Home / Berita / Opini / Serangan Bandara Turki, Mengapa Tidak Ada yang Mengklaim?

Serangan Bandara Turki, Mengapa Tidak Ada yang Mengklaim?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Calon penumpang meninggalkan bandara Istanbul Ataturk, bandara terbesar di Turki, setelah sebuah serangan bom terjadi di lokasi tersebut, Rabu (29/6/2016). (Getty Images / Defne Karadeniz)
Calon penumpang meninggalkan bandara Istanbul Ataturk, bandara terbesar di Turki, setelah sebuah serangan bom terjadi di lokasi tersebut, Rabu (29/6/2016). (Getty Images / Defne Karadeniz)

dakwatuna.com – Turki kembali berduka, teroris menyerang Bandara Internasional Ataturk, Istanbul pada hari Selasa (28/6/2016). Sebelumnya, pada awal bulan yang sama (6/6/2016) juga terjadi insiden teror bom mobil yang menghancurkan kendaraan polisi dan menewaskan 11 orang di Istanbul. Berbeda dengan teror bom mobil tersebut yang didalangi oleh kelompok militan Kurdi, serangan teror di Bandara terbesar Turki tersebut tidak –atau setidaknya belum– diketahui pelakunya.

Kini Turki menjadi negara yang rawan dan masif terhadap serangan terorisme. Dalam 2 tahun terakhir Turki telah mengalami 14 serangan besar yang menewaskan tidak kurang dari 280 orang. Berikut detail dari serangan-serangan tersebut yang dirangkum oleh The New York Times (Almukhtar, Bloch, Buchanan, Fessenden, & Lai, 2016):

DateLocationDeadGroup responsible
Jun. 5, 2015DiyarbakirPolitical rally2Unknown
Jul. 20SurucCultural center32ISIS
Oct. 10AnkaraPeace rally100+ISIS
Jan. 12, 2016IstanbulTourist area10ISIS
Jan. 13DiyarbakirPolice headquarters6Kurdish militants
Feb. 17AnkaraMilitary convoy28Kurdish militants
Mar. 13AnkaraPublic square37Kurdish militants
Mar. 18Nusaybin1Kurdish militants
Mar. 19IstanbulTourist area4ISIS
Mar. 21NusaybinMilitary operation3Kurdish militants
Mar. 31DiyarbakirPolice convoy7Kurdish militants
Jun. 7IstanbulTourist area11Kurdish militants
Jun. 23OmerliMilitary outpost1Kurdish militants
Jun. 28IstanbulAirport43ISIS

Rawan dan masifnya aksi terorisme di Turki ini disebabkan meningkatnya ketegangan Turki terhadap ISIS dan gerakan separatis Kurdi sepanjang dua tahun ini. Ketegangan Turki dengan ISIS dimulai dari langkah Turki untuk turut serta dalam koalisi Amerika dalam melawan ISIS bulan Juli 2015 lalu, tak lama setelah terjadinya bom bunuh diri di Suruc. Sedangkan ketegangan dengan Kurdi (baik kelompok TAK, PYD dan YPG) mulai intensif ketika rakyat Kurdi semakin kuat menyuarakan pemisahan diri dari Turki. Turki umumnya tidak memiliki masalah dengan pihak lainnya sehingga kemungkinan besar terorisme yang dilakukan di Turki adalah berasal dari kedua pihak tersebut.

Adapun tidak adanya klaim tanggung jawab atas serangan terbaru terhadap Bandara Ataturk menimbulkan tanda tanya besar. Teror terhadap bandara ketiga tersibuk di Eropa itu seharusnya dapat menjadi prestasi besar yang mestinya diklaim untuk menambah kredibilitas dan deterensi kelompok teroris yang melakukannya di mata komunitas internasional. Pasalnya sebelumnya, dalang teror di Paris, Perancis dan Brussel, Belgia yang sangat terorganisir langsung diklaim oleh ISIS (BBC, 2016). Alhasil kredibilitas serta deterensi ISIS di Eropa dan dunia meningkat drastis pasca media internasional berduyun-duyun meliput dua kejadian tersebut. Serangan terbaru di Dhaka, Bangladesh (1/7/2016) yang berujung pada terbunuhnya 20 sandera juga cepat sekali diklaim oleh ISIS, bahkan juga oleh Al Qaeda (Al Jazeera, 2016).

Jikalau memang benar ISIS adalah pelaku serangan bandara tersebut, ada dua kemungkinan mengapa kelompok itu tidak mengklaim serangan. Pertama, ISIS menghindari serangan balasan langsung dari Turki yang dapat membahayakan eksistensi kelompok tersebut. Ini dilakukan karena secara geografis, Turki dapat dengan mudah melintasi Suriah dan Irak untuk meletakan boots on the ground dari pasukan militer mereka. Serangan terhadap bandara Turki adalah deklarasi perang yang membahayakan ISIS sendiri, apalagi kini mereka sedang banyak dilanda kekalahan di kota-kota yang mereka duduki di Irak dan Suriah, seperti misalnya Fallujah yang baru-baru ini direbut tentara Irak atau Palmyra yang Maret lalu sudah dipenetrasi oleh pasukan pemerintah Suriah.

