Home / Berita / Opini / Pemuda di Antara Alkohol, Parenting, Pergaulan, dan Psikologis

Pemuda di Antara Alkohol, Parenting, Pergaulan, dan Psikologis

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Waspadai perubaha prilaku pada anak (ilustrasi) - (Foto: worl-in-news.com)
Waspadai perubaha prilaku pada anak (ilustrasi) – (Foto: worl-in-news.com)

dakwatuna.com – Para pelaku kejahatan terhadap Yuyun, semuanya terhitung usia remaja (Adolescene, 12-18 tahun) dalam teori perkembangan psikosial Erikson disebut fase (Identity vs. Role confusion),  yaitu peralihan dari anak-anak ke dewasa. Remaja ini akan mengkaji kembali identitasnya dan mencari siapa dirinya (Berk, 2009). Mereka (remaja) senang mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan  untuk membentuk identitasnya berdasarkan hasil dari eksplorasinya. Namun jika terjadi kegagalan dalam membangun identitasnya di dalam masyarakat dapat menyebabkan kebingungan peran (saya tidak tahu apa yang saya mau ketika saya besar) (Bee, 1992), yang akhirnya terjerumus ke dalam arus ‘ketidakjelasan’, mental [AKAK] ‘ayo diajak ke sana, ayo diajak ke sini’.  Mending jika mereka diajak ke dalam lingkungan safety, jika tidak mereka akan masuk ke dalam pergaulan seperti ke-14 pelaku di atas.

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Sebelum melakukan aksinya mereka melakukan pesta miras dan beberapa orang melihat video porno dari ponselnya (Tempo, 2016; Republika, 2016; Kompas, 2016, Detik, 2016; Okezone, 2016; Liputan6, 2016). Miris bukan pemuda-pemuda tanggung itu sudah ‘ngerti’ tentang miras yang dilakukan kolektif-na’udzubilaah semoga tidak terulang lagi. Lebih tragis mereka merencanakan perbuatan bejat, yang dimotori kakak kelas korban, di kebun yang sering dilewati korban. Ke mana otak mereka? Tidak usah menanyakan otak mereka, mereka seperti tak berakal, tak berperasaan, kepala mereka telah dipenuhi imajinasi dan khayalan alkohol. Tidaklah meleset apa yang ada di dalam Al-Quran.

Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, mengundi nasib dengan anak panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” (QS. Al-Maidah[5]:90)

Poin yang ingin disampaikan adalah efek dari alkohol, di mana alkohol akan mempengaruhi serotonin di dalam otak (neurotransmitter). Ketika efek serotonin dilemahkan oleh kelebihan alkohol, ketidakseimbangan kimia mengakibatkan agresif perilaku yang menjurus kepada penurunan moral, peningkatan impulsif, perlambatan pemikiran dan nalar (Roland, 2010). Peristiwa ini membawa perubahan kepribadian seketika secara drastis, pecandu menjadi mementingkan diri sendiri, egois, bahkan rentan terhadap suasana hati dan perilaku agresif. Pantas saja hal itu yang terjadi pada para ‘ababil’ bejat itu. Sungguh, alkohol tidak ada kemaslahatan di dalamnya. Ingin rasanya saya ajak mereka ke rumah sakit tempat saya praktik sekarang, biar mereka tahu efek panjang alkohol, perut membesar, liver yang mengeras, hanya kulit yang tinggal di badan, sulit BAK, sulit BAB, nafas yang satu-satu, tinggal menunggu ‘panggilan-Nya’.

Pemuda, dalam Al-Quran disebut dengan istilah An-Naba a’ (An-Naba a’ oleh Allah disebut untuk peristiwa-peristiwa besar, salah satunya peristiwa Ashabul Kahfi) (KH. Jujun Junaedi). Pemuda bisa menjadi penggerak/ obat/ positive revolusioner/ kelompok elit tetapi bisa menjadi racun/ destruction maker. Ada slogan: “pemuda zaman dulu gagah berani, pemuda zaman sekarang berani menggagahi”-na’udzubillah. Pemuda ibarat tanah liat bisa dibentuk jadi apa saja.

Bagaimana caranya agar menjadi bentuk yang baik? Pertama adalah aqidah, penanaman aqidah diterapkan saat ia masih dalam kandungan, dilanjutkan saat berusia dini, dalam keperawatan anak disebut dengan prenatal education. Pupuk dengan aqidah agama yang baik agar bertumbuh menjadi pohon yang berdaun rindang dan berbuah manis. Aqidah dijadikan kompas, bersama dengan ilmu  pengetahuan yang terus ditingkatkan, agar bisa diarahkan untuk kebaikan dunia akhirat. Kedua peran orangtua, terutama Ibu, al’ummu madrosatul ‘ula (Ibu adalah sekolah pertama anak). Hatinya diisi dengan akhlak dan budi tidak dengan kognitif saja. Ketiga pergaulan, carilah teman yang jika ia dekat denganmu selalu mengingatkan pada kebaikan bukan mencari yang selalu ‘sekedar’ mendukungmu. Keempat media, jika boleh saran, orangtua tidak usah memberikan gadget pada anak sampai bisa dijamin ia memiliki filter pembeda yang matang. Ngeri liat mudahnya akses informasi dapat didapatkan dalam hitungan detik, Alhamdulillah jika informasi yang diakses adalah hal positif, tapi jika seperti kejadian di atas, na’udzubillah. Dan hindari tontonan-tontonan televisi yang jauh dari nilai pendidikan moral, tidak perlu disebutkan judul sinetron atau FTV-nya, saya kira sudah diketahui semuanya.

Semoga kejadian kasus adik Yuyun ini menjadi perhatian pribadi kita semua, pemerintah pusat sebagai policy maker, pemerintah daerah dan pihak yang mempunyai power sesuai kapasitasnya.

Mudah-mudahan adinda Yuyun ditempatkan di Surga Allah yang Maha Indah. Orang tua diberikan ketabahan berlipat, serta kekuatan iman dan psikologis yang kuat. Aamiin. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswa profesi Ners 2015 FIK UI.

Lihat Juga

Aresta VIII (dok. dakwatuna.com)

Ajang Remaja Berprestasi 14: Genggam Dunia dengan Impianmu, Ubah Dunia dengan Potensimu