Home / Konsultasi / Konsultasi Agama / Bagaimana Bersikap Terhadap Pejabat Publik?

Bagaimana Bersikap Terhadap Pejabat Publik?

Assalamu’alaikum wr. wb.

Ustadz, alhamdulillah saya aktif dalam kegiatan sosial keislaman. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan berkenaan dengan para ustadz yang menjadi pejabat publik. Sebenarnya, saya dan teman-teman aktivis lain senang dengan fenomena ini. Tapi, ketika saya berkunjung ke rumah beliau-beliau, ada semacam keprihatinan. Saya menangkap keprihatinan beliau-beliau terhadap anggapan para aktivis sekitar.

Pertama, banyak orang beranggapan bahwa para pejabat publik punya banyak uang, sehingga beliau-beliau menjadi tempat yang paling layak untuk diajukan proposal kegiatan. Kedua, mereka tampak sungkan membeli perabot atau kendaraan karena selalu dihubungkan dengan penghasilan sebagai pejabat publik. Akhirnya, ada kesenjangan antara para aktivis dengan para ustadznya.

Pertanyaan saya, bagaimana menjembatani perbedaan itu. Apanya yang salah sehingga fenomena itu bisa terjadi. Atas jawaban Ustadz, saya ucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Muhammad, Tangerang.

Jawaban

Saudara Muhammad di Tangerang dan pengunjung dakwatuna.com di mana pun Anda berada, assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. Semoga Allah swt. senantiasa memberikan taufiq, hidayah, ri’ayah, dan ‘inayah-Nya kepada kita semua; agar kita semua tetap istiqamah dalam meniti jalan dakwah dan terus bekerja sama di bawah syi’ar wa ta’awanu ‘ala al-birri wa at-taqwa (saling membantu dalam kebajikan dan ketaqwaan). Amin.

Ada dua hal yang ingin saya sampaikan terkait dengan “fenomena” yang Anda sampaikan, yaitu: pertama, bagaimana kita bersikap jika kita berada pada posisi pejabat publik, baik pada jajaran eksekutif, legislatif ataupun yudikatif; kedua, bagaimana kita yang bukan pejabat publik bersikap kepada mereka yang mengemban amanah jabatan publik.

Ada beberapa hal yang harus selalu diingat oleh para pejabat publik (dan sebenarnya, termasuk yang bukan pejabat publik juga), di antaranya adalah:

1. Dalam hubungannya dengan Allah swt:

a. Senantiasa menjaga keimanan dan keikhlasan. Sebab Rasulullah saw. bersabda, “Bahwa segala sesuatu itu bergantung kepada niatnya, dan bahwa masing-masing orang itu bergantung kepada niat yang dimilikinya, maka barangsiapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya menuju Allah swt. dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrah karena dunia yang ingin didapatkannya, atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya menuju kepada apa yang ia hijrah untuknya.” (Muttafaqun ‘alaih). Terkait dengan ikhlas ini, hendaklah Anda jadikan seluruh amal, pernyataan, dan sikap Anda dalam rangka meraih ridha Allah swt. Bukan ridha publik, simpatisan, atau pendukung. Imam Al-Qadhi ‘Iyadh berkata, “Siapa yang beramal karena manusia, maka ia telah berbuat riya’; dan siapa meninggalkan amal (tidak jadi beramal) karena manusia, maka ia telah syirik; dan ikhlas adalah manakala amal kita terbebas dari keduanya.” Ketahuilah, duhai Saudaraku, bahwa publik, simpatisan, dan pendukung tidak akan mampu menyelamatkan kita dari Allah swt.

b. Senantiasa menjaga shidq (kebenaran dan kejujuran). Tidak ada kontradiksi dan perbedaan antara yang lahir dengan yang batin, yang tampak dan yang tersembunyi. Baik shidq dalam niat, tekad, kehendak, berbicara atau membuat pernyataan, berbuat atau berperilaku, bersikap dan tampil; baik shidq menurut ukuran realita (fakta), undang-undang, dan yang paling utama adalah shidq menurut pandangan syari’at Allah swt. Hendaklah kita ingat kisah Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang Allah swt. terima taubatnya setelah ditangguhkan selama 50 hari 50 malam. Hal ini karena ia tetap konsisten dengan shidq. Ia berkata: “Dan tidak menyelamatkan diriku kecuali shidq.

c. Asy-Syu’ur bi muraqabatillah (merasakan pengawasan Allah swt.). Dengan demikian, segala ucapan atau pernyataan, perbuatan atau perilaku, sikap atau penampilan, telah kita perhitungkan dan kita yakini bahwa pengawasan Allah swt tidak pernah luput dari kita.

d. Al-Isti’dad li al-hisab al-ukhrawi (menyiapkan diri untuk menghadapi hisab (audit) di akhirat di hadapan mahkamah Allah swt. Hendaklah kita mengingat kisah Abu Bakar Ash-Shidq radhiyallahu ‘anhu yang semenjak di dunia telah menyiapkan jawabannya (LPJ-nya) saat ditanya Allah swt. di akhirat nanti. Alkisah bahwa sebelum meninggal dunia Abu Bakar berwasiat agar pengganti dia sebagai khalifah adalah Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Saat itu para sahabat nabi yang lain bertanya, “Apa jawaban (LPJ) Anda kalau ditanya Allah swt.?” Maka Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Akan saya jawab, aku pilihkan untuk umat Islam yang terbaik di antara mereka.”

