Home / Narasi Islam / Sosial / Falsafah Iqra’ dan Fenomena Kehidupan

Falsafah Iqra’ dan Fenomena Kehidupan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (medialab.ugr.es)

dakwatuna.com – Banyak fenomena yang melandai kehidupan manusia dewasa ini, seakan-akan tidak dapat dihindari dan telah menjadi sunnah ilahi. Fenomena tersebut dapat diamati dari kejadian-kejadian alam, gejala-gejala yang terjadi pada diri manusia, bahkan terhadap benda yang tak bernyawa sekalipun. Pemerhatian terhadap fenomena-fenomena inilah yang melatar belakangi hadirnya tulisan ini. Adanya pembacaan terhadap fenomena-fenomena tersebut diharapkan melalui pendekatan iqra‘ ini kita dapat mengetahui pesan yang terkandung di baliknya, yaitu pembacaan yang tidak hanya terfokus pada aspek yang tersurat melainkan pula yang tersirat.

Iqra’ dan Cakupannya

Redaksi pertama yang digunakan oleh Allah SWT dalam proses penurunan Firman-Nya adalah iqra’. Dalam bahasa Arab, kata iqra’ adalah sebuah perintah untuk membaca. Kata ini terambil dari akar kata qara’a, yang biasa kita pahami sebatas membaca. Padahal tidaklah demikian saja, jika kita lihat dalam perkamusan bahasa Arab, Lisan al-‘Arab karya Ibn Manzur misalnya, ditemukan bahwa makna qara’a itu adalah jama’a yang berarti menghimpun (Beirut: Dar Shadir, J. 1, 128). Selain menghimpun, ternyata banyak arti yang dikandung dari kata qara’a, di antaranya menyampaikan (al-qaa), membaca, mengenali, mentadaburi, merenung, menganalisis, mengingat, mencermati, memahami, mendalami, mengetahui ciri-ciri sesuatu, menginvestigasi, mengeksplorasi, menguji (examination), mengukur (measuring), meneliti (to study thoroughly), dan menyelidiki (search), (lihat Quraish Shihab, Lentera al-Qur’an, 2014, 34 dan Hans Wehr A Dictionary of Modern Written Arabic, edited by J Milton Cowan, edisi ketiga, 1976, 753). Semua arti tadi bermuara pada kata menghimpun, karena merupakan arti dari akar kata iqra’.

Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk membaca atas nama Tuhan (QS. al-‘Alaq: 1), bahkan perintah ini mencakup siapa saja. Tetapi masalahnya adalah objek yang diperintahkan untuk dibaca tidak dijelaskan dan tidak disebutkan. Apa yang kita pelajari selama ini biasanya, jika ada suatu perintah pasti ada objek yang hendak dikerjakan. Misalnya kita katakan, ambillah buku itu, jelas objeknya adalah buku. Tetapi jika dikatakan, ambillah dengan namaku! Tentu kalimatnya tidak sempurna, karena tidak jelas apa yang hendak diambil. Maka dengan demikian, wajar jika Nabi SAW menjawab: ma ana biqaari’! Apa yang dijawab itu pula masih menyisakan tanda tanya, dan paling tidak melahirkan dua versi penafsiran yaitu apa yang hendak saya baca dan saya tidak dapat membaca. Jika dicermati secara seksama, kedua penafsiran ini sama-sama benar adanya. Hal ini dikarenakan, apa yang hendak dibaca menunjukkan seseorang tidak atau belum tahu apa yang dapat ia baca? Jika kita ilustrasikan ke dalam bentuk kalimat yang senada, apa yang hendak saya perbuat? berarti saya tidak atau belum berbuat apa-apa. Dari sini jelaslah bahwa perintah membaca itu amat luas sekali. Ia tidak hanya menyangkut pembacaan terhadap teks-teks yang tertulis, melainkan aspek-aspek yang tersirat sekalipun. Pembacaan terhadap aspek-aspek yang tak tertulis dan terhampar inilah yang banyak melengahkan manusia. Oleh sebab itu, tulisan ini memfokuskan pada dua fenomena pembacaan yaitu alam dan diri:

