Home / Berita / Opini / Jurnalis di Jalan Tuhan

Jurnalis di Jalan Tuhan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

 

dakwatuna.com – Jurnalisme akan mati. Penulis dan wartawan senior Aristides Katoppo mengungkapkan kekhawatirannya demikian dalam pertemuannya dengan para jurnalis senior pada awal tahun ini.

Pertemuan tersebut menghadirkan antara lain Ashadi Siregar, Retno Intani, Aristides Katoppo, Wahyudi M Pratopo. Mereka bicara soal dampak teknologi informasi terhadap generasi zaman now sebagai generasi penjelajah informasi yang tidak hanya lokal tapi juga global, generasi yang menjemput tantangan. Di sini, wartawan senior Aristides mengkhawatirkan the death of journalism sebagai dampak teknologi digital pada proses produksi konten.

Tanda-tandanya memang telah muncul sejak akhir 2011. Sebagaimana ditulis Supadiyanto di Kompasiana.com, para pengusaha media cetak di seluruh dunia menjadi terpukul dengan tutupnya perusahaan koran yang dianggap tertua The New York Times (NYT) pada Desember 2011.

Dikabarkan bahwa NYT telah melego 16 surat kabar daerahnya kepada Halifax Media Holdings senilai USD 143 juta. Koran yang dijual antara lain, Sarasota Herald Tribune, The Press Democrat di Kalifornia, Ledger di Kalifornia, Herald Journal di Carolina Utara, Daily Comet di Los Angeles, dan belasan koran daerah lainnya yang oplahnya mencapai 43 ribu eksemplar. Kini, NYT memilih mengembangkan bisnis media on line.

Istilah jurnalis kedengarannya punya konotasi yang baik dalam sejarah peradaban manusia. Para pencipta karya fiksi pun menciptakan tokoh-tokoh komik terkait dengan profesi jurnalis, seperti tokoh Tintin yang merupakan reporter asal Eropa beserta anjingnya Snowy. Sebut saja tokoh-tokoh superhero Amerika Serikat seperti Clark Kent (Superman) dan jurnalis foto Peter Parker (Spiderman); mereka adalah jurnalis sekaligus jagoan pembela kebenaran.

Di dunia nyata, jurnalisme bahkan berhubungan dengan pekerjaan yang amat dekat dengan penyampaian wahyu Tuhan. Tidak main-main. Hakikat jurnalisme, yaitu pekerjaan menyampaikan hal-hal yang perlu diketahui orang lain secara kontinu, adalah aktivitas yang tak bisa dilepaskan dari hubungan antara manusia dan Tuhannya.

Jurnalisme konvensional yang menghabiskan banyak kertas menurut saya memang sedang sekarat. Tapi, bagaimana dengan kehadiran jurnalisme muslim yang jumlahnya tampak kian bertambah, apakah mereka akan bernasib sama dengan jurnalisme konvensional?

Jurnalisme Adalah Aktivitas Islami

Saya agak membedakan antara kata Muslim (dengan M huruf besar) dan muslim (m huruf kecil). Yang pertama mengacu kepada identitas legal-formal seseorang yang menganut sebuah agama, yaitu Islam. Seorang Muslim adalah orang yang tercatat beragama Islam.

Yang kedua, muslim berarti, orang yang tunduk dan berserah diri kepada Allah. Yang kedua ini beriman kepada Tuhan, yaitu menerima segala-sesuatu yang datang dari-Nya. Jika sebagian jurnalis menghindari penyebutan nama Tuhan dalam pieces (karya-karya) mereka, hal itu tidak dilakukan oleh seorang jurnalis muslim yang beriman kepada Tuhan. Baginya, segala sesuatu terjadi dengan izin-Nya.

Jurnalisme bahkan merupakan aktivitas yang sangat islami, berhubungan dengan tugas para rasul dan nabi. Jurnalisme mencakup aktivitas-aktivitas intelektual para perawi hadis Nabi Muhammad Saw, aktivitas penyelidikan para ilmuwan dan penegak hukum. Selain itu, jurnalisme juga mencakup tulisan para sejarawan, aktivitas dakwah para dai dan mubaligh, serta aktivitas jurnalistik para jurnalis.

