Home / Berita / Internasional / Asia / Harian Prancis: Warga India Sembunyikan Keislaman dari Penguasa

Harian Prancis: Warga India Sembunyikan Keislaman dari Penguasa

Warga Muslim India mendirikan ibadah shalat. (Aljazeera)
dakwatuna.com – New Delhi. Pada Februari 2014 lalu, Muslimah India bernama Nazia Irum merasa sangat bimbang dalam memilih nama untuk putrinya, yang lahir di puncak kampanye pemilu. Ia bimbang antara memilih nama yang ‘Islami’, atau ‘nama netral’ yang tidak menunjukkan agama apapun.

Kampanye pemilu meningkat pada waktu itu. Ideologi Hindutva sangat kuat mewarnai kampanye. Bahkan sejumlah slogan berjanji mengembalikan kaum muslim ke negara mereka, mengacu pada negara tetangga, Pakistan.

Pada akhirnya, Irum memberi nama ‘Mira’ untuk putrinya itu. Nama tersebut dinilai lebih netral, dan tidak mengindikasikan agama apapun. Nama itu juga dinilai tidak akan menjadi beban bagi sang anak di sisa hidupnya kelak.

Serangan Hindu

Kisah Nazia Irum tersebut dimuat oleh harian Prancis, Le Monde edisi Selasa (22/08) kemarin. Dalam laporannya, banyak diungkap soal diskriminasi dan penganiayaan yang dihadapi muslim di India.

Menurut Le Monde, praktik-praktik tersebut meningkat sejak PM India saat ini, Narendra Modi, berkuasa empat tahun lalu.

Diskriminasi dan penganiayaan terhadap muslim tidak lagi menjadi hal yang tabu di era PM Modi saat ini. Modi juga disebut naik ke tampuk kekuasaan dengan membawa ideologi Hindutva.

Hindutva merupakan sebuah istilah yang dibuat oleh Vinayak Damodar Savarkar pada 1923. Ia adalah sebuah bentuk dominan dari nasionalisme Hindu di India. Partai Bharatiya Janata mengadopsi ideologi tersebut sebagai ideologi resminya pada 1989.

Sejak era Modi, imbuh Le Monde, Umat Islam juga menjadi sasaran serang oleh otoritas Hindu dengan tuduhan memakan daging sapi. Seperti diketahui, sapi merupakan hewan yang disucikan Umat Hindu; menyembelih dan memakannya merupakan tindakan kriminal.

Menurut Nazia, seranga terhadap kaum muslim di India bukan hal baru. Namun dulu setiap yang hendak melakukan itu harus berpikir dan berhati-hati. “Sekarang hal itu menjadi lumrah dan tidak terlarang,” imbuhnya. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 1,00 out of 5)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Pejabat Kemenlu AS: Sangat Jelas Keterlibatan MBS dalam Pembunuhan Khashoggi

Organization