Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Jodoh Musim Hujan

Jodoh Musim Hujan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (forwallpaper.com)
Ilustrasi. (forwallpaper.com)

dakwatuna.com – Selepas musim kemarau pergi, Awan di langit sering menggoda makhluk-makhluk kecil di pelataran bawah. Semakin lama, makhluk kecil di bumi mulai bosan menunggu karena Awan hanya mengumpul, mendung, kemudian bercerai-berai lagi. Hujan tak kunjung menampakkan butiran beningnya.

Ke manakah Hujan?

Ternyata Hujan sedang menghadap Tuhan. Mengadu perihal nasibnya yang masih sendiri. Meski sahabatnya, Awan sudah memanggil-manggil namanya namun Hujan masih enggan muncul. Hujan benar-benar merasa kesepian. Ia butuh pendamping yang tepat untuk muncul di musim ini. Tuhan tersenyum. Kemudian Tuhan sediakan pilihan 3 dewi langit yang bernama Pagi, Siang, dan Sore. Tuhan pun menjelaskan karakteristik dari ketiganya.

“Ada 3 pilihan dewi langit yang siap mendampingimu. Dewi langit pertama bernama Pagi. Dia sangat cantik dan menyejukkan. Dewi langit kedua bernama Siang. Dia sangat berkilau, ceria dan bersemangat. Dewi langit ketiga bernama Sore. Dia tidak secantik Pagi dan tidak sesemangat Siang, namun dengan redupnya dia cukup menenangkan. Jadi siapa yang kau pilih?”

“Tuhan, aku bingung memilih antara Pagi atau Siang. Aku serahkan pada-Mu sajalah keputusannya,” Hujan berpasrah.

“Baiklah, Aku pilihkan Sore untukmu.”

“Hlooo…” Hujan kaget dengan keputusan itu tapi Hujan tidak mampu protes lagi karena dia memang telah menyerahkan keputusan itu pada Tuhan.

Setelah itu Tuhan menjelaskan banyak mengenai karakter dan sifat Sore. Berharap Hujan perlahan bisa menerimanya.

“Aku akan pertemukan kalian di Jogja, di Jalan Kaliurang lebih tepatnya. Setelah ini, akan aku kirim kau kepadanya.”

Hujan mengangguk. Mengingat kata suram, dia membayangkan bagaimana rupa Sore itu.

“Apakah akan mirip dengan Ibu Suri Malam yang sangat kelam itu?” batinnya.

Dengan bantuan Awan dan punggawa langit yang bernama Angin, Hujan akhirnya sampai di Jogja dan bertemu dengan Sore. Sore yang berpenampilan biasa saja menyambutnya dengan takjub. Sore masih tidak mengerti mengapa dia yang dipilih Tuhan untuk Hujan. Namun, Sang Bijak Takdir menjelaskan setelah ijab qabul selesai.

“Ini sudah menjadi titah Tuhan untuk menyatukan kalian,” kata Sang Bijak Takdir.

“Wahai Hujan, sesungguhnya aku masih tidak mengerti mengapa aku yang dipilih untukmu,” kata Sore.

“Hai Sore, Tuhan memang telah menceritakan tentangmu padaku. Tentang redupmu yang sering mempengaruhi keadaan psikologis manusia menjadi galau. Ditambah lagi dengan hadirku yang membuat galau itu semakin menjadi-jadi. Sungguh kolaborasi kita akan membuat manusia malah bermuram durja. Tidak ada manusia yang akan tersenyum menyambut kita.”

“Tapi kata Tuhan, kita harus bersabar. Ada sisi lain dari kita yang nanti akan membuat manusia tersenyum,” Hujan menenangkan.

Awan mendampingi keduanya. Bergumpal-gumpal menutupi langit. Punggawa langit, Angin, juga setia mendampingi mereka. Siap sedia jika mereka perlu bantuan.

Sementara di daratan Jogja, keributan manusia berlomba dengan suara derasnya Hujan.

“Tiiin, tiiin, tiiin,” klakson mobil dan motor bersahutan di sepanjang jalan Kaliurang.

“Yah, udah hujan. Mana macet banget ni Jogja sekarang,” umpat seorang tukang ojek yang berdiri di motornya melihat antrian panjang kendaraan di depannya yang sudah sejak tadi berhenti.

“Huh, capek! Dari kantor pulang-pulang malah kehujanan kayak gini. Macet total lagi! Sial!” umpat seorang perempuan dari dalam mobilnya.

“Kejebak macet di jam pulang kerja sambil kehujanan. Duh, nasib, nasib,” seorang ibu sepulang berdagang mengeluhkan keadaannya. Dia melirik sisa dagangannya yang sudah basah kuyup meski mantol sudah ia bentangkan di atasnya.

Napa pake hujan sih?” protes pemuda berseragam SMA yang sudah basah kuyup. Dia menyesal pulang terlambat hari itu.

Angin bertiup kencang di kota Jogja. Mengusap lembut semua yang ada di dalamnya. Kemudian ia ke atas lagi. Melapor pada Hujan dan Sore tentang apa yang ia dengar.

“Wahai Hujan. Manusia di bawah sana mengeluh karena kehadiranmu bersama dengan Sore. Apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki keadaan itu?”

“Tuhan tadi memerintahkan bersabar. Karena setelah semua ini nanti akan ada yang membuat mereka tersenyum,” jawab Hujan. Meski Hujan juga belum tahu apa itu.

Setelah Hujan berkata seperti itu, perlahan, putri cantik mereka nampak. Awan menepi, menyediakan langit yang bersih untuk altar tempat kelahirannya. Awalnya ia hanya terlihat samar dan semakin lama semakin jelas. Senyumnya melengkung indah sempurna. Ia penuh warna nan cantik jelita. Pesonanya luar biasa sehingga mengalihkan semua perhatian manusia ke langit. Mereka yang awalnya mengumpat atau sibuk dengan urusannya, satu dua mulai mendongak. Tersenyum. Menunjuk-nunjuk. Bahkan memotretnya. Dia sangat cantik. Menyapa dunia dari ufuk timur. Dia bernama Pelangi Timur.

Yogyakarta, Desember 2015
Persembahan ini untuk
hujan yang datang setiap sore
di Jalan Kaliurang, Jogja.

(dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Mahasiswi S1 Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada || Team Research Disaster Nursing || Peserta PPSDMS Regional 3 Yogyakarta angkatan 7 || Lahir di Gunungkidul tahun 1995 ||

Lihat Juga

Manisnya Ramadhan

Organization