Mereka sama-sama berusaha menyingkirkan kepentingan-kepentingan pribadi dan menggantinya dengan pengetahuan obyektif yang berjarak dengan subyektifitas diri mereka berupa prasangka dan keinginan-keinginan.

Jurnalisme muslim sejati sejauh yang saya hayati ditandai dengan lima karakter utamanya yaiil.

Tauhid, yaitu mengesakan Tuhan. Dalam hal ini termasuk mengesakan peraturan dan hukum-Nya, mengintegrasikan firman-Nya dalam satu kesatuan makna. Ciri tauhid lainnya ialah, konsisten (karena berasal dari satu Tuhan) dan tak terpisahkan. Seperti ajaran Islam yang tak memisahkan antara kehidupan duniawi dan ukhrowi, antara ilmu dan iman, antara perkataan dan perbuatan.

Jujur, berarti apa adanya. Menerima kenyataan sejauh ditangkap indranya; apalagi, dengan didukung teknologi pengindraan yang semakin canggih dan semakin akurat. Ini berhubungan dengan tugas reporter dan fotografer atau kameraman sebagai indra dalam sebuah organisasi pers, kita terbiasa menyebutnya ujung tombak.

Menyampaikan kebenaran, artinya merujuk kepada penilaian Allah sebagai satu-satunya pihak yang benar. Prakteknya yaitu dengan mengacu kepada pegangan orang beriman yaitu Alquran dan sunah Rasulullah serta ijtihad para ahli (yang punya otoritas) dan pakar di bidangnya dengan merujuk kepada kedua pegangan.

Independen, yaitu bermodalkan sumber-sumber halal atas dasar hubungan suka-sama-suka, serta bebas dari tekanan pihak mana pun, baik negara, publik, maupun pihak pemilik modal.

Adil, yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Cover both sides, cover all sides, dan imparsial alias tidak memihak kecuali memihak kepada kebenaran yang datang dari Tuhan. Simaklah firman Allah di kitab suci mengenai hal ini,

Hai orang-orang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu berbakti karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil ini lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” {Quran surah 5 (Al-Mãidaĥ): 8}

Tak berbeda jauh dengan jurnalisme konvensional, jurnalisme muslim saat ini tengah bertahan hidup. Ia tidak pernah benar-benar mati. Ia tetap eksis sejak perutusan para nabi dan rasul Allah hingga ke Nabi Penutup Muhammad Rasulullah, lalu berlanjut hingga saat ini. Bahkan, akan terus berlanjut hingga kiamat kelak.

Ini menjelaskan posisi saya, yaitu sebagai jurnalis muslim yang tidak memisahkan antara kepercayaan dan pengetahuan. Sebagai seorang freelance (jurnalis lepas atau penulis lepas), saya berusaha meniti jurnalisme di jalan Allah, yang dalam bahasa arab disebut fiy sabiylillāĥ.

Perluasan Makna Jihad

Hingga hari ini media-media Islam perlahan berguguran mengikuti rekan mereka yang konvensional. Sebagian karena terlalu membatasi diri pada segmen pembaca khusus, sebagian karena tergeser oleh “revolusi” digital, sebagian lagi tak lain karena soal modal.

Kemunculan media Islam on line memberi harapan baru, tapi tampaknya tidak bagi peningkatan taraf hidup seorang freelance yang masih harus berkutat dengan pemenuhan ekonomi rumah tangganya.

Seorang freelance tetaplah seorang jurnalis yang tak bisa menyampaikan sesuatu untuk tujuan komersial semata-mata karena ia bukan agen marketing atau humas. Meskipun ia juga tak harus menulis dari sisi keburukan melulu atau menulis sesuai pesanan pihak berseteru. Sebutan di atas semua golongan malah lebih pas jika dikenakan pada kaum jurnalis.

