Home / Berita / Opini / Pudarnya Pesona Pemahaman Keislaman yang Murni

Pudarnya Pesona Pemahaman Keislaman yang Murni

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (tr.forwallpaper.com)
Ilustrasi. (tr.forwallpaper.com)

dakwatuna.com Negara Indonesia yang dulunya dikenal dengan negara yang cinta damai dan saling menghormati keanekaragaman ras, suku serta agama, namun kini setelah munculnya era reformasi semuanya berubah. Karena di dalam era reformasi, kita bebas mengemukakan pendapat tapi hal tersebut malah menjadi sesuatu yang mudah menimbulkan konflik sehingga dapat membuat dan merusak perpecahan bangsa kita sendiri, yang selama ini dianggap rukun. Perpecahan itu bisa terjadi dikarenakan adanya banyaknya pemahaman agama yang diberikan dan disampaikan para ahli ulama kepada umatnya. Saking banyaknya perbedaan pemahaman, ternyata bukan membuat diri kita menjadi lebih baik di mata Tuhan namun menjadikannya semakin sesat, sehingga di negeri kita tercinta bermunculan aliran-aliran sesat seperti Salamullah/Lia Eden, Al-Qiyadah Al-Islamiyah, Surga Adn, dan terbaru Gafatar (gerakan fajar nusantara) yang kini telah meresahkan masyarakat belakangan ini.

Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang masih hangat dibicarakan itu merupakan organisasi yang yang mengklaim bergerak di bidang sosial dan budaya. Gerakan ini memiliki wadah dalam situs Gafatar.org. Situs yang terdaftar sejak 2011 masih berlaku hingga Oktober 2016. Visi, misi, tujuan dan program kerja organisasi kemasyarakatan ini sama sekali tak menyebutkan nama satu agama. Sementara dalam dasar pemikiran Gafatar tersebut dituliskan bahwa bangsa Indonesia disebut belum merdeka seutuhnya dari sistem penjajahan neokolonialis dan neoimperialis. Dengan adanya pernyataan itu seakan membuat mereka menjadi terpicu untuk berbuat. Bahkan, mereka tak bisa duduk diam tanpa melakukan apa-apa untuk kemajuan dan kejayaan bangsa. Lebih parahnya lagi, organisasi yang terdaftar di Pemerintah Provinsi Maluku Utara pada 2012 lalu itu dianggap telah mengajarkan berbagai aliran yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang dikandungnya, di antaranya melarang orang Islam menunaikan salat, zakat dan puasa. Dan paling mengejutkannya, kita tidak perlu melaksanakan ketiga hal tersebut nantinya tetap akan masuk surga. Hal inilah merupakan pemahaman agama yang benar-benar telah mencoreng dan melenceng jauh dari makna ajaran Islam yang sebenarnya. Pasalnya, di dalam ajaran Islam yang sesungguhnya kita sebagai muslim harus wajib melaksanakan perintah Tuhan terutama salat lima waktu disertai salat sunnah, puasa, zakat dan amalan-amalan Islam yang lainnya yang tercantum pada rukun Islam dan iman.

Namun dengan adanya gambaran aliran sesat yang semakin meresahkan masyarakat itu sebenarnya hanya ingin mencari dan mendapatkan pengakuan dari massa untuk terlibat di dalam organisasinya. Karena sejatinya, aliran-aliran sesat yang telah menyebar luas di Indonesia hanya ingin merusak kemurnian keislaman yang telah dianut dan dipelajari sejak dulu, yang mana berpedoman pada Alquran dan Hadist. Dari sekian banyak aliran sesat yang bermunculan, aliran sesat Gafatar inilah yang kemungkinan dianggap meresahkan masyarakat pada umumnya, karena pemahaman tersebut benar-benar sudah melenceng dari garis syariat keutamaan Islam yang sesungguhnya. Munculnya aliran-aliran sesat semacam ini biasanya seseorang yang memiliki tingkat pemahaman tentang Islam baru separuhnya dan belum memahami secara mendalam. Jika seseorang yang memahami makna Islam secara mendalam dan ditambah imannya kuat tentunya hal-hal seperti ini tidak akan pernah terjadi.

Selain pemahaman Islam yang masih terbilang setengah, juga bisa dikatakan tingkat keimanan terhadap keyakinan agama yang dimiliki masing-masing individu atau kelompok tesebut cenderung lemah, sehingga mudah dipengaruhi oleh hal-hal buruk yang bisa membawa pikiran mereka semakin tersesat. Penyebab lainnya adalah kerap mengadakan perkumpulan antar kelompok yang tidak jelas secara tertutup dan hal itu membuat masyarakat di sekitar kita menjadi was-was, lantaran dapat menimbulkan aksi-aksi terorisme yang semakin marak di pemberitaan. Apalagi, aliran-aliran sesat itu biasanya mengambil korban untuk dijadikan pengikutnya adalah para generasi muda seperti mahasiswa, di mana sikap dan pendirian mereka masih cenderung berubah-ubah sehingga mudah sekali diajaknya, dengan diiming-imingi sesuatu yang menggiurkan atau kegiatan yang berbentuk sosial agar tidak curiga. Gerakan dari aliran dengan pemahaman tanpa dasar yang kuat serta egoistik sebagai sumber ideologi mereka inilah yang menjadikan pudarnya pesona agama dalam ranah sosial. Dan terorisme memiliki peranan utama dalam proses peredupan pesona tersebut.

Sulitnya menggambarkan agama sebagai agen perdamaian dalam realitas sosial kekinian sangatlah beralasan. Karena realitas sosial-keagamaan akhir-akhir ini telah terbungkus lumayan tebal dengan aksi kekerasan, intimidasi, serta teror. Sebuah bentuk aksi atau gerakan yang lahir dari sikap keberagamaan yang rigit, kaku, dan ekslusif. Untuk itu, agama perlu memberikan makna ulang guna menjawab problematika sosial yang ada. Serta agama perlu memposisikan kembali fungsi dan visinya bagi para umatnya.

Dengan melihat kondisi yang semakin kritis ini, pemerintah pun harus tetap siap siaga dan berani untuk segera memerangi para pemimpin aliran-aliran sesat yang berujung pada aksi-aksi terorisme yang berkelanjutan di kemudian hari. Lalu, melakukan penyadaran terhadap pelaku penyimpangan dalam penistaan agama. Disamping itu, kita juga perlu bekerja sama dengan para ulama dalam memberikan penyuluhan agama yang mudah dimengerti dan mengasyikkan. Di antaranya, dengan menggunakan bahasa yang mudah dicerna masyarakat agar lebih paham daripada mungkin ada sebagian da’i yang menggunakan bahasa terlalu tinggi yang jarang dimengerti untuk masyarakat-masyarakat pada umumnya membuat ajaran yang disampaikannya tidak efektif. Selanjutnya, dibuatlah ceramah yang menyenangkan dan mengasyikkan tapi tetap dalam koridor agama sehingga diharapkan banyak materi yang membekas dalam diri jamaah yang mendengarkan. Karena hal yang menyenangkan membuat diri relax dan dengan itu pikiran hati bisa tenang, santai sehingga ilmu bisa mudah merasuk dalam jiwa seseorang dan hal perlu diketahui peristiwa yang dibarengi emosi akan mudah diingat dan akan lama tersimpan dalam memori manusia terutama hal yang indah dan menyenangkan. (dakwatuna.com/hdn)

Advertisements

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Susanty Retno, SS

Lihat Juga

Islam Agama Terbesar Kedua Di Italia