Home / Dasar-Dasar Islam / Tazkiyatun Nufus / Merawat Buah-buah Pengorbanan

Merawat Buah-buah Pengorbanan

dakwatuna.com Melakoni hidup kadang seperti kegiatan memancing ikan. Semakin bagus umpan yang diberikan, kian cepat dan besar ikan yang didapat. Sayangnya, tak semua pemancing sadar kalau mengail ikan butuh keyakinan dan kesabaran.

Tak pernah kering hikmah dari kisah Nabi Ibrahim dan Ismail a.s. Dua hamba Allah yang telah membuktikan kesalehan dan kesabarannya dalam taat pada Allah swt. Seorang ayah yang diuji cintanya, dan seorang anak yang dites taatnya pada Allah dan orang tua.

Tak pernah terpikir oleh Ibrahim kalau kecintaannya dengan Ismail harus berbenturan dengan sebuah mimpi. Mimpi yang memintanya untuk menyembelih putera yang telah ia nanti hingga lebih dari delapan puluh tahun. Mimpi yang menyuruhnya melakukan perbuatan yang di luar batas kewajaran. Terlebih buat orang yang sangat ia cintai. Berat. Sangat berat.

Masih terbayang oleh Ibrahim bagaimana beratnya kehidupan Ismail dan ibunya ketika ia tinggalkan cuma berdua di sebuah negeri asing yang tandus. Kawasan padang pasir yang bukan sekadar tak berpenghuni, tapi juga tak berair dan berpohonan. Bagaimana mungkin mereka bisa hidup. Kalau bukan karena ketaatan dan tawakalnya pada Allah swt., tentu Ibrahim tak akan tega meninggalkan mereka menuju Palestina.

Namun, Ibrahim yakin kalau itu bukan sekadar mimpi. Bukan sekadar bunga-bunga tidur yang tidak punya arti. Ia yakin kalau itu perintah Allah yang harus ditaati. Walaupun tak mampu dicerna oleh nalar yang wajar. Dengan sangat bijaksana, Ibrahim mengungkapkan kegundahan itu kepada Ismail, “Wahai anakku. Aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu?” (Ash-Shaffat: 102)

Ternyata, jawaban Ismail begitu mengharukan. “Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan Allah kepadamu. Engkau akan menemuiku insya Allah sebagai seorang yang sabar dan patuh kepada perintah. Aku hanya meminta dalam melaksanakan perintah Allah itu, agar ayah mengikatku kuat-kuat supaya aku tidak banyak bergerak dan menyusahkan ayah. Kedua, agar menanggalkan pakaianku supaya tidak terkena darah yang akan menyebabkan berkurangnya pahalaku dan terharunya ibuku bila melihatnya. Ketiga, tajamkanlah parangmu dan percepatkanlah perlaksanaan penyembelihan agar meringankan penderitaan dan rasa pedihku. Dan yang terakhir, sampaikanlah salamku kepada ibuku, berikanlah kepadanya pakaianku ini untuk menjadi penghiburnya dalam kesedihan dan tanda mata serta kenang-kenangan baginya dari putera tunggalnya.”

Mendengar itu, Ibrahim langsung memeluk Ismail, dan menciumnya dengan penuh cinta. Ia mengatakan, “Bahagialah aku mempunyai seorang putera yang taat kepada Allah, bakti kepada orang tua yang dengan ikhlas hati menyerahkan dirinya untuk melaksanakan perintah Allah.”

Itulah kisah yang menyimpan seribu satu hikmah. Allah swt. mengabadikan kisah teladan itu dalam firman-Nya, “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya (dengan sempurna). Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.’ Ibrahim berkata, ‘(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.’ Allah berfirman, ‘JanjiKu (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim.” (Al-Baqarah: 124)

Di antara hikmah itu adalah mencintai sesuatu butuh pengorbanan. Semakin tinggi dan agung sebuah ungkapan cinta, kian besar tuntutan nilai pengorbanannya. Adakah ungkapan cinta yang lebih tinggi selain cinta kepada Yang Maha Pencinta, Allah swt. Dan hal itulah yang ingin ditunjukkan Nabi Ibrahim a.s. Ia harus berkorban. Dengan apa pun, walaupun harus dengan nyawa orang yang paling ia cintai.

Kedua, kadang kedekatan seorang hamba Allah dengan Rabbnya bisa terhalang dengan kedekatan-kedekatan yang lain. Bisa harta, jabatan, isteri atau suami, anak dan cucu. Ada tarik-menarik antara kedekatan-kedekatan itu. Dan setan kerap memainkan kedekatan yang lain itu untuk menggoyahkan komitmen seorang mukmin.

Betapa tidak sedikit seseorang yang akhirnya menjauh dari Allah lantaran orang yang ia cintai pergi untuk selamanya. Ia lupa kalau siapa pun yang tiba-tiba dekat dalam hatinya cuma berlangsung sementara. Ia akan berpisah. Bisa ia yang ditinggalkan, atau ia yang akan meninggalkan. Tak ada yang abadi dalam dunia.

Maha Benar Allah dalam firmanNya, “Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.” (Al-Anfal: 28)

Alangkah indahnya keteladanan yang pernah diperlihatkan Ibrahim a.s. Ia terbukti mampu menempatkan kecintaan pada Allah di atas kecintaan yang lain. Ia pun sukses mengikat cinta-cinta hati orang-orang dekatnya untuk bersama-sama mencintai Allah swt.

