Home / Berita / Nasional / Inilah Fakta dan Kejanggalan Insiden Pengusiran Jonru dari Maumere

Inilah Fakta dan Kejanggalan Insiden Pengusiran Jonru dari Maumere

Jonru (pos kupang)

dakwatuna.com –  Jonru dituduh hendak mendirikan FPI cabang Sikka. Padahal Jonru bukan orang FPI. Tanggal 26 Mei 2017 adalah jadwal kepulangan Jonru dari Flores ke Jakarta. Tiket pulang-pergi telah dibeli beberapa hari sebelum keberangkatan ke NTT. Dan insiden pengusiran tersebut pun terjadi pada tanggal 26 Mei 2017. Secara logika, tidak ada gunanya Jonru diusir, sebab memang sudah hendak pulang.

Saat Jonru mendarat di Pelabuhan L Say Maumere dalam perjalanan dari Pulau Pemana, jumlah wartawan jauh lebih banyak dibanding jumlah orang yang hendak mengusir Jonru. Perkiraan kami, jumlah wartawan sekitar 20 orang, sedangkan jumlah pengusir hanya sekitar 2 atau 4 orang.

Semua media yang meliput kejadian tersebut, menulis bahwa “Jonru dievakuasi paksa dari Pulau Pemana” atau “Jonru Dipulangkan dari Flores”, dan sebagainya. Padahal faktanya, Jonru pulang atas inisiatif sendiri, karena memang sudah jadwal pulang.

Pihak kepolisian mengawal dan mengamankan proses kepulangan Jonru dan tim Akrom Foundation, karena mereka sudah mengetahui adanya segelintir orang yang hendak menghadang Jonru. Mereka ingin memastikan situasi Maumere tetap kondusif, jangan sampai ada gejolak yang mengganggu keamanan.

Jadi pengawalan Jonru saat pulang dari Pulau Pemana ke Jakarta adalah dalam rangka pengamanan dan perlindungan dari gangguan massa, bukan dalam rangka pengusiran paksa, evakuasi paksa, atau pemulangan paksa.

Muncul isu bahwa Jonru hendak membagi-bagikan sembako pada warga Kristen dan hendak mengislamkan mereka. Padahal ini sama sekali tidak benar.

Tujuan kunjungan Jonru dan tim Akrom Foundation di Pulau Pemana, Flores, adalah dalam rangka survey penggalangan dana pada LPQ Alfatina yang ada di pulau tersebut. Sekadar info, kerjasama penggalangan dana antara LPQ Alfatina dengan yayasan yang dikelola Jonru telah berlangsung sejak 2016 lalu.

Muncul pula isu bahwa Jonru datang ke Flores DIDUGA untuk menebar kebencian. Namun tidak pernah dijelaskan seperti apa bentuknya, bahkan tidak ada bukti apapun. Hanya berupa dugaan.

Faktanya, kehadiran Jonru di NTT adalah dalam rangka kegiatan sosial belaka. Bahkan pemerintah setempat telah mendengar langsung penjelasan dari tim Akrom Foundation, dan mereka bisa memahaminya. Mereka berpendapat bahwa kegiatan Jonru dan Akrom Foundation di NTT sangat positif dan sangat perlu didukung, dan tidak ditemukan adanya gejala-gejala ke arah menebar kebencian, provokasi, dan sebagainya.

Di satu sisi ada segelintir orang yang mengusir Jonru. Namun di sisi lain, Jonru disambut dan diperlakukan dengan sangat baik oleh pemerintah setempat, termasuk Camat Alok, Kapolsek Alok, Dandim Sikka, Kapolres Sikka, dan sebagainya. Mereka sangat mendukung kegiatan sosial Akrom Foundation, karena positif dan bermanfaat bagi masyarakat.

Beredar pula isu bahwa Jonru diusir oleh warga muslim di Maumere. Padahal faktanya, tidak ada yang sempat menyelidiki apa agama para pengusir tersebut, yang jumlahnya pun hanya sekitar 2 atau 4 orang.

Sempat juga ada isu bahwa Jonru datang ke Pulau Rote. Padahal Jonru sama sekali tidak ada jadwal kunjungan ke pulau tersebut.