1. Membaca Fenomena Alam

a. Alam Sebagai Simbol (Ayat)

Al-Qur’an merupakan wahyu Allah dan alam raya pula merupakan ciptaan-Nya. Jika al-Qur’an terdiri dari ayat-ayat yang berisi tanda-tanda dan dikatakan sebagai wahyu Allah dalam bentuk buku yang tertulis, maka alam raya beserta isinya pula sama halnya dengan wahyu Tuhan yang berisi tanda-tanda. Hanya saja, ia bersifat buku yang terhampar (opened book). Jadi al-Qur’an dan alam raya, keduanya sama-sama bertujuan untuk menunjukkan bahwa Tuhan itu ada, (Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al-Attas: An Exposition of The Original Concept of Islamization, 1998, 60-61).

Di dalam al-Qur’an, banyak sekali menjelaskan fenomena-fenomena alam yang menakjubkan. Dimulai dari terbitnya sampai terbenamnya matahari, pergantian malam dan siang, adanya udara, turunnya hujan dari langit, gunung sebagai pasak bumi, bintang-bintang, laut dan daratan dihamparkan dan lain-lain. Seakan-akan, kesemuanya itu berjalan sebagaimana mestinya. Meskipun fenomena-fenomena ini dianggap sesuatu yang lumrah karena dialami oleh manusia dalam kehidupan mereka sehari-hari, namun tahukah kita bahwa semua fenomena-fenomena ini terdapat ayat-ayat yang berisi tanda-tanda (symbols). Jadi dapat kita katakan bahwa fenomena itu adalah ayat. Kehadiran ayat-ayat ini mengajak dan menuntut manusia untuk membaca, merenungkan, memperhatikan, mengamati sekaligus mengenali sekelilingnya. Karena mustahil semua itu berjalan dan bergerak dengan sendirinya secara teratur tanpa ada yang menggeraknya? Tanda-tanda dengan keteraturannya itu membuktikan bahwa Tuhan itu wujud. Bukankan ada ayat yang menyatakan, setiap saat Dia (Allah) sibuk mengurusi ciptaan-Nya (QS. Ar-Rahman: 29).

Di antara sifat-sifat Allah yang ada, Allah itu adalah al-Zahir sekaligus al-Batin (QS. al-Hadid: 3). Al-Zahir yaitu Yang tampak dengan jelas melalui ayat-ayat di pentas alam raya. Nalar manusia tidak dapat membayangkan jika alam raya dengan segala keindahan, keteraturan, dan keharmonisannya itu tanpa kehadiran-Nya! Meskipun alam tidak berbicara, namun ia dapat mengarahkan manusia untuk sampai kepada tujuannya sekaligus mengenal pencipta-Nya, (Quraish Shihab, Dia Di mana-Mana: Tangan Tuhan di Balik Setiap Fenomena, 2013, 11). Oleh sebab itu, jika kita amati dalam perkamusan bahasa Arab bahwa ‘alim (orang yang mengetahui), alam dan alamat ini adalah berasal dari sistem akar kata yang sama. Orang yang mengetahui tujuan diciptakannya alam raya beserta isinya termasuk dirinya, maka ia adalah orang yang alim. Jika demikian, alam sama halnya dengan alamat yaitu sama-sama memudahkan seseorang untuk sampai kepada tujuan, meskipun keduanya tidak berbicara. Begitu pula dengan ayat dapat kita terjemahkan sebagai symbols atau signs. Hal ini tanpa disadari, dialami oleh kita dalam kehidupan sehari-hari. Lampu lalu lintas (traffic light) misalnya, dapat kita katakan sebagai ayat (simbol atau tanda), karena ia mengatur para pengguna jalan. Meskipun lampu lalu lintas tidak berbicara, namun siapa saja yang menggunakan jalan mesti mengikuti aturannya. Demikian pula dengan rambu-rambu seperti lambang, huruf, angka dan patung-patung yang berada di tepi-tepi jalan, meskipun membisu, tetapi kesemuanya berfungsi memudahkan seseorang untuk sampai kepada alamat yang dituju. Oleh sebab itu, alam raya yang terhampar dapat dijadikan sebagai tanda dan alamat bagi orang yang mau berpikir (yatafakkarun), mengambil pelajaran (i’tibar) dan menggunakan akal sehatnya (ya‘qilun), yang kesemua ini bermuara dan terhimpun dalam kata ‘alim yaitu orang yang mengetahui, baik dengan pengetahuan jasmani maupun rohaninya.

