Home / Narasi Islam / Politik / Partai Moderat Islam ala Erdogan

Partai Moderat Islam ala Erdogan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Recep Tayyip Erdogan. (bankingnews.gr)

dakwatuna.com – Erdogan. Siapa yang saat ini tidak mengenalnya? Sosok yang selalu diunggulkan dalam segala bidang. Erdogan mampu mengeluarkan Istanbul dari utangnya yang mencapai milyaran dollar menjadi keuntungan dan investasi sebesar 12 milyar dolar dengan pertumbuhan yang mencapai 7%. Istanbul pun selamat dari problematika air bersih yang selama bertahun-tahun tidak dialirkan ke rumah-rumah di daerah perkotaan. Erdogan pun mampu membangun segi pelayanan sosial, pendidikan, hingga lingkungan di Istanbul yang menjadikan masyarakat bersimpati dan memberikan kepercayaan besar kepada Erdogan. Kiprahnya ternyata tidak hanya mencuri perhatian masyarakat Istanbul. Yahudi turut ketar-ketir melihat keberaniannya membela tanah Palestina. Beliaulah satu-satunya orang yang mampu secara terang-terangan berkata langsung kepada Simon Perez (Presiden Israel 2007-2014) dalam suatu forum bahwa mereka adalah pembunuh rakyat Palestina.

“Kami memiliki senjata yang tidak kalian miliki. Senjata itu adalah keimanan. Kami memiliki akhlak Islam, teladan bagi umat manusia, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam”, begitu paparnya ketika ditanya rahasia keberaniannya.

Sepak Terjang Politik Erdogan

Kudeta militer Turki pada tahun 1980 menyebabkan seluruh partai pemerintah Turki dibekukan. Saat itu, Erdogan secara otomatis berhenti dari jabatannya sebagai Ketua Bidang Kepemudaan di Partai Keselamatan Nasional, sebuah partai konservatif di bawah pimpinan Necmettin Erbakan (Perdana Menteri Turki Islami yang pertama). Setelah demokrasi Turki pulih pada 1983, Erdogan kembali terjun dalam dunia politik melalui Partai Refah yang ia dirikan pada 1997 yang merupakan jelmaan dari Partai Keselamatan Nasional (Partai Islam). Satu persatu anak tangga membawa Erdogan menjadi wali kota Istanbul Raya melalui partai ini.

Kesuksesan Erdogan sebagai wali kota saat itu membuat tokoh-tokoh sekuler Turki menjadi terperanjat khawatir. Hal tersebut pada akhirnya membawa Erdogan ke meja pengadilan dengan tuduhan pembangkitan diskriminasi etnis atau agama di Turki akibat kutipan bait puisi Ziya Gokalp yang Erdogan sampaikan di sela-sela konferensi umum Partai Refah.

Masjid adalah barak kami
Kubah adalah penutup kepala kami
Menara adalah bayonet kami
Orang-orang beriman adalah tentara kami
Tentara ini yang menjaga agama kami

Bait-bait puisi tersebut sebetulnya terdapat pula dalam buku-buku sekolah yang tidak asing bagi khalayak, namun ketika bait-bait puisi tersebut terlontarkan oleh seorang Erdogan, sang politikus, maka hal ini dianggap telah memprovokasi rakyat untuk membangkitkan rasa keberagamaan. Akhirnya, pengadilan memenjarakan Erdogan dan menghentikan segala aktivitas politiknya.

“Selamat tinggal, wahai para pendukungku. Aku ucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha kepada penduduk Istanbul, masyarakat Turki, dan seluruh dunia Islam. Aku tidak pernah merasa keberatan dan aku tidak akan dendam untuk menentang negaraku. Tiada perjuanganku kecuali demi kebahagiaan umatku. Aku akan menghabiskan waktu beberapa bulan ini untuk mempelajari jalan-jalan yang dapat menghantarkan negeri ini pada era milenium ketiga, insya Allah itu adalah masa-masa yang indah. Aku akan bekerja dengan sungguh-sungguh di penjara. Sementara kalian yang berada di luar penjara, berbuatlah sesuai dengan batas kemampuan kalian. Kerahkan kemampuan kalian agar bisa menjadi arsitektur yang handal, dokter yang baik, dan ahli hukum yang profesional. Aku pergi untuk menunaikan kewajibanku. Dan pergilah juga kalian untuk menunaikan kewajiban kalian…. Aku titipkan kalian kepada Allah”

Begitulah sosok Erdogan. Ia tentu bersedih hati. Namun, ia menguatkan dirinya dan rakyatnya dengan mengatakan,

“Seorang mukmin kebahagiaannya akan tampak di wajahnya dan kesedihannya ada dalam di hatinya”.

