Home / Berita / Nasional / Data BPS Menunjukkan Kemiskinan di Indonesia Semakin Parah

Data BPS Menunjukkan Kemiskinan di Indonesia Semakin Parah

Perumahan warga di bantaran sungai ciliwung. (okezone.com)
Perumahan warga di bantaran sungai ciliwung. (okezone.com)

dakwatuna.com – Jakarta.  Dalam paparan Profil Kemiskinan di Indonesia Maret 2016, Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan bahwa Indeks kedalaman dan indeks keparahan kemiskinan periode Septemeber 2015-Maret 2016 meningkat, karena garis kemiskinan perdesaan lebih tinggi dari perkotaan mengingat inflasi perdesaan juga lebih tinggi dari perkotaan.

”Ini karena harga di perdesaan lebih tinggi dari kota. Masyarakat desa mulai mengonsumsi barang-barang daerah urban, ini butuh biaya distribusi lebih besar sehingga margin dinaikkan. Belum lagi masyarakat perdesaan membeli barang secara eceran ketimbang partai besar,” ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin, di Kantor BPS, Senin (18/7/2016) sebagaimana dilansir republika.co.id

Walau jumlah warga miskin berkurang, tetapi kedalamam dan keparahan kemiskinan meningkat. Kedalaman dan keparahan kemiskinan perdesaan lebih tinggi dari perkotaan.

Suryamin menjelaskan, kemiskinan tak hanya soal jumlah dan persentase penduduk miskin, tapi juga soal kedalaman dan keparahan kemiskinan.  Indeks kedalaman dan indeks keparahan kemiskinan per Maret 2016 masing-masing naik menjadi 1,94 persen dan 0,52 persen dari periode September 2015 yang masing-masing sebesar 1,84 persen dan 0,51 persen.

Namun untuk periode Maret 2015-Maret 2016, indeks kedalaman dan indeks keparahan kemiskinan turun dari masing-masing 1,97 persen dan 0,54 persen menjadi 1,94 persen dan 0,52 persen.

Indeks kedalaman dan indeks keparahan kemiskinan perdesaan lebih besar dibandingkan perkotaan. Per Maret 2016, indeks kedalaman dan indeks keparahan kemiskinan perdesaan mencapai 2,74 persen dan 0,79 persen. Angka ini lebih besar dari indeks kedalaman dan indeks keparahan kemiskinan perkotaan yang mencapai 1,19 persen dan 0,27 persen per Maret 2016.

Meski begitu, dengan garis kemiskinan Rp 354.386 per kapita per bulan pada Maret 2016, jumlah penduduk miskin mencapai 28,01 juta orang atau 10,86 persen. Jumlah ini berkurang 500 ribu orang dari 28,51 juta orang per September 2015 dan berkurang 580 ribu orang dari 28,59 juta orang Maret 2015.

Dikutip dari laman bps.go.id, Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Jadi Penduduk Miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan. (SaBah/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Bagaimana Nasib Orang Miskin?

Organization