Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Refleksi Spiritual Muharram: Mampukah kita menjadi Anshar?

Refleksi Spiritual Muharram: Mampukah kita menjadi Anshar?

Gurun (inet)

dakwatuna.com – Tahun baru hijriyah 1 Muharram 1439 H telah menyapa Muslim Indonesia. Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Islam dan salah satu dari asyhurul haram (empat bulan yang diharamkan berperang di dalamnya) yang disebut di dalam Qur’an. Sedangkan Tahun Hijriyah identik dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad dan para sahabat dari Makkah ke Madinah yang berbuah lahirnya sebuah peradaban terdepan di dunia.

Kemajuan Peradaban Islam bukan hanya buah dari hijrah secara fisik semata, namun lebih dari itu “hijrah” adalah buah dari langkah revolusi di segala aspek dan dimensi kehidupan yang sepatutnya harus dipenuhi secara serius. Hijrah yang dilakukan Nabi bukan hanya berpindah tempat tinggal dan mencari tempat perlindungan. Memang Muslim Makkah mengalami penderitaan sebelum mereka diperintahkan untuk berhijrah. Namun, hijrah ini bukanlah karena usaha pelarian diri dari penyiksaan dan penderitaan dari kaum kafir semata.

Allah memerintahkan Nabi untuk hijrah untuk mencari tanah baru untuk menyebarkan Islam dan mengamalkan syariat di lingkungan yang lebih aman dan reseptif. Karena itu, Hijrah adalah titik pangkal untuk mendirikan komunitas baru yang berbasis Islam dan membina pesan ketuhanan universal yang menyeru pada ketinggian moralitas dan hak kemanusiaan.

Salah satu dari langkah awal Nabi Muhammad SAW begitu sampai di Madinah adalah pembentukan mu’akhah yaitu hubungan persaudaraan antara komunitas Muhajirun (Muslim yang migrasi dari Makkah) dan Anshar (penduduk Madinah yang menyambut Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya). Mu’akhah, berasal dari kata akh (saudara) dalam bahasa Arab, yang artinya saudara sedangkan mu’akhah artinya mempersaudarakan orang-orang.

Mu’akhah adalah sebuah relasi kuat yang terbentuk berdasarkan keimanan dan bukan berdasarkan kesukuan ataupun etnis. Sistem Mu’akhah ini sangat luar biasa sehingga memungkinkan seseorang berkorban untuk orang lain yang tidak sedarah dan berbeda latar belakang dengannya. Para sahabat Anshar tidak hanya menyediakan sebagian dari harta kepemilikan, makanan, tempat tinggal, dan pakaian mereka, tapi mereka juga menawarkan persahabatan tulus, dukungan moral dan psikologis dengan menghibur hati para Muhajirun yang meninggalkan semua yang mereka cintai; keluarga, teman, dan tanah air.

Dari Anshar kita belajar akan pengorbanan dan kemurahan hati yang luar biasa yang tidak sia-sia, bahkan mereka menjadi orang yang beruntung dengan balasan pahala yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Allah SWT memuji ketulusan, kemurahan hati, dan pengorbanan diri yang unik yang ditunjukkan oleh Anshar kepada saudara Muhajirun mereka, di dalam ayat al-Quran surat Al-Hashr, ayat 9:

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.”

Akibat implementasi mu’akhah, Madinah sebagai tanah suaka bagi imigran Mekkah, dalam kurun waktu yang singkat berubah menjadi negeri yang makmur dan paling aman di dunia pada masanya. Kesenjangan sosial kian menipis. Keamanan, kedamaian dan hukum ditegakkan tanpa pandang bulu. Angka tingkat kriminalitas seperti pembunuhan, pemerkosaan, pencurian, dan tindak susila lainnya semakin berkurang.

Sistem muakhah juga memberikan peluang untuk Muhajirun membangun kembali kehidupan mereka dari awal. Mu’akhah adalah sistem yang menggambarkan komitmen solid Islam atas persaudaraan tulen berbasis agama dan bukan warna, bahasa, ras, ataupun etnis. Muakhah menumbuhkan rasa cinta, kerjasama, solidaritas, dan kasih sayang antara komunitas Muslim yang berbeda latar belakang regional yang berbeda ragam orang, bahasa dan budayanya. Contohnya, Bilal bin Rabah seorang mantan budak Afrika dan Abu Rawahah Abdullah bin Abdul Rahman seorang Arab atau Salman al Farisi dari Persia and Abu Darda’ dari Arab.