Partai ‘Moderat’ Islam: Gerakan Politik di Balik Penjara

Empat bulan di penjara nyatanya sangat cukup bagi Erdogan untuk mengevaluasi diri dan sistem partai yang selama ini berjalan. Nyatanya, banyak sekali kesengsaraan yang membawa kenikmatan. Erdogan menyadari bahwa kesalahan fatal yang dilakukan partai Refah adalah selalu berseteru dengan negara dan menggunakan semboyan-semboyan keagamaan dalam masalah politik, sebagaimana hal ini juga dilakukan oleh pendukung sekularisme Attaturk dalam berpolitik, mereka sangat senang menuhankan identitas mereka. Ide reformasi dengan cara yang moderat adalah solusi yang dibawa oleh Erdogan selepas keluar dari penjara.

“Jangan engkau menjadi keras sehingga engkau bisa pecah, dan jangan engkau menjadi lembek sehingga engkau bisa diperas”.

Erdogan saat itu secara tegas mengganti pakaian politiknya. Hanya saja, partai oposisi sekuler menganggapnya kepura-puraan belaka. Erdogan memang berniat untuk menguasai aparatur negara demi mengubah sistem sekularisme yang selama ini diterapkan. Namun kebenaran ini belum bisa diterima secara nalar oleh kaum sekuler, meskipun Erdogan telah berusaha menjelaskannya dalam berbagai kesempatan.

Tahun 2001, Erdogan resmi keluar dari partai Refah tahun 2001 lalu membuat partai baru yaitu Adalet ve Kalkinma Partisi (AKP/ Partai Keadilan dan Pembangunan). Sejak mendirikan partai ini, Erdogan selalu menghindari perkara-perkara yang mencurigakan, namun ia tetap menggunakan ideologi-ideologi keislaman seperti yang dilakukan Erbakan, sehingga membuat kelompok Sekuler geram.

Partai AKP selalu berpihak kepada keputusan orang banyak dan tidak pernah melakukan perselisihan dengan militer Turki. Erdogan pun selalu menegaskan bahwa partainya bukanlah partai keagamaan melainkan partai yang menjaga kebersamaan. Keputusan Erdogan jelas menimbulkan banyak tuduhan, salah satunya datang dari presiden sebelumnya, Ahmad Necdet Sezer (tokoh sekuler) yang menuduh pemerintahan Erdogan ingin mengislamkan para kader di negara sekuler ini. Erdogan adalah ancaman besar bagi identitas Turki sebagai negara sekuler.

Beruntungnya, Erdogan dan AKP muncul pada saat yang tepat. Tahun 2001 adalah waktu di mana rakyat Turki berada dalam kondisi putus asa dan terpuruk terhadap politik akibat skandal yang dilakukan oleh Dewan Keamanan Turki yang menyebabkan hilangnya kepercayaan masyarakat pada instansi-instansi negara, terlebih partai politik. Mereka pun turut putus asa akibat praktik demokrasi yang selalu terhenti setiap kali kelompok Islam memasuki kancah politik. Pemerintahan Erbakan dikudeta oleh militer, pembubaran Partai Refah dan Partai Fadhilah sebagai partai Islam, termasuk juga dipenjarakannya Erdogan karena biat-bait puisi Islam yang tertuduh memprovokasi rakyat untuk kembali berislam.

Pada pemilu 2002, Erdogan mendapat kemenangan gemilang. AKP berhasil menghantarkan 323 wakilnya dalam parlemen. Kemenangan ini adalah sejarah baru bagi parlemen Turki, di mana belum pernah ada partai yang mengambil kepemimpinan pemerintahan sejak 1987. Bahkan, partai sekuler (Partai Republik Rakyat) hanya memperoleh 179 kursi dalam pemilu tersebut.

Warna Baru Politik Turki

Erdogan hadir membawa karakter politik yang berbeda. Rakyat Turki jelas mengetahui bahwa Erdogan memiliki kecenderungan terhadap satu agama, Islam. Namun, ia tetap menjaga komitmen terhadap dasar aturan politik dan konstitusi negara yang menjadikan Turki sebagai negara sekuler, di mana agama harus dipisah dengan politik dan negara. Erdogan juga meyakinkan bahwa partainya bukanlah partai Islam yang konservatif, tapi partainya adalah partai yang moderat, sebagaimana Erdogan menolak untuk bersitegang dengan partai-partai sekuler lainnya. Erdogan mengatur pemerintahan yang kuat dan mengikutsertakan orang-orang Turki yang agamis dan para ilmuwan untuk turut serta melakukan perbuahan dan reformasi. Erdogan bekerja dengan keteguhan semangat politik yang jauh dari ekstremisme keagamaan, apalagi background Islami yang menjadi khasnya. Terlepas dari reputasi baik dan kewibawaannya, Erdogan termasuk politikus yang tidak punya cacat dan tidak senang mengumbar janji kosong. Hal ini menjadi poin utama yang membuat popularitasnya menjulang tinggi hingga menjadikan partainya memenangkan pemilu secara telak.