Jurnalis yang baik bukanlah seseorang yang menyampaikan karya jurnalistik sebagai pekerjaan sampingan belaka, sementara ia lebih berfokus pada pekerjaan lainnya yang dianggap lebih penting.

Jurnalisme adalah sebuah profesi dengan tuntutan dedikasi yang tinggi. Seorang jurnalis tetap harus mengikuti perkembangan dengan mengikuti perkembangan berita sembari memperdalam ilmunya terutama di bidang-bidang jurnalisme muslim. Menuntut ilmu itu dari buaian sampai ke liang lahat (al-hadis).

Para jurnalis muslim harus menjaga independensi, berusaha tetap komitmen untuk menyampaikan kebenaran lewat tulisan-tulisan yang imparsial dan tanpa kepentingan lain selain lillahi ta`ala.

Tapi di sisi lain, mereka juga punya kewajiban untuk menutupi kebutuhan ekonomi rumah tangga secara halal. Tidak mudah menyatukan kombinasi kedua tuntutan.

Karena itu, adalah pada tempatnya jika jurnalis seperti ini secara syariah dimasukkan ke dalam kategori fakir maupun fiy sabiylillāĥ sebagai golongan yang berhak menerima zakat (mustahiq).

Seorang khotib shalat Jumat mendapatkan nafkah dari jemaah masjid ketika ia berkhotbah. Khotib adalah salah satu contoh mengenai mustahiq dari golongan jurnalis muslim, yang menyampaikan dakwah secara kontinu.

Selengkapnya, delapan golongan mustahiq adalah fakir. Maksudnya yaitu orang yang membutuhkan bantuan untuk mempertahankan hidup sehari-hari. Orang tersebut tidak mempunyai mata pencaharian untuk mencukupi dirinya atau keluarganya, tapi ia tak mau meminta-minta.

Miskin (sama seperti fakir, tapi ia tidak segan meminta-minta); amil (pengurus zakat); muallaf (yang terpikat hatinya untuk memeluk Islam); riqob (hamba atau budak, contohnya, korban perdagangan manusia); ĝoriym (orang yang berutang untuk keperluan pokok), ibnussabiyl (musafir atau traveller atau backpacker, orang yang dalam perjalanan bukan untuk tujuan maksiat);

Lalu terakhir, fiy sabiylillāĥ (di jalan Allah). Semasa hidup Rasulullah Saw (570–632 M), orang-orang mengerahkan harta mereka untuk berjihad memperjuangkan agama baru dari gangguan orang-orang kafir. Tapi, di antara mereka banyak juga yang papa. Mereka sedih karena tak punya kendaraan untuk berperang, padahal mereka ingin sekali ikut berperang.

Arti jihad di jalan Allah mengalami perluasan makna, bukan hanya sekedar berperang. Menafkahkan harta fiy sabiylillāĥ dicandrakan meliputi belanja untuk pertahanan, membangun rumah sakit, dan mendedikasikan diri di bidang kemanusiaan. Contoh lainnya yang meliputi fiy sabiylillāĥ yaitu menyelenggarakan institusi pendidikan dan penelitian ilmiah, dan tentu saja mengorganisasikan jurnalisme muslim.

Ayat lain bahkan menggolongkan keberadaan fakir dan fiy sabiylillāĥ dalam satu golongan. Ini ajakan buat para pemodal untuk ikut di jalan Allah misalnya dengan mendanai jurnalisme muslim,

“(Berinfaklah) untuk orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” {Quran surah 2 (Al-Baqoroĥ): 273}. (agung/sb/dakwatuna)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Seorang penulis lepas berlatar jurnalistik di media cetak-media cetak maupun internet, termasuk kontributor untuk media cetak-media cetak bulanan, serta penulis buku Islam dan Seni Rupa, Daun-daun Surga (Wedatama Widyasastra 2007) dan (bersama-sama praktisi hukum Maqdir Ismail dan Adnan Buyung Nasution) buku Skandal Bank Bali, Perkara Hukum atau Politik? (Alvabet 1999).

Lihat Juga

Hakikat Waktu Seorang Muslim