Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ketika Waktu yang Berbicara

Ketika Waktu yang Berbicara

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Nurhasanah)
Ilustrasi. (Nurhasanah)

dakwatuna.com – Keegoisan kami pada masa lampau kini menjadi memori yang cukup baik tersimpan di otak. Kenangan ini sudah tersusun rapi untuk diceritakan kembali kepada anak kami. Bahwa kakak beradik yang dahulu bak air dan minyak, memiliki cerita terbaik.

Apa rasanya menjadi anak tunggal? Tanpa seorang kakak atau adik di dalam satu keluarga. Menjadi anak satu-satunya. Disayang dan dimanja oleh orang tua, menjadi anak emas pastinya. Tidak perlu berbagi apapun pada saudara kandungmu sendiri. Kalau hanya memiliki satu atau dua saudara, jika empat, lima, atau sepuluh bersaudara bagaimana? Tidak pernahku bayangkan.

Benciku kepadanya dulu tiada tara. Anak kecil yang hyperactive dan jahil kepada semua orang sekarang menjadi sosok laki-laki dewasa yang hebat dan pantang menyerah. Asam garam masa remaja yang ia lewatkan dulu menjadi kenangan hebat yang ia ciptakan. Tanpa ia sadari pengalamannya menjadi pelajaran untukku, adik semata wayangnya.

Keinginanku akan menjadi anak tunggal sekarang terpenuhi. Awal tahun setelah ulang tahunnya ia merantau ke pulau Sumatera. Memang tidak sepenuhnya aku menjadi anak tunggal. Hanya untuk satu hingga dua tahun ia meninggalkan rumah dengan kemungkinan cuti yang sangat kecil katanya.

Penantian yang berbuah sangat manis untuknya, setelah berbulan-bulan ia mencari pekerjaan yang cocok untuknya, sekarang ditunjukkannya kepada orang tuaku bahwa anak sulungnya kini dapat dibanggakan kepada orang banyak. Keegoisanku dulu terjawab sekarang, menjadi anak tunggal bukanlah yang aku inginkan. Dijaga dan dilindungi oleh sosok kakak laki-lakilah yang aku butuhkan.

Jika masa lalu yang kami lewati adalah kenangan. Maka kenangan itu sudah menjadi skenario Tuhan yang sangat indah. Pertengkaran dan perdebatan kakak laki-laki dan adik perempuan yang tiada habisnya menjadi memori terbaik kami. Keceriaan dan senyum jahilmu yang menghangatkan suasana rumah sangat dirindukan oleh kami.

Jika rupa tidak berjumpa, aku, Ayah dan Ibu di rumah hanya dapat mengirimkan hadiah terbaik kami, yaitu doa. Sehat-sehat dirimu anak laki-laki yang sudah dewasa kini, kokohkan imanmu oleh terpaan angin di luar sana, dan jadilah kebanggaan bagi keluarga, Bang. (dakwatuna.com/hdn)

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan (Jurnalistik).

Lihat Juga

Ibu, Cintamu Tak Lekang Waktu

Figure
Organization