Home / Anita Nurrahmah

Anita Nurrahmah

Mahasiswi S1 Departemen Biologi Institut Pertanian Bogor 2011 asal Kota Patriot, Bekasi.

Sepenggal Takdir yang Tertunda

“…” Helaan nafasku kaku. Dadaku mulai sesak. Aku tak mungkin menyiratkan kegamangan hatiku kala itu. Laki-laki itu terus melontarkan berbagai alasan dan harapannya padaku. Ia yang telah kembali dari perginya, ia yang seketika muncul dari tenggelamnya setelah sekian lama. Hatiku hancur, andai ia dapat merasakan apa yang aku rasakan saat itu. Apapun yang terjadi bukan saatnya lagi bagiku untuk menyembunyikannya, meski kurasa sedikit getir untuk melugaskannya. Jujur dalam hati, aku masih menantinya.

Baca selengkapnya »

Geliat Orang Jatuh Cinta

Cinta adalah sepenggal kata ajaib yang mampu mengubah segalanya. Ibarat sebuah lautan, maka ombaklah cintanya. Ibarat sekutip langit kelam, maka taburan bintanglah yang menjadi cintanya. Ia ibarat warna-warni dalam bentangan kanvas putih, ia bagaikan segenggam gula yang memaniskan secangkir air tak berasa. Ialah secuil energi, pembakar semangat, pemantik gairah hidup bagi insan-insan di penjuru dunia. Ialah yang menggerakkan sebuah keengganan. Lebih dahsyat dari itu semua, dua cinta bermuaralah yang menjadikan kita ada di dunia lewat ayah dan bunda kita. Sungguh kemurahan Allah, yang menjadikan cinta-cinta itu bersemi dalam segumpal daging yang tersembunyi bernama hati pada tiap manusia

Baca selengkapnya »

The Real Superman Wanna Be

“Ayo dong, Her! Masa baru poi ke-20 saja sudah buntu?” Ucap Heru yang sedari tadi duduk di kursi dekat meja belajar, terlihat geram menyemangati dirinya sambil memijit dahinya dengan kedua tangannya. Jemarinya kaku, peluhnya mulai menganak sungai di dahi dan beberapa sendi tubuhnya, ketika ia berusaha untuk menuliskan cita dan impian hidupnya di sehelai kertas, efek dari mata kuliah kewirausahaan, saat sang dosen meminta setiap mahasiswa membuat rancangan masa depannya dengan membuat proposal kehidupan.

Baca selengkapnya »

Surat Kecil dari Anak Palestina

Bismillaah. Atas nama cinta, aku ingin menyapamu… Kakak, apa kabarmu di negeri aman tenteram itu? Apa pagi ini Kakak sudah bergegas untuk bangun dan menjemput mimpi? Ataukah Kakak masih terlelap di pembaringanmu yang nyaman? Kakak, aku di sini tidak bisa tidur. Di sini dingin, tak ada selimut hangat seperti yang tengah engkau kenakan.

Baca selengkapnya »

Tak Perlu Menjadi Presiden Untuk Menyejarah

Hiduplah untuk menyejarah. Tak perlu kita menjadi Presiden untuk dikenang sejarah, ataupun seorang pahlawan agar namanya terpampang di monument-monumen yang dikenang jutaan massa. Cukup hiduplah selayaknya, lalu berbuat baiklah. Hidupnya seorang anak yang berbakti kepada orangtua, pemuda yang taat pada agama dan pemimpinnya, pekerja yang setia pada profesinya, bawahan yang patuh terhadap atasannya, suami yang setia pada istrinya.

Baca selengkapnya »