Sejarah telah menyaksikan banyak migrasi. Namun, kita belum menemukan imigrasi yang mendapat sambutan tulus dari penduduk lokal seperti Muhajirun mendapatkan sambutan persaudaraan dari sahabat Anshar. Dengan rahmat Allah SWT, Muslim Indonesia menyambut tahun baru dalam keadaan yang lebih baik dibandingkan dengan muslim di negara-negara lain yang dilanda musibah dan cobaan seperti di Syiria, Yaman, dan Rohingya yang saat ini kembali bergejolak.

Contohnya kasus Rohingya, terlepas dari faktor penyebab politik atau pun agama, kita wajib mengulurkan tangan atas dasar kemanusiaan. Pengungsi Rohingya sudah seharusnya menjadi tanggung jawab bukan saja negara suaka tapi juga masyarakat dunia secara keseluruhan. Namun tentu saja kita sebagai Muslim mempunyai alasan kuat untuk menyediakan bantuan, penampungan dan perlindungan bagi Muslim Rohingya.

Nasib Muslim Rohingya bisa dikatakan sama dengan Muslim Makkah, terusir dari tanah yang mereka tempati selama berabad-abad lamanya. Adanya dugaan genosida dan pelanggaran hak asasi manusia seperti pembunuhan massal, larangan beribadah, pemusnahan tempat tinggal, pemerkosaan dan penyiksaan atas etnis Rohingya memaksa mereka berhijrah. Namun siapakah yang bersedia menyambut mereka?

Angka kematian, dan pengungsi makin meningkat, apa saja yang bisa kita lakukan? Mampukah kita seperti sahabat Anshar yang menawarkan kebun kurma mereka untuk para Muhajirun? Layaknya sahabat Anshar, rela kah kita berbagi tempat tinggal dan pendapatan untuk Muslim Rohingya seandainya mereka datang mengetuk pintu rumah kita? Maukah kita dipersaudarakan dengan konsep muakhah ala nabi? Sungguh perkara yang tidak mudah untuk dilakukan. Ketinggian iman kepada Allah dan kepatuhan pada Rasul-Nyalah yang membuat sahabat Anshar rela berbagi apa yang mereka punya.

Lingkaran kekerasan bagi warga Rohingya harus dihentikan dengan segera, ulurkanlah tangan membantu mereka dengan apa yang kita mampu, baik secara moril mapun material. Aksi nyata apa saja yang bisa kita lakukan untuk saudara Muslim Myanmar? Kita bisa menggalang dana bantuan dan menyediakan kebutuhan dasar seperti obat-obatan, makanan dan pakaian. Aksi demonstrasi damai sangat dianjurkan dan hindari demonstrasi yang anarkis dan emosional yang justru kontra produktif dan malah menghancurkan proses resolusi konflik antara Rohingya dan warga Myanmar lainnya.

Di bulan Muharram ini, marilah kita menghidupkan ajaran Islam yang indah. Saling bantu dan berkasih sayang sesama Muslim dan berusaha untuk menyucikan diri dan berjuang untuk menegakkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan kita sehari-hari. (wiwin/dakwatuna.com)

————————————

Penulis: Wiwin Oktasari, Lc. M.HSc. Mahasiswi S3, jurusan Sejarah dan Peradaban, di Universiti Islam Antarbangsa Malaysia atau IIUM, Malaysia. Telah menempuh S1 di jurusan Shariah Islamiyah di universitas al-Azhar, Mesir dan S2 di IIUM Malaysia. Pengalaman mengajar dan riset mengantarkannya ke kuliah musim panas di Jerman dan Inggris. Ia juga aktif berpartisipasi sebagai speaker di seminar internasional di antaranya  seminar di Malaysia, Pakistan dan Qatar.

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Lihat Juga

20 Tahun Berkiprah, Kepala Daerah dari PKS Gelar Konsolidasi Nasional