Di samping yang zahir, Allah juga adalah al-Batin. Al-Batin adalah Yang tersembunyi hakikat, Zat dan sifat-Nya. Ketersembunyian-Nya bukan karena tidak jelas, tetapi justru karena Dia sedemikian jelas, sehingga mata dan pikiran silau bahkan tumpul karena tak mampu memandang-Nya. Itu sebabnya Imam al-Ghazali menyatakan, “Ketersembunyian-Nya disebabkan oleh kejelasan-Nya yang luar biasa, dan kejelasannya yang luar biasa disebabkan oleh ketersembunyian-Nya. Cahaya-Nya adalah tirai cahaya-Nya, karena semua yang melampaui batas akan berakibat sesuatu yang bertentangan dengannya.” Oleh sebab itu, seandainya matahari tidak beredar dan tidak bersinar, maka kita dapat menduga bahwa cahaya yang terlihat itu bersumber dari masing-masing benda. Tetapi karena matahari menghilang dari ufuk dan terbenam, justru itu kita menyadari bahwa cahaya yang ada itu, penyebabnya adalah matahari, dan matahari itu ada wujudnya. (Dia Dimana-Mana, 11-12).

Namun, apa yang terjadi dewasa ini, masyarakat modern lebih memfokuskan pada aspek lahiriah yang tampak oleh panca indera manusia saja. Mereka tegas Wan Mohd Nor Wan Daud, telah banyak menggelontorkan biaya yang besar semata-mata untuk meneliti angkasa luar, dengan harapan dapat mengetahui asal-usul dan tujuan diciptakannya manusia serta alam yang ditempatinya. Tidak mengherankan jika salah seorang filosof terkemuka, Corliss Lamont menyatakan, alam ini mengandung semua bentuk realitas. Energi adalah dasar alam, sementara alam rohani sama sekali adalah wujud yang tidak pernah ada. Bermula dari sinilah orang Barat sekuler menjadi semakin skeptis, sebagaimana yang telah didefinisikan dalam tradisi keagamaan Yahudi-Kristen. Hal ini berbeda dengan Islam, rasa keingintahuan umat Islam terhadap hal-ihwal yang berkenaan dengan asal-usul penciptaan manusia dan alam ini, tidak dapat dicari jawabannya melalui pengalaman dan pengamatan terhadap alam materi atau fisika belaka, tetapi ada cara lain yang tidak dapat dikesampingkan yaitu alam spiritual, (The Educational Philosophy, 60). Oleh karena itu, alam spiritual tidak dapat disingkirkan dalam kehidupan muslim, apalagi dalam pencarian mereka terhadap sesuatu. Karena perbincangan-perbincangan yang ada di alam spiritual, tidak tertutup kemungkinan masuk ke ranah keimanan dan keyakinan. Seorang muslim beriman bukan berarti dia tahu, tetapi justru ia tidak tahu. Jika sudah tahu, itu tidak lagi dinamakan beriman. Seorang muslim beriman, karena penciptaan alam raya beserta isinya dan siapa yang mengaturnya, itu semua dijelaskan di dalam al-Qur’an, begitu kata Quraish Shihab.

b. Bencana Alam Sebagai Simbol (Ayat)

Banyak sekali bencana yang terjadi di negeri ini, mulai dari gempa bumi, tanah longsor, banjir, dan lain seumpamanya. Oleh sebab itu, semestinya manusia punya kepekaan terhadap alam, menyadari sekaligus membaca, kenapa itu bisa terjadi? atau jangan-jangan, itu adalah bentuk murkanya alam terhadap manusia, karena tak sedikit bencana itu ulah daripada tangan-tangan manusia itu sendiri.