2. Dalam hubungannya dengan publik (masyarakat, rakyat, dan khususnya para pendukung dan simpatisannya):

a. Ash-Shabru ‘ala adzâhum wa ghilzhatuhum (bersabar atas rasa sakit yang ditimpakan oleh publik dan atas sikap kasar mereka). Kita bisa mengingat kisah Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang oleh sebagian rakyatnya akan diluruskan dengan pedang, jika ia menyimpang.

b. Asy-Syafafiyyah (transparansi) dan siap memberikan klarifikasi, khususnya jika diminta. Sikap ini telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. dan para khulafa’ al-rasyidun. Setelah selesai Perang Hunain, sebuah peperangan yang sangat banyak ghanimahnya, Rasulullah saw. membagi habis semua ghanimah itu kepada kaum muslimin baru dan bahkan kepada orang-orang yang belum masuk Islam. Sedangkan orang-orang Muhajirin dan Anshar tidak mendapatkan bagian sama sekali. Saat itu banyak suara-suara miring menanggapi masalah ini. Melihat hal ini, Rasulullah saw. memberikan klarifikasinya kepada orang-orang Anshar, sampai mereka puas atas klarifikasi yang diberikan Rasulullah saw., walaupun tetap tidak memberikan harta rampasan kepada mereka.

Khalifah Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu juga dengan lapang dada memberikan klarifikasi tentang baju yang dipakainya saat ada orang yang mempertanyakan hal itu. Khalifah Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu bahkan membuka forum dialog publik untuk mengklarifikasi semua tuduhan yang dialamatkan kepada dirinya, sampai semua hadirin merasa puas atas jawaban Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu bahkan mengutus Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma untuk berdiskusi dengan pasukan Khawarij tentang beberapa sikap politiknya, sehingga banyak di antara orang-orang Khawarij itu yang kembali kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Bagaimana kita sebagai publik, khususnya pendukung dan simpatisan para pejabat publik, bersikap?

Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik pendukung adalah orang yang jika pemimpinnya ingat, maka mereka menolong, dan jika pemimpinnya lupa, maka mereka mengingatkan.”

Secara simple namun padat makna. Hal itu juga telah dijelaskan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dalam pidatonya pasca pembai’atan dirinya sebagai khalifah. Ia berkata, “Bantu dan tolonglah saya jika saya berbuat baik, dan luruskan saya jika saya berbuat buruk…. Taatilah saya selama saya taat kepada Allah swt. dan Rasul-Nya. Jika saya maksiat kepada-Nya, maka tidak ada kewajiban taat atas kalian.”

Dalam hadits lain, Rasulullah saw bersabda, “Agama adalah nasehat… kepada Allah swt., kepada kitab-Nya, kepada Rasul-Nya, kepada para pemimpin (baik pejabat publik maupun para ulama), dan juga kepada semua kaum muslimin.

Hal ini menegaskan bahwa sebagai publik, pendukung, dan simpatisan, kita tetap berkewajiban untuk menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar termasuk kepada para pemimpin. Dengan demikian, terwujudlah makna dari firman Allah swt., “Demi masa. Sesungguhnya semua manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan yang saling berwasiat dengan kebenaran dan yang saling berwasiat dengan kesabaran” (Q.S. Al-‘Ashr).

Saudara Muhammad dan pengunjung dakwatuna.com di mana pun Anda berada, dari jawaban saya ini mungkin Anda bisa menilai bahwa saya lebih cenderung untuk tidak mencari mana yang salah atau apa yang salah, namun apa yang mesti kita lakukan dan bagaimana seharusnya kita berbuat. Dan jika hal ini sudah kita lakukan, insya Allah, suasana saling curiga mencurigai, ewoh pakewoh (serba salah dan serba nggak enak), akan bisa dihindari. Sehingga suasana wa ta’awanu ‘ala al-birri wa al-taqwa bisa ditegakkan demi sukses dakwah Islamiyah. Amin.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Musyafa Ahmad Rahim, Lc., MA
Bapak kelahiran Demak. Memiliki hobi yang sangat menarik, yaitu seputar Islamic dan Arabic Program. Saat ini bekerja sebagai dosen. Memiliki pengalaman di beberapa organisasi, antara lain di Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU).
  • Asrori Hidayat

    menurut pendapat saya itu bagus, tapi yang harus kita tekankan dalam urusan dakwah harus murni tidak menjual belikan ayat2 allah swt atau paling tidak dai tidak berhenti menyampaikan materi dakwahnya manakala terbentur dengan urusan perutnya sendiri. dia harus berani dan teguh bertahan untuk mempertahankan Al-qur’an menurut sunnah rasul. terima kasih

  • Terima kasih pak ustadz atas ulasannya. Mudah2an dibaca para caleg dan simpatisannya.

  • ekalita sari piesant

    Jika memang telah ditegakkan aturan yang akan membersihkan pemerintahan maka janganlah menyusahkan pejabat publik dengan berbagai proposal akan tetapi dukunglah agar mereka bisa menunaikan kewajiban kepada keluarga dan kerabatnya dengan rizki yang halal dan menunaikan kewajiban mereka terhadap pemerintahan dengan baik ..segala proposal ditujukan kepada pemerintahan, instansi dan perusahaan dengan mengambil dari dana yang memang dialokasikan untuk itu dan untuk perusahaan dana CSR …

  • ekalita sari piesant

    rizki yang halal=gaji mereka.Karena dalam hidup ini ada pilihan dan pengaturan sehingga bisa menyelamatkan ybs dari meminta-minta, mencukupi kebutuhannya dengan yang halal sehingga terhindar dari yang haram….wallahu’alam

Lihat Juga

Fenomena Satu Malam