan dalam sejarah, anak-anak yang memiliki kapasitas sebagai ulama. Terutama di zaman keemasan Islam. Mereka memiliki kecerdasan dan wawasan serta kemampuan yang kadang tidak bisa dipecahkan orang dewasa.

Adalah Abu Musa Al-Asy’ari mengirim uang zakat sebesar 1 juta Dirham kepada Umar bin Khathab. Setelah kiriman itu sampai, Umar langsung membagi-baginya kepada yang berhak menerimanya. Ternyata masih ada sisa, orang-orang pun berbeda pendapat, kepada siapa sisa itu hendak dibagi.

Umar mengumpulkan orang-orang dan berpidato,

“Wahai sekalian manusia, setelah harta dibagi kepada orang-orang yang berhak, ternyata masih ada sisa. Aku ingin meminta penadapat kalian dan apa usulan kalian?”

Sha’sha’ah, yang kala itu masih anak-anak, berkata. Tentu saja setelah meminta izin Amirul Mukminin, Umar.

“Orang itu meminta pendapat kepada yang lain kepada permasalahan yang di dalam Al-Qur’an tidak ada. Ketika ada di dalam Al-Qur’an, dan setelah dibagi kepada orang-orang yang berhak, berikan kepada siapa saja yang telah ditentukan Allah Azza wa Jalla.”

Amirul Mukminin berkata,

“Kamu benar, Sha’sha’ah. Kamu bagian dariku dan aku bagian darimu.”

Dan Umar pun membaginya kepada kaum Muslimin.

Dia adalah Sha’sha’ah bin Shauhan, masuk Islam sejak zaman Nabi saw namun tidak pernah melihat beliau. Beliau adalah seorang yang fasih bahasanya, khatib yang hebat, dan salah satu pemimpin kaumnya, Bani Qais. Termasuk sahabat terkemuka Ali bin Abi Thalib dan termasuk yang membelanya dalam perang Jamal.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (32 votes, average: 8,09 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Asfuri Bahri, Lc
Lahir di Lamongan dan telah dikaruniai Allah 6 orang anak. Lulusan MTS di Gresik, MA di Gresik, dan LIPIA Jakarta. Sehari-hari sebagai Pengajar. Aktif di beberapa organisasi, antara lain LSM FOCUS, dan IKADI DKI Jakarta. Beberapa karya ilmiah telah dihasilkannya, antara lain "Rambu-Rambu Tarbiyah" (terjemahan, CIP Solo), "Anekdot Orang-Orang Tobat" (Darul Falah), "Galaksi Dosa" (Darul Falah), dan "Kereta Dakwah" (terjemahan, Robbani Press). Moto hidupnya adalah "Pada debur ombak, daun jatuh, hembus angin, ada tarbiyah".

Lihat Juga

gadget

Anak-Anak di Era Digital dan Media Sosial