Home / A Saifuddin Syadiri

A Saifuddin Syadiri

A Saifuddin Syadiri
Waktu kecil belajar ilmu agama pada ayah. Ketika berusia tujuh tahun, dititipkan pada mbah, tujuannya agar bisa sekolah. Setelah lulus MI (Madrasah Ibtidaiyah), melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Sidogiri, Kraton Pasuruan. Setelah lulus MA (Madrasah Aliyah) di Sidogiri bertekad untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Alhamdulillah, sekarang sedang menjalani program studi Pendidikan Agama Islam semester satu di Universitas Sunan Giri Surabaya. Dan, bergabung dengan HMASS (Harakah Mahasiswa Alumni Santri Sidogiri) Surabaya.

Allah SWT Menyayangi Keluarga Romantis

Jadi, pandanglah mata istri dalam-dalam. Balas pandangan suami sambil menyungging senyuman. Peganglah tangan istri dengan syahdu. Eratkan pegangan suami dengan rindu yang memburu. Pula, saling membantu dalam kebaikan dan memenuhi kewajiban. Misalnya, suami belum shalat, istri mengingatkan. Istri belum shalat, suami yang mengingatkan. Jika demikian, Allah akan mencurahkan kasih sayang.

Baca selengkapnya »

Istri, Disayangi Bukan Diadili

istri hanya manusia biasa. Pasti memiliki kekurangan. Di samping juga memiliki kelebihan. Oleh karena itu, terimalah dia apa adanya. Sayangi dia. Sayangi kelebihan dan kekurangannya. Kekurangan mereka bukan untuk diadili, tapi untuk difahami. Kekurangan mereka memang dari sononya. Dari sang pencipta. Orang bijak mengatakan, “Istri itu manusia biasa. Sama dengan anda. Jika kau menyukai kelebihannya, kenpa tidak rela pada kekurangannya?” Meski demikian, seorang suami harus tetap berusaha memperbaiki perilaku istri yang kurang baik. Pelan-pelan tapi pasti. Dengan lembut, kasih sayang, dan ketulusan. Agar tidak menyebabkannya patah dan melahirkan masalah. Menyayangi bukan berarti membiarkannya. Menyayangi yang sesungguhnya adalah selalu berusaha agar istri menjadi orang baik, sehingga kelak bisa bersama-sama masuk surga.

Baca selengkapnya »

Suami Bekerja, Istri Berdoa

Ilustrasi. (Foto: islam-today.ru)

Ala kulli hal, suami dan istri adalah dua raga satu jiwa. Dua hati satu cinta. Mereka harus saling membantu mewujudkan keluarga penuh senyum. Saling menghangatkan saat dingin menerpa. Saling menyejukkan saat panas mengeruhkan suasana. Selalu kompak menjalankan peran masing-masing. Ketika suami bekerja, istri tidak santai-santai saja. Istri harus mendoakannya. Dengan demikian, akan terciptalah keluarga sakinah. Keluarga yang diberkahi Allah swt.

Baca selengkapnya »