Home / Arsip Kata Kunci: pantas

Arsip Kata Kunci: pantas

Aku tak Pantas

“Ina mungkin berpikiran bahwa Himawan adalah lelaki yang sempurna, perjalanan dakwahnya yang begitu lancar tanpa kendala, berhak mendapatkan wanita yang sama dengan Himawan. Namun Ina tak menyadari, sifat lembut, bertanggung jawab terhadap keluarga, penyayang terhadap makhluk Allah, kesabaran Ina menghadapi masalah, menjadi ketertarikan sendiri bagi Himawan. Bukankah Ina bilang bahwa Himawan pantas mendapatkan yang terbaik, dan yang terbaik bagi Himawan adalah Ina!” teringat kata Mas Ilham menjelaskan.

Baca selengkapnya »

Antara Kelebihan dan Kepantasan

Tidak pernah ada kerugian bagi orang yang totalitas dan bersungguh-sungguh dalam tindakannya, karena meskipun gagal dari usaha yang dilakukan pasti ada kebanggaan tersendiri, ia tidak membutuhkan sensibilitas umum ataupun prestise. Baginya tidak ada kata gagal sebenarnya, yang ada hanyalah terlalu cepat menyerah. Setiap apa yang diimpikan akan terwujud, hanya saja kapan terwujudnya adalah soal waktu, dan itu ditentukan oleh seberapa besar kita berusaha.

Baca selengkapnya »

Pantaskah Dipanggil Muslimah?

Menjadi muslimah itu bukan hanya karena beragama Islam, tetapi ia memiliki ciri khas yang berbeda yaitu menutup Aurat; memakai jilbab syar’i dan berbusana muslimah yang tidak ketat, mengerti hukum-hukum seputar wanita, dan tidak mendekati zina alias pacaran sebelum menikah.

Baca selengkapnya »

Pantaskah Aku Dicintai?

Di bulan Februari ini, banyak orang merayakan hari Valentine yang erat dengan kaitannya dengan hari kasih sayang. Bagi kita umat Islam, hari kasih sayang tidaklah hanya hari Valentine saja, namun semua hari yang menghiasi hidup kita adalah hari kasih sayang, setiap hari yang kita lewati adalah wujud kasih sayangnya Allah kepada kita karena kita masih diberikan kehidupan, sepantasnyalah kita bersyukur kepada Allah.

Baca selengkapnya »

Pantaskah Kita?

Bismillah… Dalam getaran yang berlalu seperti hari-hari sebelumnya. KAU hadir kembali menghentakkan seluruh jiwa agar tunduk kembali pada-Mu. Seperti senja yang selalu terkenang, kemudian gerimis di awal malam yang dingin dan membekukan, memoar-memoar itu kembali terjadi namun dalam bahasa yang tak biasa. Kali ini terasa berbeda. Ketika satu persatu perenungan mulai menggugurkan keangkuhanku agar lebih merasa bahwa sungguh, tak ada yang lebih mulia selain keshalihan yang berbalut dengan hati yang ikhlas dalam beramal hanya karena-Mu.

Baca selengkapnya »