Sejumlah media menyebutkan bahwa Jonru datang ke Pulau Pemana untuk menyalurkan dana Rp 30 juta. Padahal tidak ada sepeser dana pun yang disalurkan oleh tim Akrom Foundation pada saat itu. Sebab kedatangan kami ke sana hanyalah dalam rangka melakukan survey lanjutan. Tahun 2016 lalu, kami memang sempat mentransfer uang sekitar Rp 40 juta ke LPQ Alfatina, dan uang tersebut adalah hasil penggalangan dana di media sosial.

Dana tersebut telah digunakan untuk membangun gedung LPQ. Namun karena dana tersebut masih jauh dari kurang, maka kami pun melakukan survey lanjutan tanggal 24-26 Mei 2017 kemarin.

Dari sebelas fakta dan kejanggalan di atas, kami menduga kuat bahwa:

1. Insiden pengusiran tersebut hanyalah upaya untuk cari sensasi, rekayasa provokator dari luar Maumere yang hendak menciptakan framing negatif tertentu terhadap Jonru, hendak memblow up insiden pengusiran di media tertentu. Mungkin maksud mereka adalah untuk cari muka pada pemerintah pusat.

2. Orang-orang yang mengusir Jonru dipastikan BUKAN representasi dari warga Maumere, sebab jumlah mereka hanya 2 atau 4 orang. Lagipula, warga Maumere dikenal sangat cinta damai, penuh toleransi dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang tidak jelas. Perilaku para pengusir sama sekali tidak sesuai dengan karakter tersebut.

3. Si provokator hendak membunuh karakter Jonru, karena selama ini mereka merasa terganggu oleh tulisan-tulisan Jonru di media sosial yang berhasil menelanjangi berbagai macam pencitraan palsu dan kebobrokan rezim ini.

4. Si provokator hendak mengganggu stabilitas keamanan di NKRI, mengadu domba dan memprovokasi antargolongan masyarakat. Ini terlihat dari indikasi banyaknya beredar isu yang tidak jelas dan jauh dari fakta kebenaran.

Sekadar info, berikut adalah jadwal Jonru dan tim Akrom Foundation di Nusa Tenggara Timur:

  • Tanggal 22 Mei 2017 malam, berangkat dari Jakarta ke Kupang, menginap di Pesantren Hidayatullah Kupang.
  • Tanggal 23 Mei 2017 seusai Shubuh, berangkat dari Kupang untuk menyalurkan bantuan logistik Ramadhan bagi para mualaf di pedalaman kabupaten Timor Tengah Selatan. Program ini adalah hasil kerjasama antara Akrom Fundation dengan Baitul Maal Hidayatullah Kupang. Kedua lembaga ini adalah yayasan resmi dan berbadan hukum.
  • Tanggal 24 Mei 2017 jam 1.30 dinihari, tiba kembali di Kupang.
  • Tanggal 24 Mei 2017 seusai subuh, berangkat ke Maumere, dan setelah itu langsung berangkat lagi ke Pulau Pemana yang letaknya di sebelah utara Maumere. Dengan kata lain, Jonru dan timnya hanya transit di Maumere, sebab tidak ada transport yang langsung dari Kupang ke Pulau Pemana.
  • Tanggal 26 Mei 2017 pagi hari, pulang dari Pemana ke Maumere, dan setelah itu langsung pulang ke Jakarta, transit di Bali.

Itu adalah jadwal yang sudah ditetapkan jauh sebelum Jonru dan tim berangkat ke Kupang. Dan tiket pulang pergi pun sudah dibeli beberapa hari sebelum keberangkatan.

Dengan demikian, sama sekali tidak masuk akal jika disebut bahwa Jonru dipulangkan secara paksa, dan sebagainya.

Bahkan sangat aneh jika Jonru diusir pada tanggal 26 Mei 2017 tersebut, karena faktanya itu adalah jadwal kepulangan yang sudah ditetapkan sejak awal. Artinya, pengusiran tersebut tak ada gunanya, dan dugaan kuat kami itu hanya upaya untuk cari sensasi, dan blow up pemberitaan di media, mengingat jumlah wartawan yang “menjemput” Jonru jauh lebih banyak ketimbang jumlah orang yang hendak mengusir.

Sekadar info, wasilah dari dari kehadiran Jonru di Pulau Pemana adalah karena Pak Ustadz Herman selaku pendiri dan pengelola LPQ Alfatina menghubungi Akrom Foundation dan mengajak kerjasama penggalangan dana untuk lembaga yang beliau kelola. (jonrucenter/dakwatuna.com)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Lihat Juga

PKPU Bersama Wardah Luluskan 12 Balita Bergizi Baik di Namosain Kupang

Organization