Sekarang kita lihat gempa bumi. Dari dulu, wilayah Bengkulu Sumatera, Aceh, Sulawesi sudah terbiasa dengan gempa. Artinya, jaman dulu setiap terjadi gempa tidak memakan banyak korban. Tetapi sekarang, rata-rata korban yang meninggal karena tertimbun reruntuhan bangunan dan tanah. Ini dikarenakan penduduk semakin pesat dengan sistem pemukiman yang tidak disesuaikan dengan alam. Padahal alam sejak dulu seperti itu adanya. Ia tidak mempunyai motif layaknya manusia yang dapat berpikir dan bertindak jika merasa terancam. Jika alam terganggu, maka ia juga akan mencari keseimbangan baru, begitulah sunnatullah.

Sama halnya dengan banjir. Air sejak dahulu seperti itu adanya, tidak mempunyai motif dendam terhadap manusia. Malah ia merupakan sumber kehidupan bagi manusia. Tetapi sekarang, mengapa air bisa mengancam keberadaan manusia? Lagi-lagi penyebabnya adalah karena ulah manusia. Tidakkah penebangan dan kebakaran hutan secara liar serta pembuangan sampah secara sembarangan adalah akibat dari timbulnya banjir? Padahal Kita semua tahu bahwa akar pohon berfungsi sebagai penyerap air. Begitu juga dengan pembuangan sampah secara sembarangan akan menjadikan aliran sungai dan got-got mampat sehingga air menjadi meluap. Maka terjadilah bencana banjir dan lagi-lagi manusia juga yang dirugikan.

Dari penjelasan di atas kita dapat membaca bahwa alam beserta isinya berada dalam ketaatan kepada Allah SWT (QS. Fussilat: 11) dan menyerahkan diri (aslama) kepada-Nya (QS. Ali Imran: 83). Alam murka, pasti ada penyebabnya. Melalui peristiwa-peristiwa ini kita dituntut untuk membaca lingkungan sekitar. Terjadinya bencana, itu juga merupakan hari-hari Tuhan sebagai peringatan untuk manusia, agar mereka dapat menjadikannya sebagai sarana untuk mengingat (berzikir), introspeksi diri dan menyadari kelemahannya, (QS. Ibrahim: 5).

2. Membaca Diri: Upaya Pengenalan Diri dan Penanggulangan Terorisme

Membaca diri adalah sarana untuk mengenal diri. Upaya pengenalan diri secara sungguh-sungguh akan mengantar manusia untuk mengenal Tuhannya (man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu). Terkadang manusia terlena dengan nikmat Tuhan yang melimpah di alam raya, sehingga membuatnya tidak merenung, memperhatikan dan membaca apa yang ada dalam dirinya sendiri. Bukankah seseorang yang umurnya 70 tahun, 71 tahun yang lalu dia tidak ada? dan orang yang hidup sekarang, nanti dia bakal tidak ada? Oleh sebab itu, keberadaan manusia di pentas muka bumi inilah merupakan hutang (dayn) terbesar yang ia miliki. Sampai kapan pun, hutang ini takkan mampu mereka bayar, kecuali jika ia menyerahkan dirinya (aslama) kepada Tuhan yaitu dengan cara keberagamaan (din) yang telah diatur oleh Tuhan itu sendiri, bukan oleh manusia maupun budaya-budaya yang ada. Jika demikian, maka wajar al-Attas menyatakan bahwa din (Agama) itu mencakup empat aspek: indebtedness (dalam keadaan berhutang); submissiveness (penyerahan diri); judicious power (kuasa peradilan); dan natural inclination or tendency (kecenderungan alami), (silakan baca di antaranya karya SMN al-Attas, Prolegomena to The Metaphysics of Islam, 1995, khususnya di bab Islam: The Concept of Religion and the Foundation of Ethics and Morality).

