Home / Berita / Opini / Erdogan dan Maduro, Perbandingan yang Tak Sebanding

Erdogan dan Maduro, Perbandingan yang Tak Sebanding

Presiden Erdogan bersama Presiden Venezuela. (turkpress.co)

Oleh: Najehan Elche, Jurnalis Surat Kabar “Milliyet” Turki

dakwatuna.com – Ankara. Akhir-akhir ini, saya sering melihat media massa yang dekat dengan pemerintah seakan menyejajarkan antara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dengan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Terkait itu, saya meyakini ada ketidakadilan besar bagi Erdogan.

Ketika Presiden Erdogan, mencapai puncak kekuasaannya pada awal tahun 2000-an silam, ia hanya mengandalkan satu-satunya kekuatan yaitu rakyat. Sedangkan seluruh mekanisme negara saat itu, utamanya militer, berada di seberang dan siap melawannya sewaktu-waktu.

Kita tahu, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), bukan sebuah partai pemerintah. AKP merupakan sebuah pergerakan yang sangat erat dengan rakyat. Hingga saat ini, sumber kekuatan Presiden Erdogan adalah kecintaan sebagian besar rakyat. Sedangkan kelompol-kelompok politik pada angkatan bersenjata, semuanya memusuhinya.

Fakta tersebut sangat kontras dengan apa yang dilalui oleh seorang Maduro, Presiden Venezuela saat ini. Gerakannya yang dikenal dengan Gerakan Chaves-Maduro, memperoleh tampuk kekuasaan dengan dukungan besar dari para prajurit Bolivarian yang mayoritas di Venezuela.

Gerakan ini masih bertengger di puncak kekuasaan dengan kekuatan militer, yang senantiasa memanipulasi setiap pergelaran pemilu.

Hugo Chaves, yang sangat diidolakan Maduro, adalah sosok diktator militer yang berupaya melakukan kudeta sendiri pada masa lalu. Sedangkan Presiden Erdogan, mencapai puncak kekuasaannya melalui jalan pemilihan yang kredibel, dan masih bertahan dengan jalan yang sama.

Mekanisme pemilihan di Venezuela, sama persis dengan yang terjadi di Suriah. Maduro, juga melakukan hal yang sama dengan dua mitranya, Bashar al-Assad dan Abdul Fattah al-Sisi, bahwa mereka “pemimpin terpilih”.

Chavez dan Maduro, dua orang diktator berhaluan Marxsisme-Leninisme yang tidak mempercayai demokrasi. Jadi, rasa simpati pada sosok Maduro yang mungkin timbul dalam diri kita, itu semata-mata hanya karena Amerika Serikat tidak menginginkannya. Lalu apakah kita juga akan bersimpati dengan al-Assad dan Milosevic? Sudah jelas bahwa Turki mendukung penggulingan al-Assad dan Milesovic.

Media massa mengkritik ketidakseimbangan yang menimpa diktarot Marxis, Maduro. Memang, jejak Amerika Serikat di wilayah Amerika Latin memang menjadi bencana tersendiri.

Beberapa negara berhasil membangun sistem demokrasi yang sehat dengan model kepresidenan. Namun, dengan munculnya pemimpin-pemimpin sayap kiri yang anti-AS, memaksa Barat, utamanya Washington, untuk melancarkan tekanan pada pemerintahan tersebut.

AS kemudian mendalangi berbagai kudeta di negara-negara ini melalui jalan militer, kepolisian maupun peradilan. Sayangnya, kudeta peradilan ilegal berhasil memakzulkan Presiden Brazil.

Perbandingan antara model yang ada di Brazil dengan Turki, suatu yang wajar. Namun, beda urusannya dengan Venezuela. Memperbandingkan antara Maduro dengan Erdogan, sangat tidak adil bagi Erdogan. (whc/dakwatuna)

Sumber: Turkpress.co

Advertisements

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Trump: Kehormatan Besar Bisa Mengenal Sosok Seperti Erdogan