Home / Keluarga / Pendidikan Anak / Cara Bijak Menyikapi Anak yang Suka Bermain

Cara Bijak Menyikapi Anak yang Suka Bermain

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (asswat.be)
Ilustrasi. (asswat.be)

dakwatuna.com – Sama halnya seorang suami butuh bekerja untuk menafkahi keluarganya dan seorang ibu butuh keahlian memasak untuk memasakkan suami dan anaknya. Bermain bagi seorang anak adalah suatu kebutuhan. Semua akan berjalan harmonis jika kebutuhannya terpenuhi. Dengan bermain anak bebas mengekspresikan segala potensi yang ada dalam dirinya dan menyalurkan semua energinya sehingga bisa tertawa lepas. Bahkan menurut Sylva, Bruner dan Paul menyatakan bahwa dalam bermain prosesnya lebih penting dari pada hasil akhirnya, karena tidak terikat dengan tujuan yang ketat.

Agar anak mendapatkan esensi dari bermain, tidaklah mesti menggunakan alat-alat bermain yang mahal seperti halnya mobil-mobilan remote control, game playstation, ataupun gadget. Bermain benteng (jaga) dan kejar-kejaran merupakan salah satu permainan yang dapat merangsang anak menjadi aktif dan mengajarkan anak untuk bersosialisasi dan berkompetisi yang mampu mengembangkan kecerdasan emosionalnya.

Alat-alat bermain yang mahal yang biasa digunakan oleh anak-anak perkotaan (golongan menengah ke atas) juga tidak semuanya memiliki sisi edukatif. Bahkan akan membawa pengaruh negatif jika tanpa disertai bimbingan orang tua.

Kecenderungan orang tua membelikan anaknya permainan yang mahal ketimbang membuatkan permainan tradisional bukanlah sesuatu hal yang salah. Asalkan permainan tersebut mampu menumbuhkan kreativitas, rasa sosial, dan dapat mengembangkan potensi yang dimiliki anak dengan baik.

Peran orang tua bukanlah hanya untuk menyediakan permainan untuk anaknya. Tetapi juga harus membimbing dalam penggunaannya. Contohnya seperti penggunaan gadget yang begitu mudah mengakses berbagai macam game online, orang tua harus menjelaskan kepada sang anak nilai-nilai yang harus diambil dari permainan itu agar anak tidak mengartikan sendiri sesuka hati.

Begitupun juga bila orang tua ingin mengarahkan anaknya agar menggunakan benda-benda di sekitarnya sebagai alat bermain. Penting kiranya orang tua menjelaskan benda-benda yang tersedia di alam ataupun barang bekas dapat digunakan sebagai alat bermain, seperti daun kelapa sebagai kincir angin, batu kerikil untuk bermain batu-lontar, ataupun kardus untuk mobil-mobilan dan pesawat terbang. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Guru Konsultan Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa

Lihat Juga

UNICEF: Di Yaman, Satu Anak Meninggal Setiap 10 Detik

Organization