Kedua, ISIS ingin mengacaukan kebijakan-kebijakan Turki setelah serangan tersebut. Banyak yang mengaitkan bahwa serangan ini adalah respons dari menghangatnya hubungan Turki-Israel dan Turki-Rusia. ISIS diduga tidak ingin hal itu terjadi. Selain itu, di dalam negeri Turki sendiri pemerintahan yang dipegang AKP mendapat tekanan kuat dari oposisi untuk segera mengatasi krisis serangan-serangan yang terjadi. Selama ini Turki lebih berkonsentrasi untuk melawan Assad ketimbang ISIS. Bahkan setelah serangan Bandara Ataturk terjadi, Erdogan tetap menyatakan bahwa Assad adalah teroris yang lebih berbahaya ketimbang PYD, YPG ataupun ISIS. Alasannya, Erdogan menuding bahwa Presiden Suriah tersebut telah bertanggung jawab atas terbunuhnya 600.000 warga Turki dan akar masalah dari perang di Suriah selama ini (Al-Arabiya, 2016).

Tudingan kuat serangan Bandara Ataturk memang mengarah sementara kepada ISIS, ini telah dikuatkan oleh pernyataan resmi kenegaraan Turki baik dari Presiden Erdogan maupun Perdana Menteri Binali Yildrim (Letsch & Graham-Harrison, 2016). Menurut laporan salah satu sumber pemerintahan, setelah adanya penyelidikan, pelaku lapangan dalam teror bandara ini berjumlah 3 orang, masing-masing merupakan warga negara Rusia, Uzbekistan and Kyrgyztan (Butler & Antidze, 2016). Karakteristik serangan teror terhadap area publik yang menjadi tempat berkumpulnya masyarakat sipil dengan keamanan tingkat tinggi juga merupakan satu petunjuk yang mengarah pada pola-pola serangan yang biasanya ditarget oleh ISIS. Ini berbeda dengan serangan milisi Kurdi yang biasanya menarget instrumen kenegaraan seperti fasilitas militer atau anggota kepolisian.

Hingga kini, serangan teror tak bertuan yang diharapkan dapat mengacaukan Turki dan kebijakannya, agaknya belum terlalu signifikan dampaknya. Selama investigasi berlangsung, Turki tetap mengoperasikan Bandara Ataturk hari esoknya setelah serangan terjadi. Ini tindakan yang berbeda dengan respons Belgia yang membuka Bandara Brussel 12 hari setelah serangan teror terjadi. Turki juga masih tetap dengan pendiriannya memprioritaskan kebijakan untuk menjadi antidot Assad di Suriah, sembari menyelesaikan permasalahan separatisme Kurdi dan teror ISIS. Hanya saja barangkali ke depannya, kebijakan mengenai imigrasi dan emigrasi Turki perlu sedikit diperketat, mengingat Turki selama ini telah menjadi tempat persinggahan strategis para milisi asing sebelum memasuki Suriah dan Irak bergabung dengan ISIS.

Referensi:

Almukhtar, S., Bloch, M., Buchanan, L., Fessenden, F., & Lai, K. K. (2016, Juni 30). Airport Attack in Istanbul Is the Latest in a Year of Terror in Turkey. Retrieved from The New York Times: http://www.nytimes.com/interactive/2016/06/28/world/middleeast/turkey-terror-attacks-bombings.html?_r=0

Arabiya, A. (2016, Juli 3). Erdogan calls Assad a ‘more advanced terrorist’ than ISIS. Retrieved from Al Arabiya: http://english.alarabiya.net/en/News/2016/07/03/Erdogan-calls-Assad-a-more-advanced-terrorist-than-ISIS.html

BBC. (2016, April 9). Paris and Brussels bombers’ links uncovered. Retrieved from BBC: http://www.bbc.com/news/world-europe-35879401

Butler, D., & Antidze, M. (2016, Juli 1). Two suspects in Istanbul attack identified as Russian: Turkish media. Retrieved from Reuters: http://www.reuters.com/article/us-turkey-blast-arrests-idUSKCN0ZH3ZT

Jazeera, A. (2016, Juli 3). Bangladesh attack: Twenty hostages killed, army says. Retrieved from Al Jazeerea: http://www.aljazeera.com/news/2016/07/bangladesh-police-storm-restaurant-rescue-hostages-160702024753170.html

Letsch, C., & Graham-Harrison, E. (2016, Juni 30). Istanbul airport attack: Isis behind deaths of at least 41, PM says – as it happened. Retrieved from The Guardian: https://www.theguardian.com/world/live/2016/jun/29/istanbul-ataturk-turkey-airport-attack-explosions-rolling-report-updates

(dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran. Pengamat Timur Tengah.

Lihat Juga

Negara-negara Eropa Dukung Penuh Turki Usut Tuntas Kasus Khashoggi