Dalam menghadapi kelompok sekuler ekstrem, Erdogan menggunakan perundangan-undangan Turki sebagai senjata bahwa sebagai seorang individu, warga Turki diberi kebebasan mutlak untuk berperilaku. Hal ini membantu Erdogan untuk mengembalikan hak-hak warga muslim Turki untuk bebas menggunakan jilbab. Erdogan pun berjanji untuk membatalkan perundang-undangan yang melarang kaum wanita dan remaja Turki mengenakan jilbab saat berada di instansi-instansi pemerintah, sekolah, universitas, maupun acara-acara resmi.

Pemilu 2007: Sekularisme vs Islam

22 Juli 2007 menjadi tanggal penentu masa depan Turki. Bukan sekedar pertempuran sekularisme vs Islam, di sisi lain ini adalah pertempuran antar demokrasi dengan kebebasan , kekuatan komprehensif dengan kealiman, sehingga kejayaan dan kehancuran Turki ditentukan pada hari itu. Penentuan nasib ini menyebabkan meningkatnya antusiasme warga dalam memberikan hak suara hingga mencapai 85%.

AKP di bawah kepemimpinan Recep Tayyip Erdogan kembali memperoleh kesuksesan dalam pemilu 2007. Kali ini, AKP memperoleh 61 % suara parlemen (yaitu sekitar 340 dari 550 kursi). Kemenangan AKP tidak hanya berasal dari suara satu kelompok tertentu rakyat Turki, ia berasal dari kelompok kiri maupun kelompok kanan, penduduk kota maupun penduduk desa. Suara juga tersebar di setiap daerah Turki terkhusus daerah Kurdi, ini merupakan salah satu bukti pengakuan nyata keberadaan AKP dalam mengatasi problematika suku Kurdi dengan cara mengakui identitas kebudayaan dan kemanusiaan suatu masyarakat pada suatu daerah. Di sisi lain, partai lain, terutama Partai Gerakan Nasional kurang menunjukkan representasinya dalam mengatasi problematika di daerah konflik ini.

Pemilu ini menjadi bukti bahwa rakyat masih memiliki akar Islam yang cukup dalam meskipun ada upaya pemasukan paham sekularisme yang dipaksakan oleh kekuasaan yang ada terhadap warga Turki. Dapat disimpulkan pula bahwa rakyat Turki cenderung untuk tidak memihak kubu Islam ekstrem pun sekuler ekstrem, namun lebih memilih modernisasi tanpa adanya pertentangan antar elemen.

***

“Tidak mungkin Anda bisa menjadi seorang muslim sekaligus orang sekuler dalam waktu yang bersamaan.” (Erdogan)

Saat ini, sudah sepatutnya kita sebagai orang yang beriman turut bergembira atas kembalinya Turki menuju identitas sebenarnya. Kemenangan Erdogan dan AKP bukan hanya disebabkan oleh prestasi mereka dalam bidang ekonomi, sosial, maupun lingkungan, namun prestasi Erdogan dengan memunculkan kembali politik Islam yang lebih demokratis. Karena sejatinya Islam adalah agama yang mengatur seluruh sistem kehidupan, termasuk bernegara. Turki memang bukanlah negara Islam, sebagaimana Inggris, Jerman, Belanda bukanlah negara Kristen. Namun Turki bisa menjadi negara demokrasi yang berada di bawah naungan pemikiran-pemikiran Islam. Negara yang menjadikan sejarah sebagai pelajaran berharga untuk menjadi senjata politiknya dengan kesadaran penuh bahwa era modernisasi pun ada di depan mata.

Partai Islami tentu akan memadukan nilai-nilai keagamaan dan kehidupan politik, dengan cara halus masing-masing, dan nilai keagamaan itu tercermin dari tegaknya keadilan sosial, terhormatinya dan terakuinya nilai-nilai keagamaan, sejahtera masyarakatnya, tercukupinya kebutuhan hidup, dan terdorongnya potensi negara untuk lebih maju.

Sumber: Syarif Taghian. Erdogan: Muadzin Istanbul Penakluk Sekularisme Turki

(dakwatuna/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 3,00 out of 5)
Loading...
Nabilah Amany
Nabilah Amany, lahir di Bogor, 16 Maret 1995, menyelesaikan S1 di Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Lihat Juga

Erdogan: Jangan Tutup-tutupi Fakta Pembunuhan Khashoggi