Maha Benar Allah dalam firmanNya, “Dan Kami panggilkan dia, ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu.’ Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” (Ash-Shaffat: 104-109)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 8,70 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Pria yang kerap dipanggil "Nuh" ini berlatar pendidikan dari Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Gunadarma. Lahir di Jakarta dan saat ini produktif sebagai seorang penulis Dirosah, Nasihat, dan Ruang Keluarga di Majalah SAKSI. Moto hidupnya adalah "Hidup Mulia, Mati Syahid".
  • Indah nian, jika kita memiliki keluarga yang kompak dalam keta’atan kepada Allah SWT

  • assalamu’alaikum wr.wb

    Dari artikel diatas kita banyak mendapatkan pelajaran yang sangat berarti diantaranya menceritakan kecintaan seorang hamba kesang kholik,ketaatan anak terhadap orang tua,
    Jadikanlah Ibrahim & ismail sebagai tauladan bagi kita,cinta mang butuh pengorbanan,keihklasan n kesabaran terutama bila kita menginginkan cinta Allah swt,
    Tak yang indah selain mencintai Dan cintai oleh sang pemilik jiwa raga ini,karna pada dasarnya semua ini kepunyaanNya….
    Buat Dakwatuna truskan perjuangan dakwahmu,ana harap web Dakwatuna memberikan tempat untuk tanya jawab karna akan lebih sepurna…Bila kita melakukan kebaikan janganlah setengah2 karna sesungguhnya setengah2 itu memberi peluang untuk musuh(syatan)..

  • Jazakallah khair ustadz atas artikelnya

  • subhanallah…ana mendapat pencerahan setelah membaca tulisan ini..alhamdulillah.jzkklah

  • sulis

    asw. Hal ini haruslah kita renungkan dalam rangka menambah mahabbah pada Allah, mengoreksi diri terhadap amalan-amalan kita,dan bahwa apa-apa yang ada pada kita semata-mata adalah milik-NYa dan senantiasa ingat akan nikmat_NYa.
    “Orang yang pandai adalah yang senantiasa mengoreksi diri dan menyiapkan bekal kematian. Dan orang yang rendah adalah yang selalu menurutkan hawa nafsu dan berangan-angan kepada Allah.” (At-Tirmidzi)

  • roba'i ahmad

    sesungguhnya hidup ini merupakan sebuah perjuangan yang panjang, dimana perjuangan itu membutuhkan yang namanya pengorbanan, dan pengorbanan itu harus di sertai dengan keikhlasan….

  • Nunuk Alifah

    Subhanalloh…, pengorbanan Nabi Ibrohim, sang Abul Anbiya'menuai hikmah. Strategi Nabi Ibrohim menyelamatkan generasi berbuah keteladanan yang sangat luar biasa. Nabi ismail, anak yang sangat sholih… hal ini erat kaitannya dengan peran sukses sang Ibu (siti hajar) yang dg ikhlas mendidik sang anak seorang diri, tentu saja disertai do'a dari sang suami yang sholih juga. Ibu adalah madrosatul Ula bagi anak2nya,namun kalau kita melihat fenomena saat ini, banyak sekali seorang Ibu dengan berbagai alasan sehingga melalaikan pendidikan "anak sholih" kepada anak2nya demi kepentingan duniawi, bahkan tidak segan2 untuk mengamanahkan kepada khodimah/pembantunya, sebenarnya siapakah yang lebih berhak dalam urusan pendidikan anak kita? Nabi Ibrohim meninggalkan anak istri didaerah yang tandus dan tidak berpenghuni hanya untuk menghindarkan istri dan keturunannya dari kaum kafir yang pada saat itu disana sini banyak berhala dan kesyirikan. Sedangkan pada zaman ini banyak sekali para orang tua yang bukannya mengajak anak2 agar ikut ta'lim ataupun dididik dipesantren, melainkan dengan sengaja membiasakan anak2 mereka untuk turut saat belanja ke mall mall yang tentu saja banyak sekali budaya jahiliyah disana, atau terbiasa dengan kebiasaan yang tidak islami sehingga sama sekali tidak ada kekhawatiran runtuhnya iman secara perlahan. Semoga keluarga kita kompak dan komit terhadap iman kita sebagai ummat islam yang taqwa. Amiin.

  • waah…klo saya mah ga tau ya bisa begitu apa engga. tapi yang jelas (karena itu memang kisah nyata) kisah nabi ibrahim & ismail memang kisah pribadi-pribadi teladan sepanjang masa. do’akan ya temen-temen (situ kan orang-orang tarbiyah) keluarga saya bisa kayak gitu.

  • Anton Timur

    Ustad mohon ijin untuk saya gandakan biar tersebar luas

  • Rachmadi Minton

    Ya Alloh Ya Tuhanku, Nabi Muhammad SAW adalah nabiku. Aku panjatkan doa kepadamu jadikanlah keluargaku keluarga yang ahli syurga dan jauhkanlah keluargaku dari siksa api neraka.

  • Esti kurnia

    Assalamu’alaikum Wr.Wb
    Sungguh sebuah kontrol yg dpt “mengerem” mobilitas dunawi sblm menabrak rambu2. Jikalau tiada iman di hati kita niscahya sengsara dunia akhirat.
    Trimakash atas artikel yg membawa pencerahan dlm hidup saya.
    Wassalamu’alaikum wr.wb.

  • Muhamad Haddar

    Benar2 mengharukan…Memang benar… Tdk mungkin cinta itu tanpa pengorbanan…
    Ya Allah, jadikanlah Hamba ini orng yg bisa ikhlas dalam berkorban… Ikhlas jua dlm menjalani sgl ujian dan cobaan… Amien Ya Raab…

Lihat Juga

Ilustrai (http://dawaihati.com)

Seputar Hikmah dan Manfaat Berqurban