Seperti dijelaskan di atas bahwa pengenalan diri manusia akan mengantarnya untuk mengenal Tuhannya. Baru-baru ini, seseantero negeri di gemparkan dengan drama teroris. Berbagai macam media baik televisi maupun media online meliputnya. Tentu aksi ini, dalam konteks apapun baik agama, afiliasi, organisasi, politik, aparat negara maupun budaya adalah hal yang dilarang. Secara kebahasaan terror artinya takut, sedang terrorize berarti menakut-nakuti, mengancam orang lain supaya takut. Aksi menakut-nakuti yang berdampak pada kekerasan selama ini seakan-akan dilabelkan kepada sekelompok individu, nama, penampilan atau organisasi saja. Padahal tegas Syamsuddin Arif, aksi kekerasan yang bersifat politik pun ada, kalau politik dimaknai sebagai urusan kekuasaan dan penguasaan dengan cara apapun. Maka siapapun yang melakukan kekerasan terhadap orang lain demi kepentingan politik apapun adalah teroris. Selain teroris politik, ada pula yang dinamai dengan terorisme negara (state terrorism). Hal ini dapat dilihat dari aksi penangkapan, penembakan, penculikan, penyiksaan, pembunuhan yang dilakukan oleh aparat negara di Russia zaman Stallin, zaman Hitler di Jerman, atau di Aceh zaman Orde Baru. Inilah yang dinamakan dengan terrorism from above yang dikontraskan kepada terrorism from below. Jadi, amatlah memprihatinkan jika orang yang disebut dan dianggap teroris lantaran nama dan penampilannya! Terorisme oleh negara jelas lebih sistematis, lebih terencana dan lebih awet, karena sumber dana maupun senjatanya nyaris tak terbatas. Tetapi lagi-lagi, korbannya orang-orang yang belum tentu bersalah. Mereka menjadi korban keganasan aparat negara semata-mata karena ‘kemungkinan, dicurigai, diduga, disangka, dianggap, dituduh atau dicap teroris lantaran tidak sependapat, tidak sealiran, mengkritik, tidak mendukung atau dijuluki pemberontak, anti pemerintah, dan lain sebagainya. (lihat Syamsuddin Arif, Islam dan Diabolisme Intelektual, 2017, bab Masalah Terorisme).

Betapapun, dalam kondisi apapun dan siapapun, aksi kekerasan yang bukan pada tempatnya, apalagi merekrut dan mendoktrin seseorang agar dicap sebagai teroris untuk memuluskan agenda dan kepentingan-kepentingan tertentu adalah tidak dibenarkan. Aksi tersebut paling tidak dapat diantisipasi dan ditanggulangi melalui pembacaan seseorang terhadap dirinya sehingga itu akan mengantarkannya untuk mengenal Tuhannya. Mengenali Tuhan dapat dilakukan melalui sifat-sifat-Nya. Karena dalam sifat-sifat Tuhan, tercermin banyak sekali hal-hal yang dapat diteladani. Sebagaimana Rasulullah SAW menyatakan, berakhlaklah kamu sebagaimana akhlaknya Allah. Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengampun, Maha Pemberi dan lain-lain. Manusia pun demikian, dapat mengasihi dan menyayangi sesamanya, tidak hanya sesama muslim, tetapi juga sesama non-muslim dan lingkungan sekitarnya. Keteladanan tersebut tentunya sesuai dengan kapasitas manusia selaku hamba.

Kesimpulan

Melalui uraian di atas amat jelaslah bagi kita bahwa wajar Allah SWT memilih diksi iqra’ yang menunjukkan perintah untuk membaca. Hal ini semakin terbukti bahwa hanya orang yang membaca secara sadar, baik pembacaan yang tersurat maupun yang tersirat, akan menjadikannya mengenal Tuhan, dirinya dan sekitarnya. Oleh sebab itu, kita dituntut untuk membaca apa pun, bahkan yang buruk pun boleh dibaca selama tujuannya untuk dihindari dan dijadikan pelajaran. Bacalah apa saja yang tertulis maupun yang terhampar dan bertindaklah sesukanya selama motivasinya atas nama Tuhanmu. Wallahu A‘lam Bisshawab. (dakwatuna/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5,00 out of 5)
Loading...
Rahmat Hidayat Zakaria
Kaprodi IQT di STIQ Al-Lathifiyyah Palembang; Dosen dan Kandidat Doktor di UIN Raden Fatah Palembang; Dosen di Universitas Muhammadiyah Palembang.

Lihat Juga

Semangat Berdakwah Agar Hidup Lebih Bermanfaat